UPI YAIUPI YAI

Contiguity: Jurnal PsikologiContiguity: Jurnal Psikologi

Regulasi emosi adalah kapasitas individu untuk mengontrol dan menyesuaikan emosi yang timbul pada tingkat intensitas yang tepat untuk mencapai suatu tujuan. Kesulitan dalam mengelola emosi pada diri seseorang biasanya berkaitan dengan emosi negatif yang mempengaruhi tingkat kontrol yang rendah dari pengaruh negatif dan ketidakpuasan pada proses kehidupan. WBP yang memiliki regulasi emosi rendah cenderung tidak mampu menjalin hubungan interpersonal dan sikap yang kurang berhati-hati dalam memberikan respon pada orang lain, sehingga rentan menimbulkan konflik sesama warga binaan dan kesalahpahaman. Para WBP mengalami gejala regulasi emosi rendah seperti: emosi labil, mudah tersinggung, berperilaku kasar, berpikir negatif, sulit bersosialisasi, dan sulit menerima keadaan. Untuk meningkatkan regulasi emosi pada WBP di Lapas Perempuan Kelas IIA Jakarta, dibantu menggunakan terapi realitas dengan teknik WDEP yang dilakukan secara berkelompok sebanyak 10 sesi pertemuan. Hasil pengukuran regulasi emosi menggunakan skala Difficulties in Emotion Regulation Scale-Short Form (DERS-SF) dalam bentuk pre-test dan post-test, sehingga menghasilkan temuan adanya peningkatan regulasi emosi pada WBP sebesar 105% dari kategori rendah menjadi sedang.

Berdasarkan penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa regulasi emosi pada WBP di Lapas Perempuan Kelas IIA Jakarta menunjukkan gejala regulasi emosi yang rendah, seperti emosi labil, mudah tersinggung, berperilaku kasar, berpikir negatif, sulit bersosialisasi, dan sulit menerima keadaan.Penerapan terapi realitas teknik WDEP terbukti efektif dalam meningkatkan regulasi emosi WBP, dengan peningkatan sebesar 105% dari kategori rendah menjadi sedang, yang menunjukkan adanya perbaikan dalam kemampuan mengelola emosi dan beradaptasi dengan lingkungan.

Berdasarkan temuan penelitian ini, beberapa saran penelitian lanjutan dapat diajukan. Pertama, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mengeksplorasi efektivitas terapi realitas teknik WDEP dalam jangka waktu yang lebih panjang, guna mengetahui apakah peningkatan regulasi emosi yang dicapai dapat bertahan dan memberikan dampak positif yang berkelanjutan bagi WBP setelah mereka bebas dari Lapas. Kedua, penelitian dapat difokuskan pada identifikasi faktor-faktor individual dan sosial yang mempengaruhi keberhasilan implementasi terapi realitas teknik WDEP, seperti tingkat motivasi WBP, dukungan sosial dari keluarga dan teman, serta kualitas hubungan antara WBP dan petugas Lapas. Ketiga, pengembangan program intervensi yang lebih komprehensif yang menggabungkan terapi realitas teknik WDEP dengan pendekatan lain, seperti pelatihan keterampilan sosial dan manajemen stres, dapat menjadi arah penelitian yang menjanjikan untuk meningkatkan regulasi emosi dan kualitas hidup WBP secara holistik.

Read online
File size785.92 KB
Pages7
DMCAReport

Related /

ads-block-test