UQUQ

Bad request!Bad request!

Karbon aktif dari kulit kopi merupakan biomassa yang menjanjikan sebagai adsorben karena komposisinya dan ketersediaannya yang melimpah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kinerja karbon aktif dari kulit kopi dalam menurunkan kadar asam lemak bebas (FFA) pada minyak goreng sawit bekas (minyak jelantah). Penelitian ini mengkaji pengaruh konsentrasi kalium hidroksida (KOH), waktu adsorpsi, dan massa karbon aktif. Karbon aktif diproduksi melalui proses karbonisasi pada suhu 300–400ΒΊC, kemudian diaktifkan menggunakan larutan KOH dengan konsentrasi 0 M, 1 M, dan 2 M. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penurunan kadar FFA pada karbon aktif pada berbagai waktu adsorpsi (2, 4, dan 6 jam) masing-masing sebesar 24,219%, 33,828%, dan 46,016%. Semakin lama waktu adsorpsi, semakin besar penurunan kadar FFA. Pada variasi massa karbon aktif (0,1, 0,3, dan 0,5 g) dalam 100 ml minyak goreng sawit bekas, penurunan kadar FFA untuk karbon aktif yang diaktifkan dengan 0 M, 1 M, dan 2 M KOH berturut-turut adalah 40,234%, 47,968%, dan 50,781%. Studi ini menemukan bahwa peningkatan waktu adsorpsi dan massa karbon aktif dari kulit kopi menghasilkan penurunan kadar FFA yang lebih signifikan dalam minyak goreng sawit bekas. Persentase penurunan kadar FFA tertinggi, yaitu 50,781%, dicapai dengan menggunakan karbon aktif yang diaktifkan dengan 2 M KOH dan massa 0,5 gram selama 6 jam waktu adsorpsi. Temuan ini menunjukkan bahwa karbon aktif dari kulit kopi merupakan adsorben yang berkelanjutan dan berpotensi meningkatkan kualitas minyak goreng sawit bekas, sekaligus mengurangi dampak lingkungan serta meningkatkan potensi penggunaannya kembali dalam berbagai aplikasi.

Penelitian ini berhasil menganalisis kinerja karbon aktif dari kulit kopi yang dipengaruhi oleh konsentrasi aktivator KOH, waktu adsorpsi, dan massa adsorben.Semakin tinggi konsentrasi KOH, semakin rendah kadar FFA minyak jelantah.Semakin lama waktu adsorpsi, semakin rendah kadar FFA minyak jelantah.Semakin besar massa karbon aktif kulit kopi yang digunakan, semakin rendah kadar FFA minyak jelantah.Hasil menunjukkan bahwa aktivasi 2 M KOH pada karbon aktif kulit kopi dengan massa 0,5 gram menghasilkan penurunan kadar FFA sebesar 50,781%.

Penelitian lanjutan dapat mengeksplorasi penggunaan bahan baku alternatif seperti limbah kayu atau dedak padi untuk memproduksi karbon aktif dengan karakteristik serupa. Selain itu, perlu dilakukan studi tentang optimasi proses aktivasi dengan kombinasi bahan kimia lain seperti asam sulfat atau asam fosfat untuk meningkatkan efisiensi penyerapan FFA. Penelitian juga bisa fokus pada pengembangan teknologi skala besar untuk aplikasi industri, seperti pengolahan minyak jelantah menjadi bahan baku biofuel atau produk kimia lainnya, dengan mempertimbangkan aspek ekonomi dan keberlanjutan lingkungan.

Read online
File size368.04 KB
Pages7
DMCAReport

Related /

ads-block-test