PRINPRIN

Nusantara: Jurnal Pengabdian kepada MasyarakatNusantara: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat

Indonesia rawan bencana alam karena letaknya yang berada di pertemuan tiga lempeng tektonik aktif. Kondisi ini menyebabkan tingginya aktivitas gempa bumi, gunung api, dan tsunami di wilayah Indonesia. Gunung Kelud merupakan gunung api paling aktif di Indonesia dengan siklus yang berulang setiap 8 sampai 15 tahun sekali. Metode pengabdian masyarakat yang dilakukan adalah melakukan pendataan wilayah, penduduk, sasaran, kapasitas, tingkat kerentanan, dan data empiris letusan Gunung Kelud 2014. Kemudian melakukan analisis, menghitung estimasi kebutuhan logistik kesehatan khususnya kesehatan reproduksi, sosialisasi hasil analisa, dan melakukan edukasi kesiapsiagaan bencana. Kegiatan ini dilakukan selama 6 minggu mulai tanggal 12 Maret sampai 21 April 2025. Berdasarkan hasil pengkajian risiko didapatkan wilayah Kecamatan Ngancar Kabupaten Kediri memiliki skor skala risiko sering, skala dampak parah, serta skala prioritas dan dampak masuk kategori tinggi. Untuk penanggulangan krisis kesehatan dibutuhkan rencana kontingensi khususnya untuk sub kluster kesehatan reproduksi, yang mencakup kesiapsiagaan data sasaran, kapasitas yang ada di wilayah, tingkat kerentanan, dan estimasi jumlah logistik kesehatan yang dibutuhkan untuk antisipasi erupsi Gunung Kelud. Gunung Kelud memiliki pola erupsi periodik dalam 8 sampai 15 tahun. Rencana kontingensi penanggulangan krisis kesehatan erupsi Gunung Kelud ini sangat penting dimiliki oleh para stakeholder pelayanan kesehatan karena dapat meminimalisir dampak buruk yang ditimbulkan, meningkatkan respons cepat, dan memastikan kelancaran koordinasi antar lembaga terkait dalam menghadapi bencana alam tersebut secara efektif dan efisien. Hal ini juga mendukung upaya pengurangan risiko bencana di tingkat komunitas dan memperkuat ketahanan masyarakat setempat.

Besarnya nilai risiko potensi bencana gunung Kelud dengan penilaian risiko probabilitas masuk aktegori sering, menggunakan skala dampak masuk kategori parah, dan menggunakan skala risiko dan dampak masuk dalam kategori risiko sangat tinggi.Kecamatan Ngancar kabupaten Kediri merupakan Kawasan Rawan Bencana (KRB) eruspi gunung Kelut.Ada 2 desa masuk dalam KRB ring 1 yaitu desa sugihwaras dan desa Sempu.Ada 4 desa masuk dalam KRB ring 2 yaitu desa Ngancar, Babadan, Pandantoyo, dan manggis.Ada 4 desa masuk dalam KRB ring 3 yaitu desa Jagul, Kunjang, margourip dan Bedali.Ada 2 desa dari 10 desa yang ada di wilayah kecamatan Ngancar belum memiliki status sebagai desa siaga bencana yaitu desa Jagul dan Pandantoyo.Di kedua desa tersebut belum memiliki kader tangguh bencana dan rute evaluasi yang memadai.Sedangkan di 8 desa lainnya sudah memiliki status sebagai desa siaga bencana, memiliki kader tangguh bencana dan rute evakuasi dengan kondisi jalan yang bagus.Edukasi kebencanaan perlu untuk dilakukan secara berkesinambungan agar masyarakat bisa membangun kewaspadaan terhadap potensi erupsi Gunung Kelud yang bisa terjadi sewaktu waktu.Selain itu rencana kontingensi penanggulangan bencana yang dilakukan perlu ditindaklanjuti dengan melakukan skenario kesiapan, terutama kesiapan klaster kesehatan, khususnya pada klaster kesehatan reproduksi.

Untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi bencana erupsi Gunung Kelud, perlu dilakukan edukasi berkelanjutan secara intensif. Edukasi ini dapat mencakup berbagai aspek, seperti mengenali tanda-tanda peningkatan aktivitas vulkanik, persiapan menghadapi erupsi yang mungkin terjadi sewaktu-waktu, mengenal titik kumpul evakuasi, rute evakuasi, desa partner untuk mengungsi, dan cara penyebarluasan informasi peningkatan aktivitas vulkanik. Selain itu, penting untuk menyediakan kumpulan video edukasi dari berbagai sumber dalam satu link agar masyarakat dapat mengaksesnya dengan mudah kapan saja. Rencana kontingensi penanggulangan bencana juga perlu ditindaklanjuti dengan skenario kesiapan, terutama pada klaster kesehatan reproduksi. Hal ini dapat dilakukan melalui simulasi dan pelatihan yang melibatkan masyarakat, dinas kesehatan, rumah sakit, organisasi kemanusiaan, dan unsur masyarakat lainnya. Dengan demikian, sistem kesehatan akan lebih tangguh dalam merespons bencana dan memberikan pelayanan yang efektif kepada masyarakat terdampak. Selain itu, penting untuk melibatkan masyarakat dalam perencanaan dan pelaksanaan rencana kontinjensi agar lebih efektif dalam menanggulangi krisis kesehatan akibat bencana erupsi Gunung Kelud.

  1. KESIAPSIAGAAN MASYARAKAT TERHADAP KESEHATAN REPRODUKSI DALAM MENGHADAPI SITUASI BENCANA | Batjo | JMM... journal.ummat.ac.id/index.php/jmm/article/view/9584KESIAPSIAGAAN MASYARAKAT TERHADAP KESEHATAN REPRODUKSI DALAM MENGHADAPI SITUASI BENCANA Batjo JMM journal ummat ac index php jmm article view 9584
  2. Menakar Paradigma Penanggulangan Bencana Melalui Analisis Undang-Undang No. 24 Tahun 2007 Tentang Penanggulangan... doi.org/10.24076/jspg.v5i2.1376Menakar Paradigma Penanggulangan Bencana Melalui Analisis Undang Undang No 24 Tahun 2007 Tentang Penanggulangan doi 10 24076 jspg v5i2 1376
  3. Login. 0 e-jurnal.stiebii.ac.id/index.php/ekonomibisnis/article/view/319Login 0 e jurnal stiebii ac index php ekonomibisnis article view 319
Read online
File size1.16 MB
Pages19
DMCAReport

Related /

ads-block-test