STPMATARAMSTPMATARAM

Journal Of Responsible TourismJournal Of Responsible Tourism

Pada akhir Agustus 2025, Indonesia diguncang oleh demonstrasi politik nasional (dipicu oleh kematian seorang pengemudi pengiriman di tangan polisi), yang berubah menjadi kekerasan dan menyebabkan korban jiwa, luka-luka, dan serangan pembakaran terhadap bangunan pemerintah dan komersial. Peristiwa ini menimbulkan kekhawatiran internasional tentang citra keselamatan negara. Artikel ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif, menganalisis sumber sekunder (media berita, rilis pemerintah, dan literatur akademik) untuk memeriksa bagaimana penyelenggaraan MotoGP 2025 di Sirkuit Mandalika dapat berfungsi sebagai strategi penandaan negara untuk melawan persepsi negatif. Dengan menarik teori penandaan negara, konsep citra tujuan, event leveraging, dan Situational Crisis Communication Theory (SCCT), kami menemukan bahwa MotoGP Mandalika 2025 sedang dipromosikan secara aktif oleh otoritas Indonesia sebagai ajang untuk menunjukkan ketahanan dan standar keselamatan negara. Kami membandingkan skenario di mana acara tersebut dibatalkan versus dilaksanakan dengan sukses, berpendapat bahwa pembatalan (tanpa krisis kesehatan yang nyata) akan menunjukkan kelemahan dan merugikan citra negara, sedangkan pelaksanaan akan menandakan kepercayaan dan kemampuan manajemen krisis. Sebagai perisai merek, acara ini dimanfaatkan untuk memperkuat narasi Indonesia sebagai tuan rumah olahraga internasional yang stabil dan aman.

Analisis menunjukkan bahwa demonstrasi Agustus 2025 menimbulkan ancaman jelas terhadap citra keselamatan Indonesia.Insiden kekerasan dan laporan media tentang ketidakstabilan telah menimbulkan kekhawatiran.Dalam hal penandaan negara, hal ini menuntut respons strategis.Penyelenggaraan balapan MotoGP Mandalika 2025 digunakan untuk tujuan ini.sebagai tindakan yang dapat melawan persepsi negatif.Pertama, otoritas Indonesia mengakui bahwa persepsi penting (Antara).[insiden keselamatan] dapat menciptakan persepsi negatif tentang tujuan teratas kami. Kedua, MotoGP Mandalika secara eksplisit dikaitkan dengan kampanye merek Wonderful Indonesia dan dianggap sebagai magnet media (119 outlet media, siaran global).Ketiga, pejabat menekankan keselamatan dan standar kelas dunia kepada pers, menggunakan strategi SCCT secara efektif untuk melindungi reputasi.Rekomendasi kami adalah bahwa pembatalan acara tanpa alasan kesehatan publik yang meyakinkan akan merugikan citra Indonesia lebih dari apa pun ketidakstabilan.Krisis tingkat pandemi di luar itu, protes politik lebih baik ditanggapi dengan menunjukkan ketahanan melalui kontinuitas.Oleh karena itu, pembuat kebijakan harus melanjutkan MotoGP Mandalika 2025 sesuai rencana, mengartikannya sebagai bukti normalitas, dan terus memanfaatkan acara olahraga bergengsi di masa depan untuk penandaan negara.Ini termasuk mempersiapkan pesan komunikasi krisis yang menyeluruh di sekitar acara (misalnya, menyoroti langkah-langkah keamanan, dukungan komunitas, dan keramahan budaya) dan mengoordinasikan kampanye multi-pemangku kepentingan (pemerintah, dewan pariwisata, MGPA) untuk menekankan pesan keselamatan dan sambutan.

Untuk penelitian lanjutan, disarankan untuk mengeksplorasi dampak MotoGP Mandalika 2025 pada citra tujuan Indonesia secara lebih mendalam. Bagaimana persepsi wisatawan internasional berubah setelah acara tersebut? Apakah MotoGP berhasil memperkuat citra Indonesia sebagai tujuan wisata yang aman dan stabil? Selain itu, penelitian dapat menyelidiki strategi komunikasi krisis yang digunakan oleh otoritas Indonesia selama periode ketidakstabilan politik. Bagaimana pesan yang disampaikan kepada publik dan apakah strategi ini efektif dalam melindungi reputasi negara? Akhirnya, studi komparatif tentang bagaimana negara-negara lain menangani situasi serupa dapat memberikan wawasan berharga tentang praktik terbaik dalam penanganan krisis dan penandaan negara.

Read online
File size311.91 KB
Pages8
DMCAReport

Related /

ads-block-test