UMSBUMSB

Tanwir Arabiyyah: Arabic As Foreign Language JournalTanwir Arabiyyah: Arabic As Foreign Language Journal

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis gaya retorika satire (hijā) yang digunakan oleh Ibnu Taymiyyah dalam bukunya yang berjudul Qasīdah Lāmiyah (satire). Karya Ibnu Taymiyyah ini berisi puisi satire yang ditujukan kepada mereka yang mempertanyakan identitas keilmuannya. Dalam Qasīdah Lāmiyah, Ibnu Taymiyyah sering menggunakan gaya retorika satire (hijā) dengan tujuan menyampaikan informasi tentang akidahnya (keyakinan) yang lurus kepada Allah Subhānahu wa Taʿālā. Gaya retorika satire (hijā) yang digunakan oleh Ibnu Taymiyyah memiliki kekuatan edukatif yang dijiwai dengan pujian, mendorong orang untuk memahami dan mengenali identitas keilmuannya. Dalam penggunaan hijānya, Ibnu Taymiyyah bertujuan untuk menegaskan bahwa praktik-praktik Islam yang dianutnya adalah bagian dari mazhab yang diyakininya, yaitu mazhab Hanbali. Gaya retorika satire (hijā) adalah puisi yang digunakan untuk mengejek penyair lain dengan cara yang khas, seringkali dalam bentuk pujian diri atau meremehkan suatu kelompok. Namun, sejak datangnya Islam, gaya ini sering digunakan untuk membela Islam, baik secara individu maupun kolektif, sebagaimana dicontohkan oleh ulama Ibnu Taymiyyah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis isi. Menurut Creswell, analisis isi adalah metode penelitian kualitatif yang digunakan untuk mengidentifikasi pola atau tema spesifik dalam suatu teks. Prosedur analisis data meliputi pengumpulan data, persiapan dan organisasi data, pengkodean data, identifikasi tema, penyajian data dalam bentuk tabel, dan interpretasi data. Hasil analisis menunjukkan bahwa bait-bait puisi hijā ditemukan dalam Qasīdah Lāmiyah, dengan rincian yang menunjukkan 2 jenis al-hijā al-akhlāqī dan 14 bait al-hijā al-dīnī. Selanjutnya, bait-bait puisi hijā tersebut dianalisis lebih lanjut dan aspek-aspek mazhab Hanbali diidentifikasi dalam qasīdah tersebut, yaitu kepatuhan terhadap Al-Quran, Sunnah, perkataan Para Sahabat, dan perkataan Para Tābiīn.

Berdasarkan analisis Qasīdah Lāmiyah oleh Ibnu Taymiyyah, ditemukan dua jenis gaya hijā.al-hijā al-akhlāqī dan al-hijā al-dīnī, yang secara substansial merefleksikan identitas mazhab Hanbali melalui kepatuhan terhadap Al-Quran, Sunnah, perkataan sahabat, dan tabiin.Gaya hijā ini berfungsi sebagai alat untuk membela Islam dan mengkritik pandangan yang bertentangan, sekaligus menegaskan identitas Ibnu Taymiyyah sebagai ulama Hanbali yang berpegang teguh pada ajaran generasi pertama umat Islam.Dengan demikian, hijā bukan sekadar puisi kritik, melainkan sebuah platform penting untuk mempertahankan ajaran Islam secara luas, baik pada tingkat individu maupun kolektif.

Penelitian ini telah membuka pemahaman baru tentang penggunaan gaya hijā oleh Ibnu Taymiyyah dalam Qasīdah Lāmiyah untuk menegaskan identitas mazhab Hanbali. Untuk memperkaya kajian ini, ada beberapa arah penelitian lanjutan yang bisa dieksplorasi. Pertama, menarik untuk melakukan studi perbandingan yang lebih luas mengenai gaya retorika hijā yang digunakan oleh ulama atau penyair Muslim terkemuka lainnya dari berbagai periode sejarah. Pertanyaan kuncinya adalah: apakah ada perbedaan signifikan dalam cara mereka menggunakan hijā, dan bagaimana perbedaan atau kesamaan ini mencerminkan konteks sosial, politik, atau teologis pada masanya? Hal ini dapat membantu kita memahami evolusi dan adaptasi gaya hijā dalam berbagai lingkungan keilmuan Islam. Kedua, penting untuk meneliti dampak Qasīdah Lāmiyah secara spesifik terhadap pemahaman kontemporer tentang Ibnu Taymiyyah. Bagaimana karya satire ini diterima dan ditafsirkan oleh akademisi dan masyarakat Muslim saat ini, terutama dalam kaitannya dengan identitas mazhab Hanbali dan gagasan moderasi yang diusungnya? Penelitian ini bisa menggali resepsi Qasīdah Lāmiyah di era modern dan apakah masih relevan dalam membentuk pandangan tentang Ibnu Taymiyyah. Ketiga, disarankan untuk melakukan analisis linguistik dan retorika yang mendalam terhadap karya-karya Ibnu Taymiyyah lainnya, terutama yang berbentuk prosa atau risalah. Apakah terdapat gaya bahasa retorika lain selain hijā yang dominan digunakan, dan bagaimana gaya-gaya tersebut berperan dalam penegasan identitas keilmuannya atau penyampaian prinsip-prinsip mazhab Hanbali dalam konteks yang berbeda? Ini akan memberikan gambaran yang lebih komprehensif tentang kekayaan ekspresi dan strategi komunikasi keilmuan Ibnu Taymiyyah. Ketiga ide ini akan memperluas cakrawala penelitian dan memberikan kontribusi berarti bagi studi Islam.

  1. Gaya Bahasa al-Iltifat al-Mu’jami dalam al-Qur’an | Arabiyatuna:... journal.iaincurup.ac.id/index.php/ARABIYATUNA/article/view/1357Gaya Bahasa al Iltifat al MuyCEjami dalam al QuryCEan Arabiyatuna journal iaincurup ac index php ARABIYATUNA article view 1357
  2. GAGASAN MAQASHID SYARIAH DAN EKONOMI SYARIAH DALAM PANDANGAN IMAM IBNU TAIMIYAH DAN IMAM IBNU QAYYIM... jurnal.umj.ac.id/index.php/taraadin/article/view/14819GAGASAN MAQASHID SYARIAH DAN EKONOMI SYARIAH DALAM PANDANGAN IMAM IBNU TAIMIYAH DAN IMAM IBNU QAYYIM jurnal umj ac index php taraadin article view 14819
  3. DISKURSUS EKONOMI ISLAM IBNU TAIMIYAH | JSE: Jurnal Sharia Economica. diskursus ekonomi islam ibnu taimiyah... doi.org/10.46773/jse.v2i2.711DISKURSUS EKONOMI ISLAM IBNU TAIMIYAH JSE Jurnal Sharia Economica diskursus ekonomi islam ibnu taimiyah doi 10 46773 jse v2i2 711
Read online
File size1.44 MB
Pages20
DMCAReport

Related /

ads-block-test