UNIMAUNIMA

KOMPETENSIKOMPETENSI

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan mendeskripsikan eksistensi, perkembangan, serta tantangan yang dihadapi para dekorator bunga hias di Kota Tomohon. Dengan pendekatan kualitatif, penelitian ini menggali informasi historis, sosial, ekonomi, dan kultural terkait profesi dekorator bunga yang telah berkembang sejak tahun 1970-an di wilayah Kecamatan Tomohon Utara, khususnya Kelurahan Kakaskasen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa profesi dekorator telah menjadi bagian integral dari budaya dan ekonomi masyarakat, terutama melalui event berskala internasional seperti Tomohon International Flower Festival (TIFF). Selain memberikan penghasilan yang layak bagi para pelaku usaha, aktivitas dekorasi bunga juga menjadi simbol identitas kota sebagai Kota Bunga. Meski demikian, tantangan seperti keterbatasan akses benih lokal dan kebutuhan akan pelatihan masih perlu mendapatkan perhatian. Penelitian ini menegaskan pentingnya dukungan pemerintah dan organisasi profesi untuk keberlanjutan serta peningkatan kualitas dekorator bunga di Tomohon.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sejak dahulu hingga saat ini, aktivitas pertanian bunga serta keberadaan kios dan dekorator bunga hias di Kota Tomohon paling banyak terpusat di Kecamatan Tomohon Utara, khususnya di Kelurahan Kakaskasen Satu, Dua, Tiga, dan Kakaskasen.Kegiatan dekorasi bunga hias di wilayah ini telah berlangsung sejak tahun 1970-an, dimulai dari penggunaan bunga potong seperti krekleli (leli), gladiol, dan aster untuk menghias acara pernikahan, di mana dekorasinya biasanya dilakukan oleh pemuda atau teman dekat pasangan pengantin, serta untuk keperluan ibadah dan acara gereja lainnya.Berdasarkan wawancara lapangan dari Oktober hingga awal November 2024, tercatat ada 29 petani bunga sekaligus pemilik kios yang juga merangkap sebagai dekorator.Jumlah ini meningkat signifikan sejak diselenggarakannya Tomohon International Flower Festival (TIFF) sejak tahun 2008, dengan total anggota ASBINDO Kota Tomohon mencapai 70 orang, termasuk pengurus.Dari sisi ekonomi, rata-rata penghasilan pemilik kios yang juga menjadi dekorator mencapai Rp5 juta hingga Rp7,5 juta per bulan, bahkan bisa lebih dari Rp10 juta bagi mereka yang telah mapan.Untuk petani bunga yang juga merangkap dekorator dan memasarkan langsung hasil tanamannya dalam bentuk rangkaian bunga, penghasilan per panen dapat mencapai sekitar Rp50 juta, tergantung pada luas lahan dan jumlah benih yang ditanam.

Saran penelitian lanjutan yang baru adalah: . . 1. Menganalisis lebih dalam tentang peran dan kontribusi dekorator bunga hias dalam mempromosikan pariwisata Kota Tomohon sebagai Kota Bunga. Penelitian ini dapat mengeksplorasi bagaimana dekorasi bunga yang unik dan kreatif dapat menjadi daya tarik wisatawan, serta bagaimana dekorator dapat bekerja sama dengan pemerintah dan pelaku pariwisata untuk mengembangkan paket wisata yang berfokus pada pengalaman dekorasi bunga. . . 2. Meneliti tantangan dan peluang dalam pengembangan pertanian bunga di Tomohon. Penelitian ini dapat menyelidiki faktor-faktor yang mempengaruhi produksi bunga, seperti ketersediaan benih lokal, teknologi budidaya, dan akses pasar. Selain itu, penelitian ini juga dapat mengusulkan strategi untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas bunga, serta mengidentifikasi peluang bisnis baru dalam rantai nilai florikultura. . . 3. Mengeksplorasi potensi pelatihan dan pendidikan dalam meningkatkan kualitas dekorasi bunga di Tomohon. Penelitian ini dapat fokus pada pengembangan kurikulum pelatihan dekorasi bunga yang sesuai dengan tren pasar dan selera konsumen. Selain itu, penelitian ini juga dapat mengusulkan model bisnis yang berkelanjutan untuk pelatihan dekorasi bunga, termasuk kolaborasi dengan organisasi profesi dan pemerintah daerah.

Read online
File size479.63 KB
Pages15
DMCAReport

Related /

ads-block-test