UMSUMS

Forum GeografiForum Geografi

Area perkotaan seringkali terkait dengan tingkat kejahatan yang lebih tinggi, menjadi perhatian utama masyarakat. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi hubungan spasial antara penggunaan lahan dan kejahatan properti di Kuching, Sarawak dengan menggunakan analisis Location Quotient, serta mengaplikasikan tiga metode: analisis buffer berulang, korelasi Pearson, dan Location Quotient. Hasil awal menunjukkan peningkatan tingkat kejahatan saat jarak dari pusat lahan meningkat dari 150 sampai 750 meter, kemudian menurun di luar 750 meter; terdapat korelasi positif yang kuat dan konsisten antara kejahatan properti dan tipe penggunaan lahan selama periode 2015‑2017, terutama di area urban dan sekitarnya. Pelaku kejahatan di Kuching menggunakan beragam cara, seperti membobol rumah, mencuri dengan motor, atau merusak kendaraan, sementara kamera CCTV sering terletak jauh dari sasaran. Kejahatan properti lebih sering terjadi pada siang hari dibandingkan malam karena aktivitas manusia yang lebih tinggi pada siang hari, sehingga memberikan peluang lebih besar bagi pelaku.

Penelitian ini menyediakan informasi geografis tentang kejahatan yang penting bagi Dewan Kota Utara Kuching (DBKU) dan Dewan Kota Selatan Kuching (MPKS) untuk meningkatkan keamanan perkotaan, mengingat kedua lembaga tidak dapat mengakses data kejahatan properti secara langsung.Identifikasi modus operandi pelaku membantu pemerintah Sarawak serta kepolisian dalam memperkuat langkah‑langkah pencegahan di wilayah residensial dan komersial, sekaligus meningkatkan kesadaran publik tentang konsentrasi kejahatan properti.Selain itu, temuan tersebut mendukung perencana kota dan kepolisian yang kurang menguasai Sistem Informasi Geografis untuk merencanakan penempatan patroli dan pengembangan kawasan secara lebih efektif.

Penelitian selanjutnya dapat mengkaji hubungan antara lokasi tempat tinggal pelaku kejahatan dengan lokasi kejahatan yang terjadi, misalnya dengan menguji apakah kedekatan geografis meningkatkan peluang terjadinya kejahatan. Selanjutnya, perbandingan metodologis antara Location Quotient, Getis‑Ord Gi*, Kernel Density Estimation, dan Local Indicator of Spatial Autocorrelation (LISA) dapat dilakukan untuk menentukan keakuratan dan keunggulan masing‑masing dalam mengidentifikasi hotspot kejahatan properti. Akhirnya, integrasi variabel sosio‑ekonomi seperti tingkat kemiskinan, kesempatan kerja, dan kondisi fisik lingkungan ke dalam model prediksi berbasis Cellular Automata‑Markov (CA‑Markov) atau Dyna‑CLUE dapat memperkuat kemampuan memproyeksikan perubahan penggunaan lahan dan dinamika kejahatan di masa depan.

  1. Unveiling the relationship between land use types and the temporal signals of crime: An empirical decomposition... journals.sagepub.com/doi/10.1177/23998083211033304Unveiling the relationship between land use types and the temporal signals of crime An empirical decomposition journals sagepub doi 10 1177 23998083211033304
  2. Investigating the Spatial Relation between Landuse and Property Crime in Kuching, Sarawak through Location... doi.org/10.23917/forgeo.v38i2.4575Investigating the Spatial Relation between Landuse and Property Crime in Kuching Sarawak through Location doi 10 23917 forgeo v38i2 4575
  3. ANALYZING THE SPATIAL TEMPORAL OF PROPERTY CRIME HOT SPOTS. A CASE STUDY OF KUCHING, SARAWAK | PLANNING... planningmalaysia.org/index.php/pmj/article/view/813ANALYZING THE SPATIAL TEMPORAL OF PROPERTY CRIME HOT SPOTS A CASE STUDY OF KUCHING SARAWAK PLANNING planningmalaysia index php pmj article view 813
Read online
File size1.14 MB
Pages14
DMCAReport

Related /

ads-block-test