UIBUIB

Journal of Nutrition Research in Sustainable HealthJournal of Nutrition Research in Sustainable Health

Latar Belakang: Perilaku makan di kalangan mahasiswa universitas merupakan penentu penting kesehatan dan hasil gizi. Meskipun mahasiswa gizi memiliki pengetahuan teoretis tentang pola makan sehat, kebiasaan diet mereka tidak selalu mencerminkan pemahaman tersebut. Penelitian ini bertujuan menggambarkan perilaku makan mahasiswa gizi semester pertama di Universitas Internasional Batam. Metode: Penelitian deskriptif cross‑sectional dilakukan pada 14 mahasiswa semester pertama Program Gizi, Fakultas Kesehatan dan Ilmu, Universitas Internasional Batam. Data diperoleh melalui kuesioner daring yang diisi sendiri, berisi 23 butir yang menilai berbagai perilaku makan, seperti konsumsi buah dan sayur, kebiasaan makan makanan penutup, serta kontrol asupan lemak dan gula. Jawaban afirmatif (“Ya) diperlakukan sebagai indikator perilaku sehat. Skor komposit dihitung sebagai persentase jawaban “Ya per responden, kemudian dikategorikan sebagai Non‑risk (≥75 %), Moderat (50‑74,9 %), atau At‑risk (<50 %). Hasil: Persentase rata‑rata jawaban sehat sebesar 49,4 % (SD 13,5 %), dengan rentang 26,1 % sampai 73,9 %. Tidak ada responden yang dikategorikan Non‑risk, 28,6 % berada pada kategori Moderat, dan 71,4 % pada kategori At‑risk. Perilaku sehat yang paling sering dilaporkan adalah “mencoba makan lebih banyak buah dan sayur (92,9 %) dan “sering mencoba mengikuti pola makan sehat (85,7 %). Sebaliknya, sangat sedikit responden melaporkan makan tiga porsi buah setiap hari (14,3 %) atau memilih camilan rendah lemak (21,4 %). Kesimpulan: Sebagian besar mahasiswa gizi semester pertama menunjukkan perilaku makan sehat yang konsisten terbatas, dengan mayoritas berada dalam kategori At‑risk. Temuan ini menyoroti adanya kesenjangan potensial antara pengetahuan gizi dan praktik diet, serta menekankan perlunya intervensi praktis yang berfokus pada perilaku dalam pendidikan gizi.

Di antara 14 mahasiswa gizi semester pertama di Universitas Internasional Batam, upaya yang dilaporkan secara mandiri untuk mengonsumsi lebih banyak buah dan sayur serta menerapkan pola makan sehat cukup umum, namun adopsi menyeluruh terhadap beragam perilaku sehat terbatas.mayoritas responden hanya mengonfirmasi kurang dari setengah perilaku yang disurvei.Temuan ini menunjukkan adanya kesenjangan antara pengetahuan dan praktik serta menekankan kebutuhan akan intervensi yang praktis dan sensitif konteks (kurikulum, lingkungan makanan, dukungan sesama) untuk menerjemahkan pengetahuan gizi menjadi praktik harian yang konsisten.Mengingat ukuran sampel yang kecil, hasil ini harus dipandang sebagai temuan awal.penelitian dengan sampel lebih besar dan pendekatan metode campuran disarankan.

Penelitian selanjutnya dapat mengajukan pertanyaan: bagaimana perilaku makan mahasiswa gizi berubah ketika studi dilakukan pada beberapa universitas dengan sampel yang jauh lebih besar serta menggunakan instrumen kuesioner berbasis skala Likert yang mencatat frekuensi, porsi, dan variasi makanan, sehingga dapat menghasilkan estimasi yang lebih representatif dan statistik yang lebih kuat? Selanjutnya, sebuah studi metode campuran dapat menyelidiki faktor‑faktor psikologis (misalnya stres dan motivasi), ekonomi (akses dan biaya makanan sehat), serta lingkungan kampus (ketersediaan pilihan makanan) yang menjadi penghalang atau pendorong penerapan pengetahuan gizi oleh mahasiswa, dengan menggabungkan survei kuantitatif, wawancara mendalam, dan diskusi kelompok fokus untuk memperoleh pemahaman kontekstual yang lebih kaya. Selain itu, desain eksperimen intervensi dapat menguji efektivitas program pelatihan praktis yang mencakup lokakarya memasak, perencanaan menu harian, serta sistem dukungan teman sebaya selama satu semester, di mana perubahan perilaku makan diukur sebelum dan sesudah intervensi menggunakan indikator komposit yang lebih detail dan valid. Sebuah studi longitudinal selanjutnya dapat mengevaluasi keberlanjutan perilaku sehat yang diperoleh dari intervensi tersebut selama satu hingga dua tahun, untuk menilai apakah perubahan tersebut bertahan setelah selesai program. Dengan meneliti kelima aspek tersebut, diharapkan dapat dijelaskan mengapa pengetahuan gizi belum terwujud menjadi kebiasaan sehari‑hari, serta menyediakan bukti empiris bagi perancangan kurikulum, program pendampingan, dan kebijakan kampus yang lebih responsif terhadap kebutuhan mahasiswa.

Read online
File size214.94 KB
Pages8
DMCAReport

Related /

ads-block-test