UMNUMN

Amaliah: Jurnal Pengabdian Kepada MasyarakatAmaliah: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat

Sabun cuci piring yang banyak digunakan dan beredar di pasaran tidak sedikit menggunakan zat kimia aktif yang bisa dikatakan tidak ramah terhadap kulit manusia sehingga menyebabkan kulit terasa kering, gatal‑gatal dan terkelupas. Namun, ada zat aktif lain yang bisa digunakan dalam pembuatan sabun pencuci secara alami, yaitu ekstrak sereh wangi dari tanaman sereh wangi. Oleh karena itu, penggunaan ekstrak serai wangi dalam pembuatan sabun cuci piring dianggap sangat efektif, tidak hanya untuk memberikan aroma, tetapi juga untuk memberikan efek antibakteri. Sebagaimana peneliti telah melakukan observasi awal ke lokasi yayasan, peneliti mendapatkan bahwa anak-anak berbagi peralatan makan yang sama. Kondisi ini menunjukkan adanya potensi tinggi terhadap penyebaran kuman dan bakteri, terutama melalui peralatan makan yang digunakan bersama tanpa adanya jaminan kebersihan yang optimal. Oleh karena itu keterampilan pemanfaatan ekstrak daun serai untuk pembuatan sabun cuci piring khususnya pada warga di Yayasan Al-Kahfi Medan Amplas akan sangat membantu menghemat biaya pembelian sabun dan meningkatkan keterampilan dalam memanfaatkan bahan alami untuk produk cuci piring.

Proyek pembuatan sabun cuci piring berbasis ekstrak sereh di Yayasan Al‑Kahfi Medan berhasil meningkatkan keterampilan praktis dan pengetahuan anak‑anak tentang proses ekstraksi, pencampuran, serta fermentasi, sekaligus menumbuhkan kesadaran akan potensi ekonomi bahan alami.Hasilnya menunjukkan bahwa penggunaan sereh sebagai bahan dasar produk kebersihan dapat menjadi alternatif ramah lingkungan dan bernilai ekonomi bagi masyarakat.Oleh karena itu, disarankan agar anak‑anak melanjutkan pembuatan sabun secara mandiri dalam kelompok serta bereksperimen dengan bahan lain untuk memperluas aplikasi dan pengembangan kewirausahaan dini.

Penelitian selanjutnya dapat menguji sejauh mana sabun cuci piring berbasis ekstrak sereh memiliki efektivitas antimikroba dibandingkan dengan sabun komersial yang umum dipakai masyarakat. Selanjutnya, studi dapat menilai kelayakan ekonomi dan skala produksi komunitas dengan memperluas program ke beberapa panti asuhan atau lembaga sosial lain di berbagai daerah. Penelitian juga dapat mengembangkan formula campuran bahan alami lain, seperti ekstrak daun neem atau kunyit, untuk meningkatkan sifat antibakteri serta aroma yang disukai pengguna. Selain itu, evaluasi jangka panjang penggunaan sabun tersebut pada anak‑anak dapat memberikan data tentang keamanan kulit, kepuasan pengguna, dan dampak kesehatan secara keseluruhan. Metode kualitatif melalui wawancara dengan peserta dan pengamat dapat menggali persepsi masyarakat terhadap produk alami dan potensi pengembangan kewirausahaan dini. Dengan menggabungkan uji laboratorium, analisis biaya‑manfaat, dan pendekatan partisipatif, penelitian lanjutan diharapkan dapat menghasilkan panduan praktis bagi komunitas untuk memproduksi sabun ramah lingkungan secara berkelanjutan.

Read online
File size417.19 KB
Pages7
DMCAReport

Related /

ads-block-test