STTPBSTTPB

KURIOSKURIOS

Penelitian ini berangkat dari kegelisahan teologis atas reduksi Pendidikan Agama Kristen (PAK) sebagai transmisi doktrinal yang mengabaikan dimensi dialektis pembentukan iman. Paradigma instruktif-hierarkis telah melahirkan jemaat yang terinformasi secara kognitif, namun tidak bertumbuh sebagai komunitas hermeneutis yang menafsirkan iman secara kolektif. Penelitian ini bertujuan merekonstruksi landasan teologis PAK melalui kerangka spiritualitas partisipatif. Dengan pendekatan kualitatif berbasis studi literatur sistematis dan pendekatan reflektif-analitis terhadap literatur teologi pastoral, pedagogi iman, serta praksis eklesiologis, penelitian ini merumuskan bahwa spiritualitas partisipatif memungkinkan PAK dipahami sebagai proses formasi iman yang dialogis, interaktif, dan transformatif. Gereja diposisikan sebagai learning community di mana liturgi, pelayanan, dan persekutuan menjadi locus pembentukan iman. Kesimpulannya, rekonstruksi ini menawarkan reorientasi eklesiologis yang menegaskan hakikat gereja sebagai Tubuh Kristus yang bertumbuh melalui ekologi pembelajaran relasional, membentuk iman yang reflektif, partisipatif, dan kontekstual.

Pendidikan Agama Kristen dalam banyak konteks gerejawi masih dijalankan dengan pendekatan yang menempatkan jemaat sebagai penerima materi ajar, bukan sebagai subjek yang berkontribusi dalam proses pembentukan iman.Pola ini melahirkan ketergantungan spiritual dan membentuk kebiasaan beriman yang pasif, di mana pengetahuan teologis dipahami sebagai informasi untuk dihafal, bukan sebagai kebenaran yang dihidupi secara reflektif dan relasional.Dalam situasi seperti ini, PAK kehilangan peran kritisnya sebagai proses pembentukan habitus iman yang tumbuh dari keterlibatan aktif seluruh tubuh Kristus.Spiritualitas partisipatif menawarkan koreksi mendasar terhadap pola pedagogi yang bersifat hierarkis dan informatif.Spiritualitas ini tidak mendefinisikan iman sebagai kepemilikan pribadi, melainkan sebagai dinamika relasional yang bertumbuh melalui kebersamaan, dialog, pelayanan, dan kepekaan terhadap karya Roh Kudus dalam kehidupan komunitas.Dengan demikian, pembelajaran iman tidak lagi dipusatkan pada satu arah transfer pengetahuan, tetapi bekerja melalui interaksi yang kreatif dan reflektif dalam kehidupan gereja.Rekonstruksi PAK menjadi mendesak karena gereja sedang menghadapi realitas sosial dan kultural yang kompleks, yang tidak dapat dijawab hanya dengan pengajaran doktrinal.Jemaat memerlukan ruang untuk bertanya, mengolah pengalaman, dan mengambil bagian dalam proses penafsiran iman secara kolektif.Tanpa pembaruan pendekatan, PAK akan berisiko terjebak dalam formalitas dan tidak lagi menyentuh dimensi praksis kehidupan sehari-hari.Dengan menata ulang PAK dalam kerangka spiritualitas partisipatif, gereja diarahkan untuk mengakui bahwa setiap anggota jemaat adalah peserta aktif dalam ziarah iman.Rekonstruksi ini membuka kemungkinan terbentuknya ekosistem pembelajaran yang lebih organik, di mana liturgi, relasi, pelayanan, dan pergumulan hidup bukan sekadar aktivitas terpisah, tetapi bagian integral dari kurikulum iman yang hidup.Dalam konfigurasi ini, PAK tidak hanya mengajarkan isi iman, tetapi juga membentuk cara baru menghayati iman melalui keterlibatan penuh dan kesadaran komunal.

Untuk penelitian lanjutan, dapat diusulkan beberapa ide sebagai berikut: Pertama, mengkaji lebih dalam tentang bagaimana spiritualitas partisipatif dapat diterapkan dalam berbagai konteks gerejawi yang berbeda, seperti gereja perkotaan, pedesaan, atau komunitas multikultural. Kedua, meneliti dampak dari penerapan spiritualitas partisipatif terhadap pertumbuhan iman dan keterlibatan jemaat dalam kehidupan gereja. Ketiga, mengembangkan model-model pembelajaran iman yang inovatif dan kontekstual, yang melibatkan seluruh anggota jemaat dalam proses pembentukan iman secara aktif dan partisipatif.

Read online
File size401.71 KB
Pages12
DMCAReport

Related /

ads-block-test