UNIVET BANTARAUNIVET BANTARA

Keraton: Journal of History Education and CultureKeraton: Journal of History Education and Culture

Perkembangan era digital telah membawa perubahan besar dalam cara pandang dan pola komunikasi masyarakat, termasuk bagi perempuan yang berstatus single parent. Pada masa sebelumnya, khususnya di era patriarki, norma dan nilai budaya cenderung menempatkan perempuan single parent dalam posisi yang lebih sulit, disertai stigma negatif. Berdasarkan data dari DataIndonesia.id, jumlah perempuan single parent di Indonesia pada tahun 2021 lebih besar dibandingkan jumlah laki-laki duda. Perempuan yang mengalami perceraian, baik karena perpisahan hidup maupun kematian pasangan, tercatat sebesar 12,83% dari populasi, sementara laki-laki yang bercerai hanya 4,32%. Transformasi sosial yang terjadi di era digital mencerminkan bahwa meningkatnya jumlah perempuan single parent beriringan dengan terbukanya lebih banyak peluang bagi mereka untuk mengembangkan diri, termasuk dalam aspek ekonomi. Studi ini berfokus pada pemahaman mengenai identitas perempuan single parent di era digital melalui tiga konsep utama, yaitu eksternalisasi, objektivasi, dan internalisasi. Menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan konstruksi sosial, penelitian ini mengumpulkan data melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi. Temuan penelitian menunjukkan bahwa perempuan single parent menganggap status mereka sebagai bentuk pembelajaran tentang kemandirian, yang memungkinkan mereka untuk bekerja dan berkarier tanpa batasan. Selain itu, mereka dapat memanfaatkan media sosial sebagai sarana untuk meningkatkan kualitas hidup serta memperluas jaringan sosial. Masyarakat pun mulai menerima dan mengakui bahwa perempuan single parent lebih percaya diri dan nyaman dengan status mereka saat ini. Dengan kemajuan teknologi dan informasi, status Single parent tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang menakutkan atau selalu dikaitkan dengan stigma negatif. Sebaliknya, status ini mengalami perubahan makna yang lebih positif dan inklusif.

Media sosial di era digitalisasi berperan krusial dalam membentuk ulang identitas perempuan single parent dan memengaruhi persepsi publik, memungkinkan mereka mengonfigurasi citra diri yang diinginkan.Melalui proses eksternalisasi, objektivasi, dan internalisasi yang dijelaskan oleh teori konstruksi sosial, perempuan single parent beradaptasi dengan lingkungan, mendapatkan pengakuan positif dari masyarakat atas produktivitas mereka, serta merasa nyaman dan percaya diri dengan statusnya.Akibatnya, status single parent tidak lagi dipandang negatif atau tercemar stigma, melainkan telah bertransformasi menjadi identitas yang memberdayakan, bahkan mendorong beberapa individu untuk menikmati kemandirian dan tidak menikah kembali di era digital ini.

Penelitian selanjutnya dapat memperdalam pemahaman kita tentang pengalaman perempuan single parent di era digital dengan menjelajahi beberapa arah baru. Pertama, mengingat studi ini sebagian besar berfokus pada sisi positif dan single parent yang sukses, akan sangat berharga untuk meneliti secara mendalam tantangan dan stigma negatif yang masih dihadapi oleh sebagian besar perempuan single parent di platform digital. Penelitian bisa mengkaji bagaimana pengalaman diskriminasi, rasa kasihan berlebihan, atau kecurigaan sosial di media sosial memengaruhi kesehatan mental, harga diri, dan strategi coping mereka. Ini akan memberikan gambaran yang lebih komprehensif mengenai spektrum dampak digitalisasi yang tidak hanya memberdayakan, tetapi juga menimbulkan kerentanan. Kedua, ada potensi besar untuk mengeksplorasi dampak jangka panjang dari transformasi identitas digital ini, terutama bagi single parent yang memilih untuk tidak menikah kembali. Bagaimana pilihan ini, yang didukung oleh kemandirian yang ditemukan di era digital, memengaruhi kesejahteraan emosional, hubungan dengan anak-anak, dan integrasi sosial mereka dalam jangka panjang? Penelitian longitudinal dapat melacak evolusi identitas dan kepuasan hidup mereka. Ketiga, beranjak dari kebutuhan untuk lingkungan digital yang lebih inklusif, studi dapat berfokus pada pengembangan dan evaluasi program literasi digital atau intervensi berbasis komunitas. Bagaimana platform media sosial dapat dirancang secara lebih baik atau bagaimana program edukasi dapat meningkatkan pemahaman publik dan mengurangi stigma terhadap single parent, sekaligus membekali mereka dengan keterampilan untuk menavigasi ruang digital dengan lebih aman dan produktif? Ini akan mengarah pada solusi praktis yang didukung oleh bukti empiris.

  1. 0. pdf obj metadata endobj extgstate xobject procset text imageb imagec imagei mediabox contents group... pharosjot.com/uploads/7/1/6/3/7163688/article_26_105_2__april_indonesia.pdf0 pdf obj metadata endobj extgstate xobject procset text imageb imagec imagei mediabox contents group pharosjot uploads 7 1 6 3 7163688 article 26 105 2 april indonesia pdf
  2. Assessment of the Impact of Cloud Technologies on Social Life in the Era of Digitalization | International... doi.org/10.3991/ijim.v15i21.22985Assessment of the Impact of Cloud Technologies on Social Life in the Era of Digitalization International doi 10 3991 ijim v15i21 22985
  3. Strategi Komunikasi Pada Komunitas Perempuan “Selaksabaya” Kabupaten Blitar dalam Memperkenalkan... doi.org/10.55397/cps.v1i2.13Strategi Komunikasi Pada Komunitas Perempuan AuSelaksabayaAy Kabupaten Blitar dalam Memperkenalkan doi 10 55397 cps v1i2 13
Read online
File size424.43 KB
Pages8
DMCAReport

Related /

ads-block-test