UIN SUKAUIN SUKA

Jurnal Studi Ilmu-ilmu Al-Qur'an dan HadisJurnal Studi Ilmu-ilmu Al-Qur'an dan Hadis

Komunitas Muslim Sasak di Lombok memiliki sejarah panjang menafsirkan Al‑Quran melalui tradisi lisan dan praktik keagamaan komunal sejak abad ke‑16. Sebagian besar kajian sebelumnya lebih menekankan ritual, ajaran, atau perbedaan sosiokultural antara Islam Wetu Telu dan Waktu Lima, sehingga kurang memperhatikan cara komunitas ini memahami Quran dalam kehidupan sehari‑hari serta bagaimana tafsir membentuk identitas keagamaan dan memicu ketegangan antar kelompok. Penelitian ini mengisi kekosongan tersebut dengan pendekatan kualitatif—observasi lapangan, wawancara mendalam, dan analisis dokumen—untuk mengeksplorasi dua model tafsir yang muncul di komunitas Wetu Telu dan Waktu Lima, serta menyoroti peran interpretasi oral, fleksibel, dan kontekstual versus interpretasi tekstual, ortodoks, yang dipengaruhi oleh Tuan Guru berpendidikan di Timur Tengah.

Simpulan penelitian ini menunjukkan bahwa komunitas Wetu Telu terbentuk melalui tafsir lisan sejak Islamisasi awal Lombok pada akhir abad XVI, sementara Islam Waktu Lima muncul berkat peran Tuan Guru yang menguasai literatur Arab klasik dan mendirikan pesantren sebagai pusat pembelajaran.Temuan ini memperjelas dinamika perkembangan Islam di Lombok, dimana pemahaman Quran bersifat praktis dan komunal pada Wetu Telu, sedangkan Waktu Lima mengandalkan interpretasi tekstual yang formal.Karena penelitian masih pada tahap analisis awal dan belum mengkaji secara rinci perbedaan tafsir antara kedua komunitas, diperlukan penelitian lanjutan yang fokus pada perbedaan tersebut serta kontestasi otoritas tafsir.

Penelitian lanjutan dapat menyelidiki secara komparatif perbedaan metodologi tafsir antara komunitas Wetu Telu dan Waktu Lima, dengan meneliti bagaimana variasi linguistik, sumber teks, dan konteks sosial memengaruhi interpretasi ayat‑ayat tertentu; selanjutnya, studi dapat mengeksplorasi peran manuskrip tradisional Sasak (misalnya Serat Rengganis, Usada Rara, dan Tuḥfah al‑Mursalāh) dalam membentuk teologi lingkungan, serta menguji bagaimana nilai‑nilai ekologi tercermin dalam tafsir lokal; terakhir, penelitian dapat menganalisis dampak media digital dan platform daring terhadap penyebaran ideologi Salafi‑Wahhabi di Lombok, termasuk bagaimana video ceramah dan jaringan sosial memodifikasi persepsi masyarakat terhadap praktik keagamaan tradisional.

  1. Thinking About Tradition, Religion, and Politics in Egypt Today | Critical Inquiry: Vol 42, No 1. thinking... doi.org/10.1086/683002Thinking About Tradition Religion and Politics in Egypt Today Critical Inquiry Vol 42 No 1 thinking doi 10 1086 683002
  2. DOI Name 10.26811 Values. doi name values index type timestamp data hs serv 03z crossref email support... doi.org/10.26811DOI Name 10 26811 Values doi name values index type timestamp data hs serv 03z crossref email support doi 10 26811
Read online
File size332.4 KB
Pages30
DMCAReport

Related /

ads-block-test