ITSIITSI
Jurnal Agro EstateJurnal Agro EstateKelapa sawit merupakan komoditas unggulan Indonesia, namun keberadaan gulma menjadi kendala serius dalam budidayanya karena bersaing dalam perolehan unsur hara, air, cahaya, serta menjadi inang hama dan patogen. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis gulma dan menganalisis dominansi gulma berdasarkan nilai Summed Dominance Ratio (SDR) di lahan Tanaman Menghasilkan (TM) Afdeling I Kebun Bah Birung Ulu PT. Perkebunan Nusantara IV Regional II. Penelitian dilakukan pada Februari–Maret 2025 dengan pendekatan deskriptif kuantitatif melalui pengamatan langsung pada subplot 1×1 meter dalam plot utama seluas 100×100 meter. Hasil menunjukkan terdapat 12 spesies gulma dari 7 famili, dengan Murdannia nudiflora sebagai gulma paling dominan (SDR 43,6%), diikuti oleh Dryopteris carthusiana (33,9%) dan Bidens pilosa (30,3%). Keberadaan Murdannia nudiflora yang merata di hampir seluruh subplot menunjukkan kemampuannya beradaptasi pada kondisi lembab dan teduh khas dataran tinggi. Sebaliknya, spesies seperti Spermacoce ocymifolia memiliki dominansi rendah akibat penyebaran terbatas. Temuan ini mengindikasikan bahwa strategi pengendalian gulma di wilayah dataran tinggi perlu difokuskan pada spesies dominan dan disesuaikan dengan kondisi agroekologi setempat guna menjaga produktivitas kelapa sawit secara berkelanjutan.
Penelitian ini menyimpulkan bahwa Afdeling I Kebun Bah Birung Ulu memiliki keanekaragaman gulma yang cukup tinggi dengan 12 spesies dari 7 famili.Gulma dengan dominansi tertinggi adalah Murdannia nudiflora (43,6%), menunjukkan adaptasi yang baik terhadap kondisi agroekologi dataran tinggi.Kondisi lingkungan seperti kelembaban tanah dan intensitas cahaya memengaruhi komposisi gulma, sehingga strategi pengendalian gulma perlu difokuskan pada spesies dominan dan disesuaikan dengan kondisi lokal untuk menjaga keberlanjutan budidaya kelapa sawit.
Berdasarkan hasil penelitian, beberapa saran penelitian lanjutan dapat dipertimbangkan. Pertama, perlu dilakukan studi lebih mendalam mengenai mekanisme adaptasi Murdannia nudiflora terhadap kondisi lembab dan teduh di dataran tinggi, termasuk analisis genetik dan fisiologisnya, untuk memahami faktor-faktor yang mendukung dominasinya. Kedua, penelitian tentang efektivitas berbagai metode pengendalian gulma terpadu (integrated weed management) yang ramah lingkungan, seperti penggunaan tanaman penutup tanah atau aplikasi bioherbisida, perlu dilakukan untuk mengurangi ketergantungan pada herbisida kimia. Ketiga, penting untuk menginvestigasi pengaruh rotasi tanaman atau diversifikasi tanaman terhadap komposisi dan dominansi gulma di kebun kelapa sawit, dengan tujuan menciptakan sistem pertanian yang lebih berkelanjutan dan mengurangi risiko resistensi gulma terhadap herbisida. Penelitian-penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi yang lebih komprehensif dan solusi praktis untuk pengelolaan gulma yang efektif dan berkelanjutan di perkebunan kelapa sawit, khususnya di wilayah dataran tinggi.
- One moment, please.... one moment please wait request verified jurnal.unikal.ac.id/index.php/biofarm/issue/view/220One moment please one moment please wait request verified jurnal unikal ac index php biofarm issue view 220
- Vol. 12 No. 1 (2024): Buletin Agrohorti | Buletin Agrohorti. vol buletin agrohorti doi https agrob v12i1... doi.org/10.29244/agrob.v12i1Vol 12 No 1 2024 Buletin Agrohorti Buletin Agrohorti vol buletin agrohorti doi https agrob v12i1 doi 10 29244 agrob v12i1
- Manajemen gulma di Kebun Kelapa Sawit Bangun Bandar: Analisis Vegetasi dan Seedbank Gulma | Buletin Agrohorti.... doi.org/10.29244/agrob.v4i2.15012Manajemen gulma di Kebun Kelapa Sawit Bangun Bandar Analisis Vegetasi dan Seedbank Gulma Buletin Agrohorti doi 10 29244 agrob v4i2 15012
- Manajemen Pengendalian Gulma Tanaman Cengkeh (Syzygium Aromaticum L.) Di Kebun Branggah Banaran, Blitar... doi.org/10.29244/agrob.v12i1.51427Manajemen Pengendalian Gulma Tanaman Cengkeh Syzygium Aromaticum L Di Kebun Branggah Banaran Blitar doi 10 29244 agrob v12i1 51427
| File size | 1.25 MB |
| Pages | 10 |
| DMCA | Report |
Related /
UNSURUNSUR Gulma dapat mengurangi hasil tanaman baik dari segi kualitas maupun kuantitas, gulma juga sebagai fasilitator hama dan penyakit, perlu adanya pengendalianGulma dapat mengurangi hasil tanaman baik dari segi kualitas maupun kuantitas, gulma juga sebagai fasilitator hama dan penyakit, perlu adanya pengendalian
UGMUGM Untuk penelitian selanjutnya disarankan untuk mengkaji efektivitas kombinasi pemupukan daun dengan teknik pengelolaan gulma lainnya, seperti mulsa organikUntuk penelitian selanjutnya disarankan untuk mengkaji efektivitas kombinasi pemupukan daun dengan teknik pengelolaan gulma lainnya, seperti mulsa organik
UPIUPI Penelitian ini bertujuan mengukur dampak stres air yang dikombinasikan dengan berbagai metode pemeliharaan tanah terhadap pertumbuhan vegetatif dan produksiPenelitian ini bertujuan mengukur dampak stres air yang dikombinasikan dengan berbagai metode pemeliharaan tanah terhadap pertumbuhan vegetatif dan produksi
UNIKSUNIKS Petani menggunakan teknik pengendalian mekanis dan kimia. Frekuensi pengendalian dilakukan sekali setiap tiga bulan. Total 14, 12, dan 9 spesies gulmaPetani menggunakan teknik pengendalian mekanis dan kimia. Frekuensi pengendalian dilakukan sekali setiap tiga bulan. Total 14, 12, dan 9 spesies gulma
UNIMALUNIMAL Famili Poaceae ditemukan paling banyak dibandingkan famili lainnya. Gulma berdaun lebar tercatat sebagai yang terbanyak (20 spesies) serta spesies RhynchosporaFamili Poaceae ditemukan paling banyak dibandingkan famili lainnya. Gulma berdaun lebar tercatat sebagai yang terbanyak (20 spesies) serta spesies Rhynchospora
UNUHAUNUHA Penelitian deskriptif ini menggunakan metode jelajah/eksplorasi dengan menjelajah area persawahan, dan sekaligus mengambil sampel yang mewakili jenis tumbuhanPenelitian deskriptif ini menggunakan metode jelajah/eksplorasi dengan menjelajah area persawahan, dan sekaligus mengambil sampel yang mewakili jenis tumbuhan
UMPUMP Faktor pertama adalah jarak tanam, terdiri dua level, yaitu 40 cm x 40 cm dan 40 cm x 60 cm. Faktor kedua adalah frekuensi penyiangan terdiri empat level,Faktor pertama adalah jarak tanam, terdiri dua level, yaitu 40 cm x 40 cm dan 40 cm x 60 cm. Faktor kedua adalah frekuensi penyiangan terdiri empat level,
UNIPASUNIPAS Model pengembangan petani terhadap herbisida kimia lebih dominan dibandingkan bioherbisida. Penggunaan bioherbisida dan herbisida kimia berpengaruh nyataModel pengembangan petani terhadap herbisida kimia lebih dominan dibandingkan bioherbisida. Penggunaan bioherbisida dan herbisida kimia berpengaruh nyata
Useful /
UNNESUNNES Informasi ini menunjukkan bahwa metode transfer learning pada VGG16 efektif dalam mengenali kasus Covid‑19 dan Normal, sehingga aplikasi model ini dapatInformasi ini menunjukkan bahwa metode transfer learning pada VGG16 efektif dalam mengenali kasus Covid‑19 dan Normal, sehingga aplikasi model ini dapat
UGMUGM Dosis 2,5 g memberikan hasil terbaik pada penambahan tinggi tanaman yaitu 0,625 cm. Dosis 3,5 g memberikan hasil terbaik pada parameter kandungan klorofilDosis 2,5 g memberikan hasil terbaik pada penambahan tinggi tanaman yaitu 0,625 cm. Dosis 3,5 g memberikan hasil terbaik pada parameter kandungan klorofil
STITMUBASTITMUBA Penelitian ini membuka ruang untuk dialog konstruktif antara tradisi tafsir klasik dan diskursus feminisme kontemporer guna memformulasikan solusi praktisPenelitian ini membuka ruang untuk dialog konstruktif antara tradisi tafsir klasik dan diskursus feminisme kontemporer guna memformulasikan solusi praktis
UPIUPI Sensitivitas biaya baterai menunjukkan bahwa bila biaya SLiB di bawah US$100 per kWh dan nilai faktor diskonto melebihi 0,5, periode pengembalian proyekSensitivitas biaya baterai menunjukkan bahwa bila biaya SLiB di bawah US$100 per kWh dan nilai faktor diskonto melebihi 0,5, periode pengembalian proyek