UTPUTP

JURNAL ILMIAH AGRINECAJURNAL ILMIAH AGRINECA

Dalam konteks pengembangan kopi robusta, Dinas Pertanian dan Perkebunan (Dispertabun) Kabupaten Kediri telah menjalin komunikasi dengan petani melalui Petugas Penyuluh Lapangan (PPL). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi model dan teknik komunikasi agribisnis, serta tantangan yang dihadapi dalam implementasi komunikasi agribisnis Dispertabun dengan petani guna mengembangkan kopi robusta di Kabupaten Kediri. Penelitian ini menggunakan metodologi deskriptif kualitatif (Miles dan Huberman) dengan analisis data model interaktif. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa pemilihan model komunikasi agribisnis ditentukan oleh konteks pesan yang disampaikan. Penerapan teknik komunikasi interpersonal (individu) dan organisasi (kelompok) bergantung pada isi pesan. Temuan ini menyarankan agar Dispertabun Kabupaten Kediri, melalui PPL, terus mempertahankan model dan metode komunikasi yang relevan untuk meminimalkan potensi hambatan komunikasi. Selain itu, penting untuk terus meningkatkan komunikasi agribisnis dengan petani kopi robusta guna mencapai tujuan dan target baru terkait komunikasi agribisnis.

Model komunikasi di sektor agribisnis yang digunakan Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Kediri dengan petani kopi robusta mencakup model SMCR, Hierarkis Dua Arah, Forum Media, Jejaring, dan Siklus Pengalaman Belajar, yang dipilih berdasarkan sifat dan jenis pesan yang relevan.Metode komunikasi yang diterapkan meliputi komunikasi interpersonal (perorangan) dan organisasi (kelompok), disesuaikan dengan substansi pesan yang disampaikan kepada petani.Hambatan komunikasi agribisnis, seperti sosio antropologis, fisik, psikologis, semantik, dan teknis, dapat diminimalkan secara efektif sehingga implementasi komunikasi berjalan lancar tanpa kendala signifikan.

Penelitian ini secara deskriptif kualitatif telah mengidentifikasi berbagai model dan metode komunikasi agribisnis antara Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Kediri dengan petani kopi robusta, serta hambatan yang dapat diminimalkan. Sebagai pengembangan, saran penelitian lanjutan dapat berfokus pada evaluasi mendalam tentang dampak dan efektivitas konkret dari strategi komunikasi yang ada. Bagaimana model komunikasi seperti SMCR, hierarkis dua arah, forum media, jejaring, dan siklus pengalaman belajar secara kuantitatif mempengaruhi peningkatan adopsi praktik budidaya terbaik, akses pasar, atau peningkatan pendapatan petani kopi robusta? Penting untuk mengukur sejauh mana metode interpersonal dan kelompok yang diterapkan benar-benar mendorong perubahan perilaku dan peningkatan kapasitas petani. Selain itu, dengan adanya usulan langsung dari pihak dinas, penelitian selanjutnya dapat secara spesifik menganalisis dinamika dan efektivitas model jejaring komunikasi yang melibatkan Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH), Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan), dan petani kopi. Studi ini dapat mengidentifikasi simpul-simpul kekuatan dan kelemahan dalam transfer informasi serta kolaborasi antarpihak untuk pengembangan komoditas kopi. Terakhir, mengingat rencana Dispertabun untuk regenerasi petani dan pembentukan koperasi, sebuah studi perlu merumuskan strategi komunikasi yang paling efektif dalam menarik minat generasi muda untuk terjun ke sektor perkopian robusta dan mendukung proses pembentukan serta penguatan koperasi petani. Ini akan memastikan keberlanjutan dan kemandirian usaha kopi di masa depan. Penelitian ini diharapkan memberikan masukan yang lebih strategis untuk optimalisasi program komunikasi di sektor agribisnis kopi di Kabupaten Kediri.

Read online
File size406.76 KB
Pages10
DMCAReport

Related /

ads-block-test