ISI DPSISI DPS

Mudra Jurnal Seni BudayaMudra Jurnal Seni Budaya

Pengembangan sebuah desa menjadi desa wisata yang berkelanjutan diharapkan dapat memenuhi secara optimal indikator-indikator keberlanjutan budaya. Untuk mewujudkan keberlanjutan budaya dalam pengembangan desa wisata di Bali, masih terdapat tantangan dalam penguatan budaya seperti dinamika autentisitas dan komodifikasi, dominasi dan hegemonik pariwisata, serta penguatan lembaga-lembaga tradisional. Agar meningkatkan daya saing pariwisata, terutama dari pilar desa wisata berkelanjutan, aspek autentisitas dan komodifikasi dapat meningkatkan kontribusinya terhadap perekonomian lokal dan nasional melalui implementasi internasionalisasi, tradisionalisasi, dan sakral versus profan; aspek dominasi dan hegemonik pariwisata melalui implementasi kebijakan terkait pengembangan desa wisata; dan aspek penguatan lembaga-lembaga tradisional melalui melibatkan seluruh lapisan masyarakat desa dan lembaga-lembaga masyarakat desa dalam mendukung pengembangan desa wisata berbasis budaya, serta merevitalisasi kelompok-kelompok (sekaha-sekaha) yang menghasilkan karya kreatif untuk memperkuat pengembangan produk wisata di desa wisata dan memperkuat citra desa wisata.

Produk autentisitas dalam penguatan budaya dalam pengembangan desa wisata berkelanjutan adalah sesuatu yang sangat problematis, negotiable, sangat ditentukan oleh konsumen atau wisatawan, terkait dengan identitas masyarakat dan bukan harga tetap, tetapi sesuatu yang selalu berubah, dalam proses interaksi dengan lingkungan eksternal atau dinamika internal masyarakat itu sendiri.Pengembangan desa wisata yang mengejar pertumbuhan jumlah kunjungan wisatawan (pertumbuhan) dengan mengandalkan modal dari para kapitalis dan lebih jauh menempatkan desa wisata dalam konteks kapitalisme akan menghadapi tantangan dalam bentuk dominasi.Akibatnya, masyarakat di desa wisata sebagai perwakilan masyarakat sipil akan ditekan oleh dua kekuatan politik, yaitu negara dengan kebijakan dan kepentingan pasar yang dibawa oleh para kapitalis.Penguatan lembaga dalam pengembangan desa wisata berkelanjutan dapat dilakukan melalui melibatkan seluruh lapisan masyarakat desa dan lembaga-lembaga masyarakat desa dalam mendukung pengembangan desa wisata berbasis budaya, serta merevitalisasi kelompok-kelompok (sekaha-sekaha) yang menghasilkan karya kreatif untuk memperkuat pengembangan produk wisata di desa wisata dan memperkuat citra desa wisata.

Untuk meningkatkan daya saing pariwisata Bali, terutama dari pilar desa wisata berkelanjutan, perlu dilakukan implementasi ketat terhadap indikator-indikator internasionalisasi, tradisionalisasi, dan sakral versus profan. Hal ini bertujuan untuk mendukung pengembangan desa wisata berbasis budaya di Bali. Selain itu, perlu juga dilakukan penguatan karakter dan identitas, meningkatkan pemahaman dan apresiasi terhadap keragaman budaya, serta meningkatkan kualitas pengelolaan warisan budaya dan sumber daya di sektor budaya. . . Dalam rangka melindungi desa-desa tradisional dari berbagai dominasi akibat pengembangan desa wisata, tidak cukup hanya dengan membuat aturan atau awig-awig, tetapi perlu disertai dengan berbagai pemahaman tentang berbagai kepentingan yang ada dan dibawa oleh desa wisata. Ideologi adalah benteng pertahanan terakhir dan merupakan bagian dari politik identitas. . . Untuk mencegah penyalahgunaan pengaruh kekuasaan dalam mengembangkan desa wisata di Bali, dapat diterapkan strategi manajemen publik dalam kegiatan pariwisata. Hal ini diharapkan dapat mendorong desa wisata menjadi berkelanjutan dan melindungi sumber daya masyarakat dan nasional, baik sumber daya budaya maupun sumber daya alam. . . Inklusi elemen-elemen yang memiliki kekuasaan dalam pengembangan desa wisata akan mampu memperkuat kekuasaan yang mereka miliki, ditambah dengan diskursus pengetahuan dapat mengarah pada keterlibatan masyarakat yang hegemonik dalam pengembangan desa wisata. Untuk mengatasi hal ini, perlu diberikan wewenang penuh kepada masyarakat lokal dalam mengembangkan desa wisata, termasuk dalam pengelolaan desa wisata. . . Pengembangan desa wisata secara praktis juga akan berdampak pada penyerapan masyarakat desa lokal untuk bekerja di usaha-usaha di desa wisata, serta masuknya pekerja dari luar (tenaga kerja migran) untuk bekerja di desa wisata lokal. Penggunaan tenaga kerja migran adalah akibat dari pengembangan desa wisata, yang secara tidak langsung menarik pekerja dari luar. . . Pengembangan desa wisata secara praktis juga akan berdampak pada generasi muda desa lokal yang melarikan diri untuk bekerja di objek wisata yang dikembangkan dan terkenal di daerah perkotaan. Hal ini merupakan bentuk penolakan terhadap implementasi pariwisata berbasis masyarakat. Oleh karena itu, perlu ditanamkan sejak dini kepada calon pekerja desa wisata dari desa lokal tentang hikmah lokal jele melah gelahang, yaitu apapun hasil yang terjadi dalam pengembangan desa wisata, kualifikasi tetap menjadi pemain inti di antara pekerja yang bekerja di usaha-usaha di desa wisata. . . Selain itu, perlu juga dilakukan penguatan lembaga-lembaga dalam pengembangan desa wisata berbasis budaya, antara lain melalui melibatkan seluruh lapisan masyarakat desa dan lembaga-lembaga masyarakat desa dalam mendukung pengembangan desa wisata berbasis budaya, serta merevitalisasi kelompok-kelompok (sekaha-sekaha) yang menghasilkan karya kreatif untuk memperkuat pengembangan produk wisata di desa wisata dan memperkuat citra desa wisata.

  1. Representations of International Tourism in the Social Sciences: Sun, Sex, Sights, Savings, and Servility... doi.org/10.1146/annurev.an.18.100189.001515Representations of International Tourism in the Social Sciences Sun Sex Sights Savings and Servility doi 10 1146 annurev an 18 100189 001515
Read online
File size208.61 KB
Pages11
DMCAReport

Related /

ads-block-test