UM SURABAYAUM SURABAYA

Qanun Medika - Medical Journal Faculty of Medicine Muhammadiyah SurabayaQanun Medika - Medical Journal Faculty of Medicine Muhammadiyah Surabaya

Penemuan peran basofil sebagai sel penyaji antigen pada hewan coba menimbulkan pertanyaan besar mengenai peran yang sama pada manusia. Untuk menjawab permasalahan tersebut dilakukan penelusuran artikel melalui US National Library of Medicine, National Institute of Health dengan alamat web site http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed. Pencarian sumber pustaka dilakukan pada bulan mei 2018 dengan kata kunci Basophil, antigen presenting cell dengan filter publikasi yang berusia kurang dari 10 tahun dan merupakan free full text article. Hasil pencarian ditemukan 9 artikel yang memenuhi kriteria. Pembahasan dari artikel yang ada menunjukkan bahwa sel basofil tidak mampu melakukan endositosis partikel padat, tidak mampu memproses dan menyajikan antigen melalui molekul MHC, dan sel basofil tidak mengekspresikan molekul asesori baik sebelum maupun setelah diaktifkan. Dapat disimpulkan bahwa basofil tidak mempunyai peran sebagai sel penyaji antigen pada manusia.

Berdasarkan telaah pustaka yang dilakukan, dapat disimpulkan bahwa sel basofil manusia tidak mempunyai peran sebagai sel penyaji antigen baik dalam kondisi fisiologis maupun patologis.Peran basofil lebih tepat dikatakan membantu polarisasi sel Th naif ke arah sel Th2.

Meskipun studi ini menyimpulkan bahwa sel basofil manusia tidak berfungsi sebagai sel penyaji antigen profesional, peran mereka dalam sistem kekebalan tubuh masih menyimpan misteri. Salah satu arah penelitian yang menjanjikan adalah menyelidiki secara lebih mendalam mekanisme pasti bagaimana basofil membantu polarisasi sel T helper naif menuju respons imun tipe Th2. Mengingat basofil menghasilkan IL-4 dan TSLP yang krusial, studi dapat mengeksplorasi jalur sinyal dan interaksi molekuler yang memediasi bantuan ini tanpa melibatkan penyajian antigen Mayor Histocompatibility Complex (MHC) secara langsung. Misalnya, apakah ada molekul permukaan spesifik lain atau mediator terlarut yang berperan aktif dalam mengarahkan perkembangan sel T. Selain itu, masih perlu pemahaman lebih lanjut mengenai fungsi basofil setelah bermigrasi ke jaringan limfoid sekunder seperti limfonodus, tonsil, dan limpa. Meskipun di sana mereka tidak berubah menjadi sel penyaji antigen, mereka mungkin memiliki peran lain yang spesifik untuk lingkungan jaringan tersebut dalam mengatur respons imun lokal atau dalam konteks penyakit tertentu. Apakah basofil di lokasi tersebut memiliki fungsi pengawasan atau modulator lain yang belum teridentifikasi? Terakhir, pertanyaan awal mengenai perbedaan peran basofil antara hewan coba dan manusia masih menarik. Studi lanjutan dapat melakukan analisis komparatif yang lebih rinci, mungkin pada tingkat transkriptomik atau proteomik, untuk mengidentifikasi perbedaan genetik atau molekuler yang mendasari kemampuan penyajian antigen basofil antarspesies. Temuan ini berpotensi mengungkapkan target baru untuk intervensi terapeutik dalam kondisi alergi atau autoimun.

Read online
File size311.71 KB
Pages5
DMCAReport

Related /

ads-block-test