SCADINDEPENDENTSCADINDEPENDENT

Jurnal Ilmiah PeuradeunJurnal Ilmiah Peuradeun

Di tengah cengkeraman kekuasaan politik dinasti dan oligarki yang mengakar, politisi perempuan non-elite mengembangkan strategi inovatif untuk meraih dukungan publik. Studi ini mengkaji bagaimana perempuan non-elite menavigasi struktur dan budaya untuk menghadapi politik dinasti dan oligarki di parlemen Sulawesi Tenggara selama pemilihan umum 2019 dan 2024. Penelitian ini berfokus pada tiga wilayah—Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Kendari, DPRD Konawe, dan DPRD Konawe Selatan—di mana perempuan non-elite berhasil meraih lebih banyak kemenangan elektoral dibandingkan rekan-rekan elite mereka, meskipun terdapat kehadiran kuat politik dinasti di tingkat eksekutif dan legislatif. Data dikumpulkan melalui wawancara dengan politisi perempuan dan tim kampanye mereka, serta dokumentasi baliho kampanye dan pendampingan kampanye. Menggunakan pendekatan antropologi politik, studi ini mengungkapkan bahwa politisi perempuan non-elite secara strategis mengidentifikasi basis pemilih yang lebih aman, membangun tim yang kohesif, dan membina loyalitas akar rumput. Meskipun pengaruh mereka secara keseluruhan masih terbatas, mereka secara efektif menavigasi dan melawan intrik politik dinasti dan oligarki. Studi ini menyoroti bagaimana keberhasilan elektoral mereka berkontribusi pada pengurangan kesenjangan kelas dan gender, mendorong perubahan politik bertahap baik di tingkat mikro maupun makro.

Penelitian ini menyimpulkan bahwa perempuan non-elite berhasil menavigasi lanskap politik dinasti yang mengakar dengan mengadaptasi strategi kemenangan, meliputi mobilisasi dukungan akar rumput, pembentukan tim yang solid, penalaran politik rasional, serta identifikasi basis pemilih yang strategis di Sulawesi Tenggara selama pemilihan umum 2019 dan 2024.Keberhasilan ini menantang dominasi dinasti politik dan menggambarkan perjuangan kelas sosial antara komunitas akar rumput dengan elite berprivilese, sekaligus menunjukkan pentingnya pengembangan sistem pendukung untuk iklim politik yang lebih adil dan inklusif.Diperlukan penelitian lanjutan dengan cakupan yang lebih luas untuk memahami apakah fenomena ini merupakan tren nasional atau terbatas pada konteks lokal, serta untuk menganalisis sifat politik parlementer yang lebih inklusif atau tetap didominasi karakter maskulin.

Untuk penelitian selanjutnya, sangat menarik untuk lebih mendalami dampak jangka panjang dari keberhasilan politisi perempuan non-elite ini pada kualitas kebijakan dan tata kelola pemerintahan di tingkat lokal. Apakah strategi adaptif yang mereka gunakan benar-benar menghasilkan perubahan nyata dalam prioritas pembangunan atau alokasi anggaran yang lebih berpihak kepada masyarakat akar rumput, dibandingkan dengan politisi dari dinasti yang mungkin lebih fokus pada kepentingan elite? Investigasi ini bisa melibatkan studi perbandingan rekam jejak kebijakan di daerah dengan representasi perempuan non-elite yang kuat versus daerah yang didominasi politik dinasti. Selain itu, penting juga untuk memahami bagaimana politisi perempuan non-elite yang telah berhasil menjadi petahana selama beberapa periode mampu membangun dan menjaga modal politik jangka panjang mereka. Apakah ada faktor kunci dalam interaksi dengan konstituen, pemanfaatan jaringan sosial, atau pengembangan kapasitas kepemimpinan yang membuat mereka tangguh di tengah persaingan yang ketat, terutama saat melawan dominasi dinasti dan oligarki? Terakhir, mengingat berbagai stigma dan tantangan budaya, penelitian juga dapat mengeksplorasi secara kualitatif sistem dukungan sosial dan psikologis apa yang paling efektif dalam membantu perempuan non-elite mengatasi hambatan untuk masuk dan bertahan di arena politik. Misalnya, peran organisasi masyarakat sipil, komunitas perempuan, atau mentor politik dari luar dinasti dalam menyediakan pelatihan, dukungan moral, atau akses sumber daya bagi mereka yang tidak memiliki modal politik bawaan? Penemuan ini diharapkan dapat memberikan wawasan berharga untuk merancang strategi dukungan yang lebih efektif bagi perempuan akar rumput di masa depan.

  1. Realizing Welfare State and Social Justice: A Perspective on Islamic Law | Volksgeist: Jurnal Ilmu Hukum... doi.org/10.24090/volksgeist.v5i1.6430Realizing Welfare State and Social Justice A Perspective on Islamic Law Volksgeist Jurnal Ilmu Hukum doi 10 24090 volksgeist v5i1 6430
  2. Walking Together: Dynamics of Muslim Wives Dual Role in Rural Areas Pursuing Career and Household Responsibilities... e-journal.iain-palangkaraya.ac.id/index.php/maslahah/article/view/7827Walking Together Dynamics of Muslim Wives Dual Role in Rural Areas Pursuing Career and Household Responsibilities e journal iain palangkaraya ac index php maslahah article view 7827
  3. Tengka, identity politics, and the Fiqh of civilization: The authority of Madura’s Kiai in the... doi.org/10.18326/ijtihad.v24i1.139-165Tengka identity politics and the Fiqh of civilization The authority of MaduraAos Kiai in the doi 10 18326 ijtihad v24i1 139 165
  4. The flexibility of Islamic law in the Ganjur tradition in Lamongan, Indonesia | Ijtihad : Jurnal Wacana... doi.org/10.18326/ijtihad.v23i2.139-159The flexibility of Islamic law in the Ganjur tradition in Lamongan Indonesia Ijtihad Jurnal Wacana doi 10 18326 ijtihad v23i2 139 159
Read online
File size480.41 KB
Pages34
DMCAReport

Related /

ads-block-test