POLTEKKESKUPANGPOLTEKKESKUPANG

JURNAL INFO KESEHATANJURNAL INFO KESEHATAN

Remaja secara fisik dan psikologis rentan terhadap penularan HIV/AIDS, sehingga mereka menjadi fokus populasi untuk program pencegahan penyakit. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan pengaruh persepsi dukungan sosial dan tugas kesehatan keluarga terhadap perilaku pencegahan HIV/AIDS pada remaja di Desa Baros, Serang, Banten. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan desain studi potong lintang (cross-sectional). Jumlah sampel adalah 345 remaja yang berisiko HIV/AIDS di Desa Baros, Serang, Banten. Pengambilan sampel dari setiap kelas dilakukan dengan metode stratified sampling. Peneliti mereproduksi kuesioner penelitian dengan sistem luring yang sebelumnya telah diuji validitas dan reliabilitasnya pada sejumlah sampel yang telah dihitung. Selanjutnya, untuk kuesioner penelitian dengan sistem daring, distribusi dilakukan melalui tautan Google Form. Uji chi-square digunakan untuk menguji variabel perilaku pencegahan HIV/AIDS. Uji regresi logistik digunakan untuk melihat faktor-faktor paling berpengaruh terhadap perilaku pencegahan HIV/AIDS. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan antara jenis kelamin dan tugas kesehatan keluarga dalam mengenali masalah perilaku pencegahan HIV/AIDS pada remaja di Desa Baros, Serang, Banten, dengan nilai p < 0,05. Faktor yang paling memengaruhi perilaku pencegahan HIV/AIDS adalah tugas kesehatan keluarga dalam mengenali masalah dengan nilai p sebesar 0,007 < 0,05 dan nilai OR terbesar yang diperoleh, yaitu 1,978. Oleh karena itu, keluarga harus meningkatkan kemampuan mereka dalam menjalankan tugas kesehatan dalam mengkomunikasikan dan mengarahkan remaja dalam perilaku pencegahan HIV/AIDS.

Studi ini menyimpulkan bahwa terdapat hubungan antara jenis kelamin dan tugas kesehatan keluarga dalam mengenali masalah dengan perilaku pencegahan HIV/AIDS pada remaja di Desa Baros, Serang, Banten.Faktor utama yang memengaruhi perilaku pencegahan HIV/AIDS adalah kemampuan keluarga dalam mengenali masalah, dengan keluarga yang kurang mampu mengenali masalah berisiko 1,978 kali untuk perilaku pencegahan yang buruk.Oleh karena itu, disarankan agar remaja meningkatkan sosialisasi positif, keluarga meningkatkan komunikasi dan interaksi mengenai pencegahan HIV/AIDS, serta perawat komunitas secara berkelanjutan memberikan edukasi kesehatan kepada remaja, keluarga, dan lingkungan sekitarnya.

Meskipun penelitian ini mengidentifikasi tugas kesehatan keluarga dalam mengenali masalah sebagai faktor paling berpengaruh terhadap perilaku pencegahan HIV/AIDS pada remaja, serta menemukan hubungan signifikan dengan jenis kelamin, masih terdapat ruang besar untuk penelitian lanjutan yang lebih mendalam. Salah satu arah studi yang menarik adalah menyelidiki mengapa beberapa faktor yang secara teori diharapkan berhubungan, seperti persepsi dukungan sosial, tingkat pendidikan orang tua, pendapatan keluarga, dan struktur keluarga, justru tidak menunjukkan hubungan signifikan dalam konteks penelitian ini. Penelitian kualitatif atau studi kasus yang berfokus pada dinamika sosial dan psikologis remaja, khususnya pengaruh kuat dari kelompok sebaya dan paparan media sosial di era digital, dapat memberikan wawasan baru tentang bagaimana remaja memproses informasi dan membentuk perilaku pencegahan HIV/AIDS mereka, terlepas dari latar belakang keluarga tradisional. Selanjutnya, mengingat temuan bahwa ada perbedaan perilaku pencegahan antara jenis kelamin, dengan perempuan memiliki kesempatan lebih besar, studi lanjutan perlu menggali lebih dalam faktor-faktor spesifik yang mendasari perbedaan ini. Apakah ini terkait dengan perbedaan dalam paparan informasi, tingkat kecemasan yang berbeda, norma sosial yang berbeda dalam mengkomunikasikan risiko, atau dukungan spesifik yang diterima oleh masing-masing gender dari lingkungan mereka? Pemahaman yang lebih nuansa tentang hal ini akan sangat penting untuk merancang program intervensi yang lebih peka gender. Terakhir, berdasarkan temuan bahwa kemampuan keluarga dalam mengenali masalah adalah prediktor utama, sebuah studi intervensi bisa dirancang untuk menguji efektivitas program pendidikan kesehatan berbasis keluarga. Program ini akan secara khusus bertujuan untuk meningkatkan kapasitas keluarga dalam mengidentifikasi risiko HIV/AIDS dan secara proaktif mengkomunikasikannya kepada remaja mereka. Evaluasi dampak dari intervensi semacam itu terhadap peningkatan pengetahuan, perubahan sikap, dan adopsi perilaku pencegahan yang lebih baik pada remaja akan sangat berharga untuk mengembangkan strategi pencegahan yang lebih efektif dan berkelanjutan di masa depan. Pendekatan holistik ini akan memastikan bahwa intervensi tidak hanya menargetkan individu remaja tetapi juga ekosistem pendukung terdekat mereka.

  1. Journal of Health Promotion and Behavior. journal health promotion behavior issn publisher masters program... doi.org/10.26911/thejhpb.2016.01.03.03Journal of Health Promotion and Behavior journal health promotion behavior issn publisher masters program doi 10 26911 thejhpb 2016 01 03 03
  2. Konfirmasi Lima Faktor yang Berpengaruh terhadap Perilaku Remaja dalam Pencegahan HIV/AIDS | Jurnal Ilmiah... doi.org/10.33221/jiki.v9i04.407Konfirmasi Lima Faktor yang Berpengaruh terhadap Perilaku Remaja dalam Pencegahan HIV AIDS Jurnal Ilmiah doi 10 33221 jiki v9i04 407
  3. SciELO Brazil - Quality of life and people living with AIDS: relationship with sociodemographic and health... doi.org/10.1590/0104-1169.3350.2455SciELO Brazil Quality of life and people living with AIDS relationship with sociodemographic and health doi 10 1590 0104 1169 3350 2455
  4. Thieme E-Journals - Journal of Health and Allied Sciences NU / Abstract. thieme journals journal health... thieme-connect.de/products/all/doi/10.1055/s-0040-1703938Thieme E Journals Journal of Health and Allied Sciences NU Abstract thieme journals journal health thieme connect de products all doi 10 1055 s 0040 1703938
Read online
File size734.49 KB
Pages15
DMCAReport

Related /

ads-block-test