ORLIORLI

Oto Rhino Laryngologica IndonesianaOto Rhino Laryngologica Indonesiana

Latar belakang: Laryngopharyngeal reflux (LPR) ditandai dengan adanya aliran balik isi lambung ke laring dan faring. Gastroesophageal reflux disease (GERD) merupakan penyakit serupa yang sering disalah-artikan sebagai LPR. Deteksi pepsin saliva oral telah dikembangkan sebagai modalitas diagnosis alternatif untuk LPR. Selain itu, terdapat alat bantu diagnosis LPR dengan menggunakan sistem skoring, yakni Reflux Symptoms Score (RSS) dan Reflux Sign Assessment (RSA). Tujuan: Untuk mengetahui sensitivitas dan spesifisitas pemeriksaan pepsin saliva dibandingkan dengan RSS dan RSA pada diagnosis LPR. Metode: Studi korelatif dengan desain potong lintang prospektif yang melibatkan 30 subyek dengan gejala LPR, dilakukan untuk menilai uji diagnostik kadar pepsin saliva dibandingkan dengan skor RSS dan RSA pada pasien LPR. Uji diagnostik yang dilakukan meliputi uji sensitivitas, spesifisitas, Positive Predictive Value (PPV), dan Negative Predictive Value (NPV). Hasil: Rasio perbandingan jenis kelamin pria dan wanita sebesar 1:1,3. Pemeriksaan pepsin saliva dengan nilai cut-off ≥16 ng/mL memiliki sensitivitas 100%, spesifisitas 90%, PPV 95.24%, dan NPV 100% terhadap kuesioner RSS. Sementara itu, ketika dinilai terhadap kuisioner RSA, pemeriksaan pepsin saliva memiliki sensitivitas 95.24%, spesifitias 88.89%, PPV 95.24%, dan NPV 88.89%. Penelitian ini menunjukkan bahwa pemeriksaan pepsin saliva memiliki nilai sensitivitas dan spesifitias yang baik, masing-masing sebesar 100% dan 90% terhadap kuesioner RSS, serta 95.24% dan 88.98% terhadap kuesioner RSA. Kesimpulan: Pemeriksaan pepsin saliva kedepannya dapat digunakan sebagai modalitas diagnostik utama karena sifatnya yang non-invasif, mudah dilakukan, dan dapat ditolerir dengan baik oleh pasien.

Pemeriksaan pepsin saliva memiliki sensitivitas dan spesifisitas yang baik dalam mendiagnosis LPR.Sifatnya yang non-invasif, mudah dilakukan, dan dapat ditolerir dengan baik oleh pasien menjadikan pemeriksaan ini berpotensi sebagai modalitas diagnostik utama di masa depan.Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengoptimalkan penggunaan pemeriksaan ini dalam praktik klinis.

Berdasarkan hasil penelitian ini, beberapa saran penelitian lanjutan dapat diajukan. Pertama, penelitian lebih lanjut perlu dilakukan dengan jumlah sampel yang lebih besar dan desain studi yang lebih komprehensif, seperti studi kohort prospektif, untuk mengkonfirmasi temuan ini dan mengevaluasi efektivitas jangka panjang dari penggunaan pepsin saliva sebagai alat diagnostik utama. Kedua, penelitian perlu mengeksplorasi peran pepsin saliva dalam memprediksi respons terhadap terapi LPR, misalnya dengan membandingkan kadar pepsin saliva sebelum dan sesudah pengobatan untuk menilai efektivitas intervensi. Ketiga, studi lebih lanjut dapat dilakukan untuk mengidentifikasi faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi kadar pepsin saliva, seperti diet, gaya hidup, dan penggunaan obat-obatan tertentu, sehingga dapat memberikan pemahaman yang lebih baik tentang patofisiologi LPR dan membantu dalam pengembangan strategi pencegahan dan pengobatan yang lebih efektif. Penelitian-penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi signifikan dalam meningkatkan diagnosis dan penanganan LPR, serta meningkatkan kualitas hidup pasien yang menderita penyakit ini.

  1. Risk factors for gastroesophageal reflux disease symptoms related to lifestyle and diet. risk factors... doi.org/10.32394/rpzh.2021.0145Risk factors for gastroesophageal reflux disease symptoms related to lifestyle and diet risk factors doi 10 32394 rpzh 2021 0145
Read online
File size335.46 KB
Pages7
DMCAReport

Related /

ads-block-test