STIKESNHSTIKESNH

Diagnosis : Jurnal Ilmiah KesehatanDiagnosis : Jurnal Ilmiah Kesehatan

Masalah kesehatan gigi dan pola konsumsi makanan tidak sehat pada anak usia sekolah dasar masih menjadi isu penting di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana penerapan kantin sehat di sekolah mempengaruhi perubahan perilaku sosial dan praktik kesehatan gigi anak secara kontekstual. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif dengan metode studi fenomenologis, yang menggali makna pengalaman siswa, guru, pengelola kantin, orang tua, dan petugas kesehatan di dua kabupaten di Sulawesi Selatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan kantin sehat mampu mendorong transformasi perilaku konsumsi anak ke arah yang lebih sehat, ditandai dengan meningkatnya kesadaran gizi dan pemilihan jajanan bergizi. Di sisi lain, praktik kesehatan gigi anak juga mengalami perbaikan melalui edukasi, penyuluhan, dan pembiasaan menyikat gigi di sekolah. Perubahan ini merupakan hasil dari sinergi antara guru, pengelola kantin, orang tua, dan puskesmas yang secara kolaboratif membentuk budaya sehat di sekolah. Anak-anak memaknai kantin sehat sebagai ruang belajar yang menyenangkan dan aman untuk memilih makanan sehat, sekaligus memperkuat kesadaran akan pentingnya kebersihan gigi. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kantin sehat tidak hanya menjadi intervensi fisik terhadap pilihan makanan, tetapi juga instrumen kultural dalam membangun norma baru tentang pola hidup sehat di lingkungan sekolah dasar. Diperlukan kebijakan berkelanjutan dan partisipasi lintas sektor agar perubahan perilaku ini terjaga dan berkembang.

Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa penerapan kantin sehat di sekolah dasar berkontribusi nyata dalam membentuk perubahan perilaku sosial dan praktik kesehatan gigi anak.Anak-anak mulai menunjukkan pergeseran preferensi terhadap makanan sehat, didorong oleh pemahaman yang tumbuh melalui edukasi, interaksi dengan guru dan teman sebaya, serta pengalaman langsung di lingkungan kantin.Kesadaran akan pentingnya menjaga kesehatan gigi juga meningkat, tercermin dalam rutinitas menyikat gigi yang lebih teratur dan pemahaman terhadap dampak konsumsi makanan manis.Transformasi ini terbentuk melalui sinergi antaraktor di lingkungan sekolah, seperti guru, pengelola kantin, orang tua, dan petugas puskesmas.Guru berperan sebagai fasilitator perubahan, pengelola kantin menyediakan makanan yang sehat dan aman, orang tua mendukung dari rumah melalui pengawasan dan pemberian bekal, sementara puskesmas menyediakan edukasi dan pembinaan.Seluruh interaksi tersebut membentuk budaya sehat yang tidak hanya berdampak di sekolah, tetapi juga menjalar hingga ke rumah.

Untuk penelitian lanjutan, disarankan untuk mengkaji lebih dalam dimensi budaya dan psikososial dalam perubahan perilaku anak di lingkungan sekolah. Sekolah diharapkan terus memperkuat kebijakan kantin sehat, mengintegrasikan edukasi gizi dalam kegiatan pembelajaran, serta menciptakan lingkungan yang konsisten mendukung pola hidup sehat. Guru dan pengelola kantin perlu memperoleh pelatihan berkelanjutan, sementara orang tua perlu dilibatkan aktif dalam kegiatan edukatif. Puskesmas dan instansi kesehatan juga diharapkan terus memberikan pendampingan serta pemantauan secara rutin agar program yang ada berjalan efektif dan berkesinambungan.

Read online
File size436.48 KB
Pages9
DMCAReport

Related /

ads-block-test