STAKATNPONTIANAKSTAKATNPONTIANAK

PROSIDING PENELITIAN DAN PENGABDIAN KEAGAMAANPROSIDING PENELITIAN DAN PENGABDIAN KEAGAMAAN

Fratelli Tutti (Saudara semua) merupakan salah satu ensiklik baru setelah Lumen Fidei dan Laudato si yang bertujuan untuk membangun persaudaraan, persahabatan sosial tanpa batas; menemukan kepenuhan pribadi dalam diri sesama. Penelitian ini mendeskripsikan bagaimana semangat persahabatan sosial terjadi antar dosen di STAKat Negeri Pontianak, mengingat latar belakang budaya dan agama yang beragam. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Hasil angket dari 20 responden menunjukkan keragaman suku (Batak, Dayak, Flores, Jawa, Melayu, Nias, campuran Jawa-Dayak) dan agama (65% Katolik, 20% Kristen, 15% Islam). Berdasarkan wawancara, terbentuk budaya dialog sosial menuju budaya baru di STAKat Negeri Pontianak, yaitu budaya dialog untuk membangun bersama dengan memaklumi perbedaan dan mengesampingkan kepentingan pribadi. Dialog otentik telah terjalin, ditandai dengan kesediaan mendengarkan dan memahami pandangan orang lain, serta bertujuan mencapai nilai-nilai permanen, bukan hanya kesepakatan sesaat. Pertemuan dengan rekan dosen yang berbeda suku dan agama memungkinkan individu menempatkan diri pada posisi orang lain. Responden optimis bahwa budaya kehidupan yang memulihkan sikap baik dapat dibangun, membentuk individu yang memancarkan terang.

Penelitian ini menyimpulkan bahwa semangat persaudaraan dan dialog sosial telah tumbuh di lingkungan dosen STAKat Negeri Pontianak, meskipun terdapat keragaman suku dan agama.Budaya dialog yang otentik, yang menekankan pada kepentingan bersama dan kesediaan mendengarkan, telah menjadi ciri khas interaksi antar dosen.Hal ini sejalan dengan semangat yang digariskan dalam ensiklik Fratelli Tutti, yaitu membangun persaudaraan universal dan menemukan kepenuhan pribadi dalam relasi dengan sesama.Dengan demikian, STAKat Negeri Pontianak menjadi contoh nyata bagaimana dialog antar iman dan budaya dapat memperkuat persatuan dan mempromosikan nilai-nilai kemanusiaan.

Berdasarkan hasil penelitian ini, beberapa saran penelitian lanjutan dapat diajukan. Pertama, penelitian lebih lanjut dapat dilakukan untuk mengeksplorasi bagaimana praktik dialog antaragama di STAKat Negeri Pontianak dapat direplikasi di konteks pendidikan tinggi lain di Indonesia yang memiliki keragaman serupa. Kedua, studi mendalam mengenai peran kepemimpinan dalam memfasilitasi dan memelihara budaya dialog yang inklusif di lingkungan kampus perlu dilakukan. Hal ini dapat mencakup analisis terhadap gaya kepemimpinan, kebijakan kampus, dan program-program yang mendukung dialog antar budaya dan agama. Ketiga, penelitian dapat difokuskan pada dampak dialog sosial terhadap kualitas pengajaran dan pembelajaran di STAKat Negeri Pontianak, misalnya dengan menginvestigasi apakah dialog antar dosen memengaruhi pendekatan pedagogis mereka atau kemampuan mereka untuk menciptakan lingkungan belajar yang inklusif dan responsif terhadap kebutuhan mahasiswa yang beragam. Penelitian-penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi signifikan terhadap pengembangan model pendidikan tinggi yang mampu mempromosikan persaudaraan, toleransi, dan pemahaman lintas budaya di Indonesia.

Read online
File size236.92 KB
Pages9
DMCAReport

Related /

ads-block-test