UINFASBENGKULUUINFASBENGKULU

Manthiq : Jurnal Filsafat Agama dan Pemikiran IslamManthiq : Jurnal Filsafat Agama dan Pemikiran Islam

Wahdatul Wujud dalam Perspektif Hamzah Al Fansuridan Syeikh Siti Jennar. Salah satu dari tokoh awal yang menyebarkan ajaran tasawuf di kepulauan Nusantara ini adalah Syaikh Siti Jenar, yang terkenal dengan konsepnya yang kontroversial tentang persoalan hidup dan mati, Tuhan dan kebebasan, serta tempat berlakunya syariat tersebut. Syekh Siti Jenar memandang bahwa kehidupan manusia di dunia ini disebut sebagai kematian. Sebaliknya, apa yang disebut umum sebagai kematian, justru disebut sebagai awal dari kehidupan yang hakiki dan abadi olehnya. Sebagai konsekuensinya, kehidupan manusia di dunia ini tidak dapat dikenai hukum yang bersifat keduniawian, misalnya hukum negara. Dalam riset ini penulis menggunakan metode penelitian kepustakaan (Library Research) yang memfokuskam kepada aspek pemikiran, sejarah dari dua tokoh serta tokoh‑tokoh lainya yang mempengaruhinya. Maka dalam mengadakan penelitian kepustakaan penyusun melakukan pengumpulan dari buku‑buku primer maupun sekunder, yang ada kaitanya dengan seluruh referensi yang mendukung studi penulisan ini. Hamzah Fansuri memiliki pemikiran tentang wahdatul wujud atau wujudiyyah, yaitu: pertama Hakekat Wujud, bahwa wujud itu hanya satu yaitu Allah meskipun wujud itu kelihatan banyak. Kedua Eka dalam Keanekaan, bahwa wujud bukan hanya mencakup kesatuannya meskipun ia bertajalli dalam banyak bentuk. Ketiga Penciptaan Alam, proses penciptaan alam dimulai dari la taayyun, taayyun, tanazzul, dengan melalui lima martabat (fase), dan akan bertaraqqi kepada la taayyun sedangkan Pemikiran tentang ketuhanan yang dimiliki oleh Syaikh Siti Jenar adalah apa yang masyhur di pulau Jawa dengan sebutan Manunggaling Kawula lan Gusti, yang dalam pemahaman penulis hampir sama dengan ajaran dari paham wahdatul wujud. Dimana Tuhan dan alam adalah satu kesatuan atau Tuhan itu immanent dengan alam (manusia).

Kedua tokoh, Hamzah Fansuri dan Syiakh Siti Jenar, mengartikulasikan konsep Wahdatul Wujud dengan menekankan kesatuan eksistensi sekaligus mengakui keberagaman dalam manifestasinya.hakikat wujud, kesatuan dalam keanekaragaman, dan proses penciptaan alam melalui fase-fase tertentu, yang menunjukkan persamaan serta perbedaan dengan Ibn Arabi.Syiakh Siti Jenar menekankan ketakterpisahan Tuhan dan alam (Manunggaling Kawula lan Gusti), memandang ciptaan sebagai emanasi esensi ilahi, sehingga memperkaya diskursus mistik ontologi dalam Islam Indonesia.

Penelitian selanjutnya dapat mengkaji bagaimana interpretasi Wahdatul Wujud oleh Hamzah Fansuri dan Syiakh Siti Jenar memengaruhi wacana etika Islam kontemporer di Indonesia, dengan pendekatan kualitatif komparatif melibatkan cendekiawan modern dan praktik komunitas untuk menelusuri kontinuitas dan transformasi pemikiran. Selanjutnya, penelitian etnografi lintas pulau (misalnya Aceh, Jawa, Sulawesi) dapat mengeksplorasi variasi regional dalam penerimaan konsep Manunggaling Kawula lan Gusti serta bagaimana konteks budaya lokal membentuk artikulasi filosofisnya. Terakhir, analisis teks digital terhadap manuskrip asli Hamzah Fansuri dan Syiakh Siti Jenar dapat mengungkap hubungan intertekstual yang belum teridentifikasi dengan tradisi filosofis pra‑Islam di Jawa, menggunakan metode linguistik komputasional untuk membuka sudut pandang metodologis baru.

Read online
File size354.92 KB
Pages9
DMCAReport

Related /

ads-block-test