UINMADURAUINMADURA

Meyarsa: Jurnal Ilmu Komunikasi dan DakwahMeyarsa: Jurnal Ilmu Komunikasi dan Dakwah

Generasi milenial, sebagai penyumbang komposisi kependudukan terbesar dalam bonus demografi. Identik dengan generasi muda yang produktif dan berenergi, generasi milenial sering mendapat label sebagai Agent of Change atau pelaku perubahan. Saat ini dunia, khususnya Indonesia, sedang dihadapkan pada era keterbukaan dalam sosial media. Salah satu permasalahan yang paling mengkhawatirkan di era keterbukaan, yaitu adanya hoaks keagamaan pemecah belah umat agama. Negara majemuk seperti Indonesia, dapat dikatakan berada dalam ancaman yang besar jika hoaks keagamaan terus merajalela. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi hoaks keagamaan dan literasi di Indonesia. Selanjutnya, sejauh mana hoaks keagamaan dapat diatasi dengan literasi digital, akan menjadi sesuatu yang menarik dalam penelitian ini. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah survey tentang kondisi hoaks keagamaan di Indonesia. Hasil penelitian ditemukan bahwa jarak informasi hoaks keagamaan dan pengguna sosial media, sangatlah dekat. Informasi hoaks keagamaan yang ada di sosial media, diantaranya situs-situs radikal, kasus terorisme, dan ujaran kebencian. Masyarakat Indonesia banyak yang belum memiliki kemampuan dalam pengecekan data. Sehingga hadirnya solusi “Literasi Digital Milenial dapat dijadikan solusi untuk penanganan hoaks keagamaan di Indonesia.

Penyebaran hoaks keagamaan di media sosial merupakan tantangan serius di Indonesia, diperparah oleh indeks literasi digital yang masih rendah, bahkan di kalangan generasi milenial yang rentan menyebarkan berita tanpa verifikasi.Meskipun pemerintah telah berupaya melalui berbagai program dan regulasi, efektivitasnya terbatas karena kurangnya keterlibatan generasi milenial dalam strategi pencegahan hoaks.Oleh karena itu, penelitian ini menekankan pentingnya peran aktif generasi milenial dalam literasi digital, melalui pengecekan informasi (tulisan, gambar, link, domain, ciri-ciri hoaks) dan penerapan prinsip saring sebelum sharing, didukung oleh inovasi di sekolah dan komunitas cek fakta resmi.

Penelitian lanjutan dapat secara mendalam mengkaji paradoks menarik yang ditemukan dalam studi ini, yaitu kecenderungan rendahnya kemampuan mencerna informasi secara positif dan enggan untuk tidak menyebarkan hoaks meskipun skor literasi digital tinggi di kalangan milenial. Studi masa depan bisa mengeksplorasi faktor psikologis dan sosiologis di balik fenomena ini, termasuk bagaimana bias kognitif atau afiliasi kelompok memengaruhi verifikasi informasi keagamaan. Misalnya, apakah ada perbedaan signifikan dalam perilaku verifikasi hoaks antara milenial dengan tingkat literasi teknis digital yang tinggi versus mereka yang memiliki literasi kritis media yang kuat? Pertanyaan ini akan membantu merumuskan strategi edukasi literasi yang lebih tepat sasaran. Selanjutnya, mengingat kurangnya efektivitas upaya pemerintah dalam melibatkan milenial, penelitian bisa fokus pada perancangan dan evaluasi program literasi digital yang secara khusus dikembangkan oleh dan untuk generasi milenial itu sendiri. Studi ini dapat menguji berbagai pendekatan intervensi, seperti lokakarya berbasis komunitas, kampanye media sosial interaktif, atau platform edukasi yang menggunakan gamifikasi, untuk melihat metode mana yang paling berhasil meningkatkan keterampilan evaluasi informasi kritis dan mengubah perilaku penyebaran hoaks keagamaan. Hasilnya akan sangat berguna untuk merumuskan kebijakan literasi digital yang lebih partisipatif dan relevan dengan gaya hidup milenial. Terakhir, sangat relevan untuk melakukan evaluasi empiris terhadap penggunaan aktual dan efektivitas alat serta praktik pengecekan fakta yang ada (seperti TurnBackHoax.id atau Google Image) di kalangan milenial saat mereka menghadapi hoaks keagamaan. Penelitian ini dapat mengidentifikasi hambatan atau pendorong penggunaan alat-alat tersebut, serta mengukur tingkat kepercayaan milenial terhadap sumber verifikasi fakta. Ini akan memberikan wawasan berharga untuk meningkatkan aksesibilitas dan kemanjuran alat-alat tersebut, sekaligus memahami peran kecerdasan buatan dalam membantu verifikasi hoaks, sehingga prinsip saring sebelum sharing dapat terinternalisasi lebih kuat.

Read online
File size821.17 KB
Pages27
DMCAReport

Related /

ads-block-test