INASNACCINASNACC
Jurnal neuroanestesi indonesiaJurnal neuroanestesi indonesiaVasospasme serebral, ditandai oleh penyempitan progresif arteri serebral, sering terjadi setelah perdarahan subarachnoid (SAH) dan merupakan penyebab utama disabilitas dan mortalitas pada pasien yang terkena. Kondisi ini dapat menyebabkan iskemia serebral, tingkat keparahan yang berkorelasi dengan derajat vasospasme. Patofisiologi dasar melibatkan penutupan arteri oleh gumpalan darah, meskipun interaksi kompleks antara hematom dan struktur sekitarnya masih tidak sepenuhnya dipahami. Penundaan dalam onset vasospasme menawarkan jendela potensial untuk intervensi pencegahan. Namun, uji acak terkontrol terbaru memberikan hasil yang mengecewakan, karena mereka gagal menunjukkan peningkatan signifikan pada hasil pasien dengan penggunaan clazosentan, simvastatin, atau magnesium sulfat. Pengelolaan terbaik saat ini melibatkan mencegah iskemia dengan mempertahankan volume dan tekanan darah yang memadai, memberikan nimodipine, dan, jika diperlukan, melakukan angioplasti balon. Dalam dua dekade terakhir, perkembangan dalam pengelolaan vasospasme telah secara signifikan mengurangi angka morbiditas dan mortalitas yang terkait. Meskipun demikian, vasospasme tetap menjadi faktor kritis dalam menentukan hasil klinis setelah ruptur aneurismal.
Vasospasme serebral adalah komplikasi serius dan potensi berbahaya nyawa yang sering terjadi setelah SAH, ditandai oleh konstriksi persisten vaskular serebral yang mengganggu aliran darah serebral dan dapat berlanjut menjadi iskemia serebral tertunda, yang jika tidak diobati dapat menyebabkan disabilitas neurologis berat atau kematian.Faktor risiko utama termasuk volume darah yang terakumulasi di ruang subarachnoid, keberadaan hidrosefalus, dan faktor demografis serta komorbiditas seperti hipertensi dan merokok, dengan manifestasi klinis yang berkisar dari sakit kepala berat hingga disfungsi kognitif.Pengelolaan secara integratif melibatkan pendekatan farmakologis dan non-farmakologis, dengan nimodipine sebagai dasar terapi farmakologis untuk mencegah vasospasme dan mengurangi morbiditas, sementara intervensi akut mungkin melibatkan vasodilator intra-arteri seperti nicardipine atau papaverine, serta antagonis reseptor endotelin untuk mengatasi vasokonstriksi.Strategi non-farmakologis berfokus pada optimasi hemodinamika melalui manajemen euvolemia, modulasi tekanan darah terkontrol, serta intervensi lanjutan seperti angioplasti endovaskular atau drainase cairan serebrospinal untuk meredakan tekanan intrakranial.
Penelitian lanjutan perlu menguji efektivitas obat-obatan alternatif atau kombinasi terapi yang belum dieksplorasi secara memadai, seperti agen antagonis endotelin generasi baru atau senyawa anti-inflamasi lain yang mungkin menawarkan manfaat lebih besar dengan risiko samping yang lebih rendah. Selain itu, pengembangan metode diagnostik yang lebih akurat dan dini, misalnya melalui pencitraan fungsional atau biomarker cairan serebrospinal, dapat membantu identifikasi dini vasospasme dan penyesuaian terapi yang lebih tepat waktu. Studi lebih lanjut juga diperlukan untuk memahami mekanisme genetik atau lingkungan yang mendasari kerentanan individu terhadap vasospasme, sehingga memungkinkan pengembangan strategi pencegahan yang lebih personalisasi.
| File size | 431.63 KB |
| Pages | 9 |
| DMCA | Report |
Related /
STIKESLHOKSEUMAWESTIKESLHOKSEUMAWE Data dikumpulkan melalui kuesioner Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) dan dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 85,8% respondenData dikumpulkan melalui kuesioner Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) dan dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 85,8% responden
CENDIKIAJENIUS INDCENDIKIAJENIUS IND Intervensi seperti terapi herbal, latihan fisik ringan, teknik relaksasi, hidroterapi, dan modifikasi gaya hidup terbukti aman, mudah diakses, dan layak,Intervensi seperti terapi herbal, latihan fisik ringan, teknik relaksasi, hidroterapi, dan modifikasi gaya hidup terbukti aman, mudah diakses, dan layak,
STIKESLHOKSEUMAWESTIKESLHOKSEUMAWE Hipertensi beresiko tinggi mengalami gagal jantung dan kematian akibat komplikasi. Self management behavior menjadi kunci penting bagi pasien hipertensiHipertensi beresiko tinggi mengalami gagal jantung dan kematian akibat komplikasi. Self management behavior menjadi kunci penting bagi pasien hipertensi
PANCABHAKTIPANCABHAKTI Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, dapat disimpulkan bahwa sebelum pemberian terapi latihan jalan cepat pada lansia dengan hipertensi di PSLUBerdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, dapat disimpulkan bahwa sebelum pemberian terapi latihan jalan cepat pada lansia dengan hipertensi di PSLU
INSPIRAINSPIRA Sampel pada penelitian ini sebanyak 31 orang. Pengukuran penedengaran menggunakan garputala 512 HZ dengan menggunakan uji Rinne, Weber, dan Swabach. Hasil:Sampel pada penelitian ini sebanyak 31 orang. Pengukuran penedengaran menggunakan garputala 512 HZ dengan menggunakan uji Rinne, Weber, dan Swabach. Hasil:
INSPIRAINSPIRA Diagnosa Keperawatan ditentukan dengan Standar Diagnosa Keeperawatan Indonesia (SDKI), sedangkan rencana keperawatan disesuaikan dengan pengelompokan IntervensiDiagnosa Keperawatan ditentukan dengan Standar Diagnosa Keeperawatan Indonesia (SDKI), sedangkan rencana keperawatan disesuaikan dengan pengelompokan Intervensi
INSPIRAINSPIRA Berdasarkan kriteria inklusi dan kriteria ekslusi maka sampel dalam penelitian ini ditetapkan sebanyak 44 orang. Hasil: Berdasarkan tabel. 7 yang terlampirBerdasarkan kriteria inklusi dan kriteria ekslusi maka sampel dalam penelitian ini ditetapkan sebanyak 44 orang. Hasil: Berdasarkan tabel. 7 yang terlampir
INSPIRAINSPIRA Metode yang digunakan adalah identifikasi data dari lima database jurnal dengan metode PIOS dan istilah MESH. Desain penelitian adalah Quasy EksperimentMetode yang digunakan adalah identifikasi data dari lima database jurnal dengan metode PIOS dan istilah MESH. Desain penelitian adalah Quasy Eksperiment
Useful /
INASNACCINASNACC Cedera sumsum tulang belakang sering kali muncul dalam beberapa hari setelah kecelakaan, meskipun bisa tetap tersembunyi untuk jangka waktu yang lama.Cedera sumsum tulang belakang sering kali muncul dalam beberapa hari setelah kecelakaan, meskipun bisa tetap tersembunyi untuk jangka waktu yang lama.
INASNACCINASNACC Rekanalisasi pembuluh lengkap (mTICI 3) tercapai tanpa komplikasi. Kasus ini menyoroti pentingnya menyesuaikan anestesi dengan profil risiko individu,Rekanalisasi pembuluh lengkap (mTICI 3) tercapai tanpa komplikasi. Kasus ini menyoroti pentingnya menyesuaikan anestesi dengan profil risiko individu,
INASNACCINASNACC Subjek dan Metode: Penelitian ini adalah uji coba terkontrol acak tersamar ganda. Subjek terdiri dari 28 sampel berusia 18-65 tahun, GCS 15, status fisikSubjek dan Metode: Penelitian ini adalah uji coba terkontrol acak tersamar ganda. Subjek terdiri dari 28 sampel berusia 18-65 tahun, GCS 15, status fisik
STT SUSTT SU Subyek penelitian adalah Gereja Kemah Injil Indonesia jemaat Kalvari Sungai Lawang Daerah Ketungau Kabupaten Sintang Provinsi Kalimantan Barat. MetodeSubyek penelitian adalah Gereja Kemah Injil Indonesia jemaat Kalvari Sungai Lawang Daerah Ketungau Kabupaten Sintang Provinsi Kalimantan Barat. Metode