STTMWCSTTMWC

HAGGADAH: Jurnal Teologi dan Pendidikan KristenHAGGADAH: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen

Rumah Tuhan senantiasa menjadi simbol kerinduan, perlindungan, dan perjumpaan dengan Allah. Namun, dalam konteks gereja masa kini, gereja menghadapi krisis spiritualitas: ibadah menjadi rutinitas, relasi iman melemah, dan pemahaman tentang gereja sebagai tubuh Kristus kian menipis. Penelitian ini bertujuan menganalisis secara mendalam Mazmur 27:1-6 guna memahami bagaimana ruang iman komunitas. Secara hermeneutis, penelitian ini menggunakan analisis puisi Ibrani dengan memperhatikan struktur aksentual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rumah Tuhan tidak sekadar menunjuk pada tempat ibadah fisik, melainkan simbol kehadiran Allah yang membentuk kehidupan spiritual umat melalui pengalaman liturgi. Liturgi menjadi media transformasi iman, dari rasa takut menuju keyakinan, dari individu menuju komunitas. Karena itu gereja masa kini dipanggil untuk menghadirkan rumah Tuhan sebagai ruang pembentukan iman bersama, di mana umat mengalami penguatan dan keintiman dengan Allah. Dengan demikian, Mazmur 27:1-6 dibaca dalam paradigma teologi liturgis eksesliologis yang meneguhkan fungsi ibadah dan persekutuan gereja, sebagai sarana pembentukan spiritualitas komunitas di tengah dunia yang penuh ketidakpastian.

Penelitian ini menyimpulkan bahwa rumah Tuhan dalam Mazmur 27.1-6 bukan sekadar tempat ibadah fisik, melainkan simbol kehadiran Allah yang membentuk iman umat melalui pengalaman liturgi.Liturgi berperan sebagai media transformasi spiritual, mengubah rasa takut menjadi keyakinan dan menguatkan relasi dari individu menuju komunitas.Oleh karena itu, gereja masa kini dipanggil untuk menjadikan rumah Tuhan sebagai ruang pembentukan iman bersama, memperkuat keintiman umat dengan Allah, serta meneguhkan fungsi ibadah dan persekutuan sebagai sarana pengembangan spiritualitas komunitas di tengah tantangan dunia modern.

Penelitian selanjutnya dapat mengeksplorasi dampak integrasi liturgi digital dengan praktik ibadah konvensional terhadap kekohasan relasi komunitas jemaat. Selain itu, perlu dilakukan studi mendalam tentang kesesuaian teologi liturgis dalam model ibadah hibrida untuk menjaga keseimbangan antara aksesibilitas teknologi dan kedalaman pengalaman rohani bersama. Terakhir, penelitian terhadap dinamika eklesiologi di era transformasi sosial-digital dapat memberi wawasan baru tentang peran gereja dalam membangun iman kolaboratif di tengah individualisme modern.

Read online
File size831.49 KB
Pages19
DMCAReport

Related /

ads-block-test