UINSAUINSA

Proceedings of Annual Islamic Conference for Learning and ManagementProceedings of Annual Islamic Conference for Learning and Management

Manusia dan filsafat memiliki hubungan yang erat dengan kehidupan. Manusia memiliki pikiran dan banyak kebutuhan untuk memenuhi keinginan yang mengandung pemikiran filosofis. Filsafat melatih kita untuk menjadi manusia yang arif, bijaksana, dan percaya diri; dalam kompleksitas kehidupan manusia, manusia dituntut menjadi bijaksana dan bertanggung jawab. Oleh karena itu tidak dapat dipungkiri terdapat hubungan erat antara manusia, filsafat, dan pendidikan dalam kehidupan manusia untuk tetap mampu bertahan hidup di dunia. Berbagai pemikiran reflektif tentang hal‑hal yang berkaitan dengan landasan ilmu dan hubungan suatu ilmu dengan seluruh aspek kehidupan manusia disebut sebagai filsafat ilmu. Sains memiliki bagian‑bagian tertentu di mana terdapat objek, pernyataan, proposisi, dan ciri‑ciri yang ditonjolkan oleh tiga landasan pemikiran filosofis, yakni ontologi, epistemologi, dan aksiologi.

Pengetahuan merupakan faktor penting bagi kemajuan sosial sebuah bangsa, dimana tingkat pengetahuan yang tinggi berhubungan dengan modernisasi masyarakat, sementara rendahnya pengetahuan berdampak pada penurunan kualitas kehidupan.Filsafat ilmu menelaah pengetahuan melalui tiga dimensi utama—ontologi yang membahas hakikat ilmu, epistemologi yang menelaah sumber dan metode pengembangan, serta aksiologi yang menilai nilai guna dan manfaatnya.Dengan memahami ketiga aspek tersebut, pendidikan dapat dirancang secara lebih logis dan sistematis untuk meningkatkan kualitas pembelajaran serta kontribusi ilmu terhadap pembangunan masyarakat.

Penelitian selanjutnya dapat mengeksplorasi bagaimana perspektif ontologis memengaruhi perancangan kurikulum pendidikan Islam, khususnya dalam menilai eksistensi konsep-konsep dasar serta integrasinya ke dalam materi pembelajaran. Studi lain dapat menguji dampak pendekatan epistemologis terhadap pengembangan kemampuan berpikir kritis siswa pada mata pelajaran sains, dengan membandingkan metode pembelajaran tradisional dan berbasis pengetahuan reflektif. Penelitian berikutnya dapat menyelidiki peran aksiologi dalam menilai nilai guna kebijakan pendidikan terhadap kesejahteraan sosial, dengan mengembangkan kerangka evaluasi yang menggabungkan aspek moral, ekonomi, dan lingkungan. Selain itu, analisis komparatif terhadap interpretasi ontologis, epistemologis, dan aksiologis dalam berbagai disiplin ilmu sosial dapat memberikan wawasan tentang konsistensi filosofis dalam praktik pendidikan di Indonesia. Akhirnya, evaluasi longitudinal mengenai implementasi prinsip-prinsip filsafat ilmu dalam program pelatihan guru dapat mengidentifikasi faktor-faktor pendukung dan penghambat keberlanjutan perubahan pedagogis. Metode penelitian kualitatif dengan wawancara mendalam serta analisis dokumen dapat memperkaya pemahaman tentang bagaimana nilai-nilai filosofis diterjemahkan ke dalam kebijakan pendidikan regional. Dengan melibatkan pemangku kepentingan seperti guru, administrator, dan orang tua, studi ini juga dapat menguji persepsi mereka terhadap relevansi tiga aspek filsafat ilmu dalam meningkatkan kualitas pembelajaran.

Read online
File size303.92 KB
Pages9
DMCAReport

Related /

ads-block-test