FTKJOURNAL UINMATARAMFTKJOURNAL UINMATARAM

El-Tsaqafah : Jurnal Jurusan PBAEl-Tsaqafah : Jurnal Jurusan PBA

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan perbedaan fonologis dan leksikal isolek Sambori dan Tarlawi. Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif dengan kajian perspektif diakronis. Data dikumpulkan dengan menggunakan instrumen penelitian yang menyediakan 200 kosakata dasar Morish Swadesh dan 867 kosa kata buudaya dan selain kosa kata kata dasar yang dikelompokkan sesuai dengan medan maknanya, dengan menggunakan metode cakap dan metode simak. Pengambilan data dengan pemilihan tiga orang informan dari setiap desa dengan memperhatikan kriteria tertentu. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode metode cakap dan metode simak. Metode analisis data dilakukan dengan metode Padan Intralingual dengan teknik dasar hubung banding intralingual. Analisis selanjutnya yaitu menghitung presentase status isolek di daerah pengamatan menggunakan metode dialektometri. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan ditemukan dua perbedaan fonologi yaitu perbedaan vokal dan perbedaan konsonan. Sementara itu berdasarkan hasil perhitungan persentase penentuan perbedaan fonologi di daerah penelitian desa Sambori dan desa Tarlawi berdasarkan perhitungan dialektometri ditemukan jumlah beda sebesar (12,5 %) yang menunjukkan adanya perbedaan dialek antara desa Tarlawi dan desa Sambori pada tataran fonologi. Kemudian, pada tataran leksikal ditemukan jumlah beda sebesar (36,5%) yang berarti menunjukkan adanya perbedaan subdialek antara isolek Sambori dan Isolek Tarlawi.

Penelitian ini mengidentifikasi perbedaan fonologis, baik pada tataran vokal maupun konsonan (termasuk pola korespondensi dan variasi), serta perbedaan leksikal antara isolek Sambori dan Tarlawi.Melalui dialektometri, ditemukan perbedaan fonologis sebesar 12,5% yang mengindikasikan perbedaan dialek, dan perbedaan leksikal sebesar 36,5% yang menunjukkan perbedaan subdialek.Temuan ini memiliki implikasi signifikan bagi linguistik terapan, pemetaan dialek, dan upaya pelestarian bahasa lokal, menekankan perlunya mempertimbangkan aspek fonologi dan leksikon secara komprehensif.

Mengingat bahwa penelitian ini telah berhasil mengidentifikasi perbedaan fonologis dan leksikal yang signifikan antara isolek Sambori dan Tarlawi, ada beberapa arah penelitian lanjutan yang sangat menarik untuk dieksplorasi. Pertama, akan sangat bermanfaat untuk mendalami bagaimana faktor sosial budaya yang lebih spesifik, seperti pola interaksi masyarakat antar desa, pengaruh migrasi penduduk, atau bahkan tingkat akses terhadap pendidikan formal, secara konkret berkontribusi dalam membentuk dan mempertahankan variasi bahasa yang ditemukan. Pendekatan sosiolinguistik kualitatif dengan wawancara mendalam atau observasi partisipan dapat mengungkap dinamika penggunaan bahasa dalam kehidupan sehari-hari. Kedua, untuk mendapatkan pemahaman yang lebih luas tentang kekerabatan bahasa di wilayah tersebut, penelitian selanjutnya bisa memperluas cakupan geografis dengan menyertakan isolek-isolek lain dalam rumpun dialek Wawo, atau melakukan perbandingan detail dengan dialek Serasuba yang disebutkan di latar belakang. Penambahan informan yang lebih beragam dari setiap lokasi pengamatan akan memperkuat validitas temuan. Ketiga, meskipun penelitian ini mengklaim perspektif diakronis, analisis mendalam tentang bagaimana perubahan fonologis dan leksikal ini berkembang seiring waktu masih menjadi celah. Studi diakronis yang lebih fokus, mungkin dengan melacak bentuk-bentuk historis atau melakukan perbandingan dengan rekonstruksi proto-bahasa regional, dapat membantu mengungkap proses dan kronologi munculnya perbedaan yang ada saat ini. Ini juga dapat mengidentifikasi apakah ada faktor eksternal, seperti kontak dengan bahasa lain, yang mempercepat atau memperlambat perubahan tersebut.

Read online
File size453.8 KB
Pages21
DMCAReport

Related /

ads-block-test