STIALANBANDUNGSTIALANBANDUNG

Jurnal Ilmu Administrasi: Media Pengembangan Ilmu dan Praktek AdministrasiJurnal Ilmu Administrasi: Media Pengembangan Ilmu dan Praktek Administrasi

Artificial Intelligence (AI) memainkan peran penting dalam mendorong reformasi kebijakan publik dengan meningkatkan efisiensi birokrasi, meningkatkan kualitas pengambilan keputusan, dan memungkinkan personalisasi layanan publik. Teknologi seperti pembelajaran mesin, analitik prediktif, dan sistem pengambilan keputusan otomatis memungkinkan pemerintah untuk memproses data dalam skala besar, memprediksi kebutuhan masyarakat, dan mengoptimalkan pengiriman layanan di berbagai sektor. Studi ini menggunakan Tinjauan Literatur Sistematis (SLR) dengan menganalisis 40 artikel peer-reviewed yang diterbitkan antara tahun 2010 dan 2024 untuk memeriksa pendekatan terhadap implementasi AI, tantangan yang terkait, hasil, dan pola adopsi dalam kebijakan publik. Temuan menunjukkan bahwa AI telah banyak diadopsi di sektor-sektor seperti kesehatan, keamanan, dan administrasi publik. Implementasi teknologi ini telah meningkatkan secara nyata efisiensi operasional, meningkatkan kualitas pengambilan keputusan, dan mendukung layanan publik yang lebih adaptif dan personal. Namun demikian, penerapan AI di sektor publik terus menghadapi tantangan signifikan, termasuk bias algoritma, kekhawatiran etis, batasan teknis, hambatan regulasi, dan risiko privasi data. Analisis lintas sektoral juga mengungkapkan disparitas dalam tingkat adopsi, dengan negara-negara maju menunjukkan tingkat integrasi yang lebih tinggi daripada negara-negara berkembang. Secara keseluruhan, studi ini menekankan potensi besar AI dalam mendorong tata kelola yang didorong oleh data. Oleh karena itu, tata kelola AI yang etis, kerangka regulasi yang transparan, dan kolaborasi lintas sektoral sangat penting untuk memastikan implementasi AI yang bertanggung jawab dan berkelanjutan.

Studi ini mengonfirmasi bahwa AI telah muncul sebagai penggerak utama reformasi sektor publik dengan meningkatkan efisiensi birokrasi, meningkatkan akurasi dan ketepatan waktu pengambilan keputusan yang didorong data, dan memungkinkan layanan publik yang lebih adaptif dan personal di bidang seperti kesehatan, keamanan, dan administrasi publik, sambil mengungkapkan tantangan serius termasuk bias algoritma, risiko privasi, batasan teknis dan infrastruktur, kesenjangan regulasi, dan tingkat adopsi yang tidak merata antara negara dan sektor, yang semuanya menunjukkan bahwa manfaat AI dalam tata kelola hanya dapat direalisasikan secara berkelanjutan ketika didukung oleh jaminan etis, hukum, dan institusional yang kuat.

Untuk penelitian lanjutan, disarankan agar Indonesia mengadopsi kerangka etika dan tata kelola AI yang terintegrasi untuk sektor publik yang menggabungkan prinsip-prinsip jelas seperti keadilan, transparansi, akuntabilitas, pengawasan manusia, dan penghormatan privasi dengan mekanisme konkret seperti penilaian bias dan dampak yang wajib untuk sistem AI pemerintah berisiko tinggi (misalnya penargetan bantuan sosial, polisi prediktif, dan diagnosis yang didukung AI di rumah sakit publik), persyaratan manusia-dalam-loop untuk keputusan administratif otomatis (izin, manfaat, dan prioritas kasus), tata kelola data yang diseragamkan sejalan dengan Satu Data Indonesia untuk memastikan data pelatihan yang aman dan berkualitas tinggi, dan pengaturan institusional seperti komite etika AI independen dan pedoman spesifik sektor yang berakar pada Pancasila dan STRANAS AI sehingga setiap implementasi di kementerian dan pemerintah daerah dinilai tidak hanya untuk peningkatan efisiensi tetapi juga untuk efeknya pada kesetaraan, perlindungan hak, dan kepercayaan publik. Penelitian masa depan harus mengeksplorasi dampak sosial jangka panjang AI dalam administrasi publik, dengan fokus pada kepercayaan publik, implementasi AI yang etis, dan keseimbangan antara automasi dan pengawasan manusia. Selain itu, studi perbandingan lebih lanjut di antara berbagai model tata kelola dapat memberikan wawasan yang lebih dalam tentang praktik terbaik untuk reformasi kebijakan yang didorong AI. Dengan mengatasi area ini, AI dapat terus berkembang sebagai alat untuk meningkatkan tata kelola sambil memastikan keadilan, akuntabilitas, dan inklusivitas dalam pembuatan kebijakan publik.

  1. The Transformative Potential of Artificial Intelligence for Public Sector Reform - Longo - 2024 - Canadian... doi.org/10.1111/capa.12587The Transformative Potential of Artificial Intelligence for Public Sector Reform Longo 2024 Canadian doi 10 1111 capa 12587
  2. Artificial Intelligence in Government: Taking Stock and Moving Forward - Rony Medaglia, J. Ramon Gil-Garcia,... journals.sagepub.com/doi/10.1177/08944393211034087Artificial Intelligence in Government Taking Stock and Moving Forward Rony Medaglia J Ramon Gil Garcia journals sagepub doi 10 1177 08944393211034087
  1. #administrasi publik#administrasi publik
  2. #central lombok#central lombok
Read online
File size406.83 KB
Pages14
Short Linkhttps://juris.id/p-3nm
Lookup LinksGoogle ScholarGoogle Scholar, Semantic ScholarSemantic Scholar, CORE.ac.ukCORE.ac.uk, WorldcatWorldcat, ZenodoZenodo, Research GateResearch Gate, Academia.eduAcademia.edu, OpenAlexOpenAlex, Hollis HarvardHollis Harvard
DMCAReport

Related /

ads-block-test