UNUUNU

Al-Iqro': Journal of Islamic StudiesAl-Iqro': Journal of Islamic Studies

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hakikat, sumber, dan klasifikasi pengetahuan dari perspektif filsafat Barat dan pemikiran Islam. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif melalui metode studi kepustakaan, data dikumpulkan dari literatur primer dan sekunder yang relevan. Analisis dilakukan melalui pendekatan historis dan tematik dengan menelaah teks-teks filosofis serta literatur Islam klasik dan kontemporer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa filsafat Barat mengklasifikasikan pengetahuan berdasarkan asal-usulnya, yaitu empiris (berbasis pengalaman), rasional (berbasis akal), dan intuitif (berbasis intuisi), serta membedakan antara pengetahuan a priori (sebelum pengalaman) dan a posteriori (setelah pengalaman). Sementara itu, epistemologi Islam memandang wahyu, akal, dan indra sebagai sumber pengetahuan yang saling melengkapi dan tidak saling menegasikan. Islam juga mengklasifikasikan pengetahuan secara hierarkis, seperti ilm al-yaqīn (pengetahuan melalui informasi yang sahih), ayn al-yaqīn (pengetahuan melalui penglihatan langsung), dan haqq al-yaqīn (pengetahuan yang bersifat hakiki dan meyakinkan). Selain itu, pengetahuan dalam Islam dibedakan menjadi ilmu naqliyah dan aqliyah, fardhu ain dan fardhu kifayah, serta ilmu duniawi dan ukhrawi. Jika dibandingkan secara komparatif, epistemologi Barat cenderung bersifat sekuler dan memisahkan dimensi spiritual dari sumber pengetahuan, sedangkan Islam mengintegrasikan dimensi ilahiyah dalam keseluruhan proses epistemik. Dengan demikian, paradigma pengetahuan dalam Islam bersifat holistik dan transendental, berbeda dari pendekatan Barat yang cenderung dualistik dan fragmentaris. Temuan ini menggarisbawahi bahwa dalam Islam, ilmu bukan hanya alat untuk memahami realitas, tetapi juga merupakan sarana untuk mendekatkan diri kepada Tuhan dan membangun kehidupan yang bermakna. Penelitian ini menekankan pentingnya pendekatan integratif dalam memahami dan mengembangkan ilmu, khususnya dalam menghadapi tantangan dikotomi keilmuan yang masih mengakar dalam dunia pendidikan kontemporer. Dalam konteks ini, pemikiran Islam dan filsafat Barat sebenarnya dapat saling memperkaya. Meskipun epistemologi Barat cenderung menekankan aspek rasional dan empiris secara terpisah dari dimensi spiritual, pendekatan sistematis dan analitis yang dikembangkan dalam tradisi Barat dapat melengkapi wawasan Islam yang bersifat transendental dan etis. Dengan mengaitkan keduanya secara kritis dan selektif, terbuka kemungkinan untuk membentuk kerangka ilmu yang lebih utuh yang tidak hanya berorientasi pada kemajuan teknis, tetapi juga bermakna secara spiritual dan etis bagi kemanusiaan.

Integrasi keilmuan antara perspektif filsafat dan Islam bukan sekadar pilihan metodologis, melainkan kebutuhan mendasar dalam merumuskan sistem pendidikan dan peradaban yang utuh.Klasifikasi pengetahuan yang disandarkan pada keseimbangan antara akal, wahyu, dan pengalaman empirik memberikan arah baru bagi pendidikan yang tidak hanya mencerdaskan intelektualitas, tetapi juga menumbuhkan dimensi moral, spiritual, dan sosial.Dalam konteks ini, pendidikan ideal adalah yang mampu membentuk manusia sebagai subjek yang berpikir kritis, bertindak etis, dan menyadari tanggung jawab transendennya.Pendekatan integratif ini sekaligus menjadi jembatan untuk mengatasi dikotomi lama antara ilmu duniawi dan ukhrawi, serta menawarkan kerangka epistemologis yang menyatukan antara rasionalitas modern dan nilai-nilai keimanan.Maka, pengembangan ilmu pengetahuan ke depan harus diarahkan untuk menjadi jalan menuju kebijaksanaan dan kebermaknaan hidup, bukan sekadar akumulasi informasi atau kekuasaan teknologis.

Berdasarkan penelitian ini, terdapat beberapa saran penelitian lanjutan yang dapat dikembangkan. Pertama, penelitian lebih lanjut dapat dilakukan untuk mengeksplorasi bagaimana prinsip-prinsip epistemologi Islam dapat diintegrasikan ke dalam kurikulum pendidikan formal, khususnya dalam mata pelajaran ilmu pengetahuan alam dan sosial. Hal ini dapat dilakukan dengan mengembangkan model pembelajaran yang menggabungkan pendekatan ilmiah dengan nilai-nilai keislaman, sehingga menghasilkan pemahaman yang lebih holistik dan bermakna bagi siswa. Kedua, penelitian dapat difokuskan pada pengembangan metode pembelajaran yang efektif untuk menumbuhkan kemampuan berpikir kritis dan reflektif pada siswa, berdasarkan prinsip-prinsip epistemologi Islam. Metode ini dapat melibatkan diskusi kelompok, studi kasus, dan proyek penelitian yang mendorong siswa untuk mempertanyakan asumsi-asumsi dasar dan mencari solusi yang kreatif dan inovatif. Ketiga, penelitian dapat dilakukan untuk mengkaji bagaimana teknologi dapat dimanfaatkan sebagai alat untuk memfasilitasi integrasi ilmu pengetahuan dan nilai-nilai keislaman. Hal ini dapat dilakukan dengan mengembangkan aplikasi atau platform digital yang menyediakan akses ke sumber-sumber informasi yang relevan, serta memfasilitasi interaksi dan kolaborasi antara siswa, guru, dan ahli di berbagai bidang. Dengan menggabungkan ketiga saran ini, diharapkan dapat tercipta sistem pendidikan yang mampu menghasilkan lulusan yang tidak hanya memiliki pengetahuan dan keterampilan yang mumpuni, tetapi juga memiliki karakter yang kuat, moral yang tinggi, dan kesadaran sosial yang tinggi.

  1. #berpikir kritis#berpikir kritis
  2. #pemikiran islam#pemikiran islam
Read online
File size363.65 KB
Pages20
Short Linkhttps://juris.id/p-3mt
Lookup LinksGoogle ScholarGoogle Scholar, Semantic ScholarSemantic Scholar, CORE.ac.ukCORE.ac.uk, WorldcatWorldcat, ZenodoZenodo, Research GateResearch Gate, Academia.eduAcademia.edu, OpenAlexOpenAlex, Hollis HarvardHollis Harvard
DMCAReport

Related /

ads-block-test