JOURNALMPCIJOURNALMPCI
Journal of Health and Nutrition ResearchJournal of Health and Nutrition ResearchHemoglobin (Hb) adalah komponen sel darah merah yang berfungsi mengangkut oksigen ke seluruh tubuh. Penurunan kadar hemoglobin menyebabkan anemia. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan kadar Hb ideal ≥ 11 gr/dL. Berbagai faktor seperti etnis, kondisi lingkungan, usia, budaya, paritas, nilai gizi, dan status sosioekonomi dapat memengaruhi kejadian anemia selama kehamilan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan kadar Hb pada ibu hamil trimester pertama dan ketiga, baik pada suku asli Papua (OAP) maupun non-OAP. Jenis penelitian ini adalah analitik kuantitatif dengan desain komparatif. Populasi penelitian adalah 290 ibu hamil yang memeriksakan diri di Puskesmas Malawili. Jumlah sampel adalah 36 orang dengan teknik purposive sampling. Hasil menunjukkan tidak ada perbedaan signifikan (p > 0,05) kadar hemoglobin antara ibu hamil trimester pertama dan ketiga pada kategori OAP dan Non-OAP. Rata-rata kadar hemoglobin ibu hamil anemis dan non-anemis di trimester pertama adalah 11,076 dan di trimester ketiga 10,850. Penelitian ini menunjukkan kejadian anemia lebih tinggi pada ibu hamil trimester ketiga yang tidak mendapat suplementasi zat besi dan asam folat (non-OAP) karena kurangnya pengetahuan tentang persiapan selama kehamilan. Disarankan untuk meningkatkan peran tenaga kesehatan dalam memberikan informasi kepada ibu hamil guna mengurangi kejadian anemia.
Tidak terdapat perbedaan signifikan pada kadar hemoglobin ibu hamil antara trimester pertama, namun terdapat perbedaan signifikan pada trimester ketiga antara kelompok OAP dan Non-OAP di wilayah kerja Puskesmas Malawili.Prevalensi anemia lebih tinggi pada ibu hamil Non-OAP di trimester ketiga.Temuan ini kemungkinan dipengaruhi oleh perbedaan tingkat pengetahuan mengenai program kehamilan, perilaku kesehatan, serta usia ibu saat hamil, meskipun diperlukan penelitian lebih lanjut untuk memastikan hubungan tersebut.
Pertama, perlu penelitian longitudinal yang mengamati perkembangan kadar hemoglobin secara rutin pada ibu hamil dari trimester pertama hingga ketiga, khususnya membandingkan kelompok OAP dan Non-OAP, untuk memahami perubahan individu sepanjang kehamilan dan faktor yang memengaruhi penurunan hemoglobin di akhir kehamilan. Kedua, penting untuk mengeksplorasi secara mendalam faktor budaya dan sosial seperti tradisi makanan, kepercayaan selama kehamilan, serta akses dan kepatuhan terhadap pelayanan antenatal pada kelompok Non-OAP melalui pendekatan kualitatif seperti wawancara mendalam, agar dapat mengidentifikasi hambatan spesifik yang memengaruhi status gizi dan kesehatan mereka. Ketiga, perlu dilakukan studi yang mengevaluasi efektivitas intervensi edukasi kesehatan yang disesuaikan dengan latar belakang budaya dan tingkat pendidikan ibu hamil, terutama bagi kelompok usia di luar usia reproduksi ideal (<21 atau >35 tahun), untuk melihat apakah pendekatan personalisasi dapat meningkatkan kepatuhan terhadap suplementasi dan kunjungan antenatal serta menurunkan risiko anemia di akhir kehamilan.
| File size | 383.11 KB |
| Pages | 7 |
| DMCA | Report |
Related /
STIKESHBSTIKESHB 07 Kelurahan Landasan Ulin Utara Banjarbaru tahun 2018, variabel umur, kelengkapan APD, lama penyemprotan, dan frekuensi penyemprotan tidak menunjukkan 07 Kelurahan Landasan Ulin Utara Banjarbaru tahun 2018, variabel umur, kelengkapan APD, lama penyemprotan, dan frekuensi penyemprotan tidak menunjukkan
STIKMKSSTIKMKS Anemia adalah kondisi kadar hemoglobin di bawah nilai normal, di Indonesia sebagian besar disebabkan kekurangan zat besi dari makanan sehari-hari. DampaknyaAnemia adalah kondisi kadar hemoglobin di bawah nilai normal, di Indonesia sebagian besar disebabkan kekurangan zat besi dari makanan sehari-hari. Dampaknya
POLTEKKES KDIPOLTEKKES KDI Kelompok intervensi menerima 150 mL jus buah naga merah dengan 2 g ekstrak jahe per hari, sedangkan kontrol menerima jus tanpa jahe. Kadar hemoglobin diukurKelompok intervensi menerima 150 mL jus buah naga merah dengan 2 g ekstrak jahe per hari, sedangkan kontrol menerima jus tanpa jahe. Kadar hemoglobin diukur
LARPAINSTITUTELARPAINSTITUTE Metode yang digunakan termasuk kuliah interaktif dan diskusi kelompok. Penilaian pengetahuan dilakukan melalui evaluasi pretest dan posttest. Hasil penelitianMetode yang digunakan termasuk kuliah interaktif dan diskusi kelompok. Penilaian pengetahuan dilakukan melalui evaluasi pretest dan posttest. Hasil penelitian
LARPAINSTITUTELARPAINSTITUTE Temuan menunjukkan bahwa pengetahuan yang terbatas tentang anemia serta kepatuhan yang rendah terhadap suplementasi zat besi menjadi faktor utama munculnyaTemuan menunjukkan bahwa pengetahuan yang terbatas tentang anemia serta kepatuhan yang rendah terhadap suplementasi zat besi menjadi faktor utama munculnya
ALMAATAALMAATA Median data kadar hemoglobin pada kelompok normal 14,2 g/dl dan kelompok obesitas 14,5 g/dl. Kadar feritin pada kelompok obesitas lebih tinggi secara signifikanMedian data kadar hemoglobin pada kelompok normal 14,2 g/dl dan kelompok obesitas 14,5 g/dl. Kadar feritin pada kelompok obesitas lebih tinggi secara signifikan
AKPERFATMAWATIAKPERFATMAWATI The data obtained were analyzed using the chi square statistical test with a confidence level of 95%. This study found that the prevalence of anemia wasThe data obtained were analyzed using the chi square statistical test with a confidence level of 95%. This study found that the prevalence of anemia was
AKPERAKPER Penelitian ini menggunakan desain analitikdengan pendekatan cross sectional. Populasi target pada penelitian ini adalah seluruh ibu hamil di Wilayah PuskesmaPenelitian ini menggunakan desain analitikdengan pendekatan cross sectional. Populasi target pada penelitian ini adalah seluruh ibu hamil di Wilayah Puskesma
Useful /
POLTEKKES KDIPOLTEKKES KDI Simpulan: Program MBG perlu diperkuat melalui diversifikasi menu berbasis pangan lokal, monitoring berkelanjutan, dan kolaborasi BGN dengan Satuan PelayananSimpulan: Program MBG perlu diperkuat melalui diversifikasi menu berbasis pangan lokal, monitoring berkelanjutan, dan kolaborasi BGN dengan Satuan Pelayanan
APTKLHIAPTKLHI Responden dipilih secara purposif, berdasarkan umur dan jenis kelamin (n=65 orang). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 29 jenis buah-buahan yangResponden dipilih secara purposif, berdasarkan umur dan jenis kelamin (n=65 orang). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 29 jenis buah-buahan yang
ALMAATAALMAATA Makanan yang paling sering dikonsumsi oleh responden adalah singkong. Makanan sumber goitrogenik yang berhubungan dengan kejadian gondok adalah singkong,Makanan yang paling sering dikonsumsi oleh responden adalah singkong. Makanan sumber goitrogenik yang berhubungan dengan kejadian gondok adalah singkong,
ALMAATAALMAATA Berdasarkan hasil penelitian ini, tepung ulat sagu diharapkan dapat diterapkan secara langsung untuk memperbaiki kondisi kurang energi protein pada anakBerdasarkan hasil penelitian ini, tepung ulat sagu diharapkan dapat diterapkan secara langsung untuk memperbaiki kondisi kurang energi protein pada anak