GLOBALHEALTHSCIENCEGROUPGLOBALHEALTHSCIENCEGROUP

Jurnal Peduli MasyarakatJurnal Peduli Masyarakat

Keterlibatan kader dalam masyarakat sangat membantu dalam memotivasi ibu menyusui, sehingga tercapai keberhasilan pemberian ASI eksklusif. Motivasi ini diberikan melalui cara peningkatan produksi ASI. Kader sebagai pemberi motivasi perlu diberikan pengetahuan mengenai prosedur peningkatan produksi ASI, salah satunya prosedur breastcare. Program Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) bertujuan agar kader mengetahui dan memahami pentingnya ASI eksklusif, mengetahui cara meningkatkan produksi ASI, serta mampu mempraktikkan prosedur breastcare sehingga dapat memotivasi ibu untuk memberikan ASI secara eksklusif. Metode pelaksanaan melibatkan 20 kader dari 5 RW, mencakup penyuluhan mengenai kesehatan ibu menyusui dan ASI eksklusif, pelatihan prosedur breastcare, pendampingan praktik, serta monitoring dan evaluasi. Hasil menunjukkan bahwa 100% kader mampu menjelaskan kesehatan ibu menyusui dan manfaat ASI eksklusif, serta 90% kader mampu melakukan prosedur breastcare dengan benar.

Kegiatan pengabdian masyarakat yang ditujukan kepada kader kesehatan terdiri dari tiga tahap, yaitu penyuluhan, pelatihan, dan pendampingan dalam pelaksanaan prosedur breastcare.Setelah kegiatan, mayoritas kader memiliki pengetahuan yang baik mengenai kesehatan ibu menyusui dan pentingnya ASI eksklusif.Sebanyak 90% kader mampu mengetahui dan mempraktikkan cara meningkatkan produksi ASI dengan breastcare sesuai standar operasional prosedur.

Pertama, perlu dikaji lebih dalam bagaimana efektivitas pendampingan oleh kader terhadap peningkatan produksi ASI pada ibu menyusui dalam skala yang lebih luas dan jangka panjang, apakah pengetahuan dan keterampilan kader yang telah ditingkatkan benar-benar berdampak pada lama pemberian ASI eksklusif di tingkat keluarga. Kedua, penting untuk meneliti faktor-faktor sosial budaya yang berpengaruh terhadap keberhasilan program ini, misalnya bagaimana peran suami dan keluarga besar dalam menerima arahan dari kader terkait perawatan payudara dan ASI. Ketiga, perlu dilakukan penelitian tentang integrasi pelatihan breastcare ke dalam program rutin posyandu secara berkelanjutan, serta bagaimana model pelatihan berbasis komunitas dapat diperkuat agar kader tidak hanya mampu melakukan praktik tapi juga menjadi agen perubahan yang mandiri di lingkungannya. Penelitian lanjutan juga sebaiknya mengevaluasi metode pelatihan yang digunakan untuk melihat apakah kombinasi ceramah, demonstrasi, dan pendampingan cukup efektif dalam mempertahankan kompetensi kader seiring waktu. Selain itu, perlu dicari tahu hambatan apa yang dihadapi kader saat mempraktikkan ilmu baru di lapangan dan bagaimana mereka mengatasinya. Studi lanjutan juga bisa melihat dampak langsung dari intervensi kader terhadap kecemasan ibu menyusui dan tingkat keberhasilan laktasi. Model pemberdayaan kader ini juga bisa dikembangkan dengan melibatkan tokoh agama atau tokoh masyarakat untuk meningkatkan kredibilitas pesan kesehatan. Pengukuran outcome penelitian sebaiknya tidak hanya berfokus pada pengetahuan dan keterampilan kader, tetapi juga pada perubahan perilaku ibu menyusui. Akhirnya, penting untuk mengeksplorasi penggunaan media sederhana seperti leaflet atau video pendek berbasis lokal sebagai alat bantu kader dalam menyampaikan informasi, agar pesan lebih mudah dipahami dan diingat oleh ibu-ibu. Dengan melengkapi dan mengembangkan temuan dari penelitian ini, diharapkan tercipta model pemberdayaan kader yang lebih holistik, berkelanjutan, dan adaptif terhadap konteks masyarakat setempat.

  1. #program pengabdian masyarakat#program pengabdian masyarakat
  2. #faktor sosial budaya#faktor sosial budaya
Read online
File size429.88 KB
Pages6
Short Linkhttps://juris.id/p-2Wc
Lookup LinksGoogle ScholarGoogle Scholar, Semantic ScholarSemantic Scholar, CORE.ac.ukCORE.ac.uk, WorldcatWorldcat, ZenodoZenodo, Research GateResearch Gate, Academia.eduAcademia.edu, OpenAlexOpenAlex, Hollis HarvardHollis Harvard
DMCAReport

Related /

ads-block-test