SINTHOPSINTHOP

Sinthop: Media Kajian Pendidikan, Agama, Sosial dan BudayaSinthop: Media Kajian Pendidikan, Agama, Sosial dan Budaya

Artikel ini menyelidiki peran penting ulama dayah, yaitu para cendekiawan Islam tradisional, dalam membentuk diskursus dan praktik toleransi dan pluralisme di Aceh, Indonesia. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif yang menggabungkan tinjauan pustaka, analisis dokumen, dan wawancara semi-terstruktur dengan ulama dayah terkemuka dan anggota Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh, penelitian ini memeriksa bagaimana para cendekiawan ini mengkonseptualisasikan dan mewujudkan toleransi di masyarakat yang ditandai dengan identitas Islam yang kuat dan keragaman yang semakin meningkat. Temuan penelitian mengungkapkan bahwa ulama dayah menafsirkan toleransi sebagai prinsip Islam yang berakar pada tradisi Syafii, dengan menekankan penghormatan terhadap perbedaan sambil mempertahankan batas-batas doktrinal. Strategi mereka dalam mengelola keragaman intra-Muslim dan hubungan antar-kepercayaan termasuk bimbingan persuasif, mediasi konflik, pendidikan, dan kolaborasi institusional melalui MPU. Pengaruh ulama dayah melampaui urusan ritual hingga membentuk norma-norma sosial dan kebijakan publik, menjadikan mereka sebagai agen kunci dalam menjaga kohesi sosial. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pengalaman masyarakat Aceh menunjukkan pentingnya otoritas agama yang terbenam dalam budaya dalam menegosiasikan pluralisme, dan menekankan tantangan dan peluang yang terus berlanjut untuk kepemimpinan adaptif dalam masyarakat yang semakin kompleks.

Studi ini menunjukkan bahwa ulama dayah menduduki posisi sentral dan berkelanjutan dalam membentuk dinamika toleransi dan pluralisme dalam masyarakat Aceh.Pemahaman mereka tentang toleransi berakar pada tradisi Islam, terutama mazhab Syafii, dengan menekankan penghormatan terhadap perbedaan sambil mempertahankan ortodoksi agama dan adat istiadat lokal.Ulama dayah menolak relativisme agama, tetapi mereka secara aktif mempromosikan peradaban, dialog, dan koeksistensi damai baik di dalam komunitas Muslim maupun dalam hubungan dengan non-Muslim.Panduan mereka mencegah sikap merendahkan dan menciptakan lingkungan yang penuh pengekangan dan saling menghormati, memperkuat merek khas harmoni agama Aceh.Strategi yang digunakan oleh ulama dayah dalam mengelola keragaman intra-Muslim dan hubungan antar-kepercayaan bersifat multifaset.Melalui otoritas persuasif, mediasi, pendidikan, dan kolaborasi dengan institusi agama dan pemerintahan, mereka mengubah sumber potensi konflik menjadi peluang untuk dialog dan pemahaman.Majelis Permusyawaratan Ulama Aceh (MPU) lebih menginstitusionalisasikan pengaruh mereka, memberikan bimbingan yang otoritatif yang membentuk praktik komunitas dan kebijakan lokal.Pengaruh ulama dayah melampaui urusan ritual dan doktrinal untuk mencakup norma-norma sosial yang lebih luas dan perilaku komunitas.Dengan mengintegrasikan ajaran toleransi ke dalam kurikulum pendidikan dan diskursus publik, mereka memainkan peran kunci dalam menjaga kohesi sosial dalam pengaturan pluralistik.Namun, perubahan sosial yang terus berlangsung, termasuk dampak globalisasi dan bentuk-bentuk komunikasi baru, menyajikan tantangan yang membutuhkan kepemimpinan adaptif dan keterlibatan berkelanjutan.Secara kesimpulan, pengalaman Aceh menggambarkan bagaimana otoritas agama, ketika dijalankan dengan bijaksana dan sensitivitas budaya, dapat berfungsi sebagai sumber daya vital untuk menegosiasikan pluralisme dan mempertahankan toleransi dalam masyarakat yang berubah dengan cepat.Penelitian masa depan dapat lebih menyelidiki bagaimana peran ulama dayah yang berkembang berinteraksi dengan realitas sosial yang muncul, dan bagaimana kepemimpinan mereka dapat menginformasikan strategi yang lebih luas untuk koeksistensi damai dalam komunitas Muslim yang beragam.

Untuk penelitian lanjutan, disarankan untuk menyelidiki lebih lanjut bagaimana peran ulama dayah yang berkembang berinteraksi dengan realitas sosial yang muncul di Aceh, terutama dalam konteks globalisasi dan teknologi informasi. Penelitian ini dapat mengeksplorasi strategi-strategi baru yang digunakan oleh ulama dayah untuk tetap relevan dan efektif dalam menghadapi tantangan-tantangan baru, seperti munculnya sumber-sumber otoritas alternatif dan perubahan demografis. Selain itu, penelitian dapat fokus pada bagaimana kepemimpinan ulama dayah dapat memberikan kontribusi pada strategi yang lebih luas untuk koeksistensi damai dalam komunitas Muslim yang beragam, dengan mempertimbangkan tantangan-tantangan unik yang dihadapi oleh masyarakat Aceh dalam konteks pluralisme dan toleransi. Akhirnya, penelitian dapat menyelidiki dampak jangka panjang dari strategi-strategi yang digunakan oleh ulama dayah dalam mengelola keragaman intra-Muslim dan hubungan antar-kepercayaan, dan bagaimana strategi-strategi ini dapat diterapkan atau disesuaikan dalam konteks-konteks lain di Indonesia atau di luar negeri.

  1. Ulama Dayah and the Construction of Tolerance and Pluralism in Acehnese Society | Sinthop: Media Kajian... doi.org/10.69548/sinthop.v4.i1.23.75-83Ulama Dayah and the Construction of Tolerance and Pluralism in Acehnese Society Sinthop Media Kajian doi 10 69548 sinthop v4 i1 23 75 83
  1. #prinsip islam#prinsip islam
  2. #kohesi sosial#kohesi sosial
Read online
File size276.35 KB
Pages9
Short Linkhttps://juris.id/p-2Tn
Lookup LinksGoogle ScholarGoogle Scholar, Semantic ScholarSemantic Scholar, CORE.ac.ukCORE.ac.uk, WorldcatWorldcat, ZenodoZenodo, Research GateResearch Gate, Academia.eduAcademia.edu, OpenAlexOpenAlex, Hollis HarvardHollis Harvard
DMCAReport

Related /

ads-block-test