JELEJELE

Journal of English Language and EducationJournal of English Language and Education

Kemampuan berkomunikasi secara lisan dalam bahasa asing masih mengalami kendala bagi para pembelajar bahasa di Indonesia. Pengalaman belajar mata pelajaran bahasa Inggris dirasa belum cukup memadai untuk memungkinkan para pembelajar menggunakan bahasa Inggris secara lisan. Beberapa penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa faktor eksternal mahasiswa menjadi penghambat ketidakmampuan mereka berkomunikasi dalam bahasa asing, seperti kurangnya penguasaan kosa kata, rendahnya motivasi, minimnya praktik, serta strategi pengajaran yang monoton. Namun, mengingat proses komunikasi tidak hanya melibatkan aspek fisik, aspek psikologis perlu diakui sebagai faktor potensial yang dapat menghambat kemampuan berkomunikasi lisan dalam bahasa asing. Penelitian ini menunjukkan bahwa faktor psikologis mahasiswa, khususnya kecemasan berkomunikasi, berperan menghambat kemampuan mahasiswa berkomunikasi. Temuan menunjukkan terdapat empat faktor yang menyebabkan ketidakmampuan mahasiswa berkomunikasi dalam bahasa Inggris sebagai bahasa asing, yaitu 1) kemampuan berbahasa, 2) evaluasi dosen, 3) jenis tugas komunikasi, dan 4) umpan balik dari dosen.

Beberapa faktor menyebabkan kecemasan komunikasi lisan mahasiswa, yaitu kesadaran akan kemampuan berbahasa yang rendah, kurangnya praktik, serta cara dosen mengevaluasi kinerja mahasiswa.Mahasiswa menyadari keterbatasan kosa kata dan kurangnya kepercayaan diri ketika harus tampil secara individu.Selain itu, kurangnya contoh atau panduan dari dosen di awal perkuliahan serta evaluasi yang cenderung negatif turut meningkatkan kecemasan mahasiswa saat berpresentasi.

Pertama, perlu diteliti bagaimana pengaruh pemberian contoh presentasi ideal oleh dosen terhadap tingkat kecemasan berkomunikasi lisan mahasiswa dalam kelas presentasi, untuk melihat apakah modelisasi kinerja secara langsung dapat mengurangi kecemasan. Kedua, penting untuk mengeksplorasi efektivitas metode pembelajaran kolaboratif, seperti latihan presentasi berpasangan atau kelompok kecil, dalam membangun kepercayaan diri dan mengurangi hambatan psikologis sebelum tampil individu. Ketiga, perlu dikaji bagaimana transformasi sistem umpan balik dosen dari pendekatan korektif menjadi pendekatan yang lebih mendukung dan membangun berdampak pada persepsi mahasiswa terhadap evaluasi dan tingkat kecemasan mereka saat berbicara di depan umum. Studi-studi ini dapat dilakukan secara bertahap untuk membangun kerangka pembelajaran yang lebih ramah bagi mahasiswa yang mengalami kecemasan komunikasi lisan, dengan fokus pada intervensi pedagogis yang konkret dan dapat diadaptasi dalam konteks perkuliahan bahasa Inggris di perguruan tinggi. Hasilnya diharapkan dapat memberikan rekomendasi praktis bagi dosen dalam merancang aktivitas pembelajaran yang tidak hanya meningkatkan kemampuan berbicara, tetapi juga mengurangi hambatan psikologis yang dialami mahasiswa. Pendekatan penelitian kualitatif seperti studi kasus atau etnografi kelas dapat digunakan untuk memahami dinamika interaksi dan pengalaman subjektif mahasiswa secara mendalam. Selain itu, penelitian kuantitatif dengan desain eksperimen kuasi dapat diterapkan untuk mengukur perbedaan signifikan dalam tingkat kecemasan sebelum dan sesudah intervensi diberikan. Dengan menggabungkan temuan dari berbagai pendekatan, dapat dikembangkan model pembelajaran holistik yang mempertimbangkan aspek kemampuan bahasa, faktor instruksional, dan kesejahteraan psikologis mahasiswa secara bersamaan.

  1. #model pembelajaran#model pembelajaran
  2. #faktor eksternal#faktor eksternal
Read online
File size540.07 KB
Pages14
Short Linkhttps://juris.id/p-2OT
Lookup LinksGoogle ScholarGoogle Scholar, Semantic ScholarSemantic Scholar, CORE.ac.ukCORE.ac.uk, WorldcatWorldcat, ZenodoZenodo, Research GateResearch Gate, Academia.eduAcademia.edu, OpenAlexOpenAlex, Hollis HarvardHollis Harvard
DMCAReport

Related /

ads-block-test