ITSIITSI

Jurnal Agro EstateJurnal Agro Estate

Luas areal perkebunan kelapa sawit di Indonesia semakin meningkat terus dengan pengusahaan oleh perkebunan besar negara, perkebunan besar swasta dan perkebunan rakyat. Produktivitas tanaman kelapa sawit bervariasi di perusahaan-perusahaan tersebut demikian juga dengan distribusinya di berbagai provinsi. Kelapa sawit ditanam dan tumbuh di berbagai provinsi di Indonesia, perlu dikelompokkan bagaimana pengelolaan kelapa sawit di masing-masing provinsi untuk mengetahui variasi pengelolaan kelapa sawit antar provinsi dan diperoleh upaya memperbaiki produktivitas berdasarkan pengelompokan tersebut. Data yang akan dianalisis merupakan data sekunder yang dikumpulkan dengan studi pustaka. Data dianalisa dengan analisis klaster menggunakan program IBM SPSS 22, dengan variabel terikat yang digunakan adalah provinsi di Indonesia sedangkan variabel bebasnya adalah luas areal perkebunan kelapa sawit yang pengusahaannya oleh perkebunan besar negara, perkebunan besar swasta dan perkebunan rakyat serta produktivitas kelapa sawit di masing-masing perkebunan tersebut sehingga ada total 6 variabel. Hasil dari analisis menunjukkan bahwa diperoleh 5 klaster provinsi di Indonesia yang mengelola kelapa sawit yaitu provinsi yang terbaik adalah Riau, Provinsi yang baik adalah Jambi, Provinsi yang cukup baik adalah Kalimatantan Barat, provinsi yang kurang baik adalah Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan, Provinsi yang paling tidak baik adalah Aceh, Sumatera Barat, Bengkulu, Lampung, Jawa Barat, Banten, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara.

Analisis klaster mengidentifikasi lima kelompok provinsi berdasarkan luas areal perkebunan kelapa sawit dan produktivitasnya.Provinsi Riau termasuk dalam klaster dengan kinerja terbaik, diikuti oleh Jambi dan Kalimantan Barat sebagai klaster baik hingga cukup baik, sementara provinsi Aceh, Sumatera Barat, dan beberapa lainnya masuk dalam klaster kurang baik hingga tidak baik.Hasil ini menunjukkan perlunya upaya peningkatan produktivitas khususnya di provinsi yang tergolong kurang atau tidak baik.

Penelitian selanjutnya dapat mengeksplorasi pengaruh faktor lingkungan seperti jenis tanah, curah hujan, dan suhu terhadap produktivitas kelapa sawit di masing‑mahasiswa provinsi, dengan menggunakan analisis spasial dan model regresi multivariat untuk mengidentifikasi variabel yang paling signifikan. Selanjutnya, perlu dikembangkan sistem pendukung keputusan berbasis data klaster yang dapat memberikan rekomendasi praktik manajemen optimal bagi setiap provinsi, mengintegrasikan informasi luas areal, status pengusahaan, dan produktivitas historis. Selain itu, studi longitudinal yang memantau perubahan produktivitas selama periode lima hingga sepuluh tahun setelah penerapan kebijakan peningkatan produksi di provinsi yang tergolong kurang atau tidak baik dapat memberikan wawasan tentang efektivitas intervensi kebijakan. Penelitian juga dapat menilai peran teknologi presisi pertanian, seperti pemantauan satelit dan sensor tanah, dalam meningkatkan efisiensi input pada kebun kelapa sawit di klaster menengah. Akhirnya, analisis biaya‑manfaat dari diversifikasi tanaman pendamping pada kebun kelapa sawit di provinsi dengan produktivitas rendah dapat membantu merumuskan strategi keberlanjutan ekonomi pertanian.

  1. #studi pustaka#studi pustaka
  2. #tandan kosong kelapa sawit#tandan kosong kelapa sawit
Read online
File size492.08 KB
Pages10
Short Linkhttps://juris.id/p-2LK
Lookup LinksGoogle ScholarGoogle Scholar, Semantic ScholarSemantic Scholar, CORE.ac.ukCORE.ac.uk, WorldcatWorldcat, ZenodoZenodo, Research GateResearch Gate, Academia.eduAcademia.edu, OpenAlexOpenAlex, Hollis HarvardHollis Harvard
DMCAReport

Related /

ads-block-test