UNSIMARUNSIMAR

AgropetAgropet

Tanah sawah di kabupaten Poso, khususnya di sekitar danau Poso, mengandung Fe total sangat tinggi (1,16-2,26%). Padi yang keracunan Fe tumbuh kerdil, anakan sedikit, daun tua berwarna kuning kemerahan berbercak coklat, dan bisa tidak menghasilkan malai dan mati. Untuk mengetahui pengelolaan keracunan Fe pada tanah sawah di sekitar danau Poso, telah dilakukan wawancara kepada petani padi sawah pada 7 desa di wilayah dengan regim curah hujan tinggi, sedang dan rendah dengan berbagai formasi geologi. Dari responden diperoleh informasi bahwa petani padi sawah di kabupaten Poso pada umumnya memilki luas lahan ≥ I ha sebesar 68,57%, umur produktif antara 20 – 60 tahun 94,29% dan tingkat pendidikan sampai Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) 51,43%. Petani yang memiliki luas lahan < I ha sebanyak 31,43%, umur > 60 tahun 5,71%, tingkat pendidikan sampai Sekolah Dasar (SD) 28,57% dan Sekolah Lanjutan Tingkat pertama (SLTP) 20,00%. Semua responden mengetahui keberadaan Fe pada tanah sawah. Sedangkan yang mengetahui gejala keracunan Fe pada padi sawah adalah 2,86% SD, 11,43% SLTP dan 20,00% SLTA; sedangkan yang tidak mengetahui gejala keracunan besi pada padi sawah adalah 25,71% SD, 8,57% SLTP dan 31,43% SLTA. Makin tinggi tingkat pendidikan makin besar persentase petani yang mengetahui gejala keracunan Fe pada padi sawah. Gejala keracunan Fe pada padi sawah menurut petani adalah tanaman tumbuh abnormal, kerdil, tidak berkembang, tidak ada anakan, daun kekuningan, dan akar kemerahan. Untuk mengatasi keracunan Fe pada padi sawah, petani melakukan drainase, memberikan pupuk organik, pupuk kimia, kapur, garam dan menggenangi.

Dari 35 orang responden diperoleh informasi bahwa petani padi sawah di kabupaten Poso, khususnya di sekitar danau Poso, pada umumnya memiliki luas lahan ≥ 1 ha sebesar 68,57%, umur produktif antara 20–60 tahun sebesar 94,29%, dan tingkat pendidikan sampai SLTA sebesar 51,43%.Semua petani responden mengetahui keberadaan Fe pada tanah sawah yang dikelolanya.Namun, hanya sebagian kecil petani (2,86% SD, 11,43% SLTP, dan 20,00% SLTA) yang mengetahui gejala keracunan Fe pada padi sawah.Gejala keracunan Fe menurut petani meliputi tanaman kerdil, daun kekuningan, dan akar kemerahan.Untuk mengatasinya, petani melakukan drainase, memberikan pupuk organik, pupuk kimia, kapur, garam, dan menggenangi.

Penelitian lanjutan dapat fokus pada evaluasi efektivitas kombinasi pupuk organik dan kapur dalam mengurangi kadar Fe di tanah secara jangka panjang. Selain itu, perlu dikaji pengaruh variasi pola pengairan (misalnya, sistem macak-macak) terhadap penurunan keracunan Fe pada padi. Penelitian juga bisa mengeksplorasi potensi tanaman penutup lahan lokal sebagai alternatif biologis untuk mengurangi ketersediaan Fe di tanah. Hal ini penting karena solusi berbasis teknologi pertanian sering kali tidak terjangkau oleh petani kecil. Penelitian dapat melibatkan pendekatan partisipatif untuk memastikan hasilnya relevan dengan kebutuhan praktis petani. Dengan demikian, upaya penelitian harus menggabungkan aspek ilmiah dan sosial ekonomi petani agar solusi yang dihasilkan lebih inklusif dan berkelanjutan.

  1. #padi sawah#padi sawah
  2. #produksi padi#produksi padi
Read online
File size297.89 KB
Pages11
Short Linkhttps://juris.id/p-2bs
Lookup LinksGoogle ScholarGoogle Scholar, Semantic ScholarSemantic Scholar, CORE.ac.ukCORE.ac.uk, WorldcatWorldcat, ZenodoZenodo, Research GateResearch Gate, Academia.eduAcademia.edu, OpenAlexOpenAlex, Hollis HarvardHollis Harvard
DMCAReport

Related /

ads-block-test