STIKESBUDILUHURCIMAHISTIKESBUDILUHURCIMAHI

JKBLJKBL

Indonesia memiliki keberagaman budaya dan kelompok etnis. Sebagai negara kepulauan yang terdiri lebih dari 17.000 pulau dengan populasi sekitar 255 juta jiwa, Indonesia merupakan negara terpadat keempat di dunia. Angka ini juga menunjukkan kekayaan keragaman budaya, etnis, agama, dan bahasa di negara ini. Hubungan antara budaya dan kesehatan sangat erat, di mana keberagaman budaya dan adat istiadat memiliki berbagai pengaruh terhadap perilaku kesehatan. Setiap kelompok etnis mempunyai kebiasaan dan norma yang berbeda satu sama lain. Di suatu daerah, masyarakatnya dapat mengolah sumber daya alam sebagai obat penyakit dengan keahlian dan pengetahuan mereka, yang tidak terlepas dari tradisi turun-temurun. Klien dapat mengalami gegar budaya (culture shock) jika perawat tidak dapat beradaptasi dengan nilai dan keyakinan budaya klien, yang dapat menimbulkan perasaan tidak nyaman, tidak berdaya, dan disorientasi. Berdasarkan hal tersebut, perawat perlu mempelajari, memahami, dan menerapkan asuhan keperawatan yang sesuai dengan latar belakang budaya klien, atau yang dikenal sebagai Keperawatan Transkultural. Makalah ini bertujuan untuk mendeskripsikan bagaimana penerapan Teori Keperawatan Transkultural Giger dan Davidhizar di Indonesia. Giger dan Davidhizar memperkenalkan penilaian transkultural mereka, yang dapat diterapkan pada pasien di semua spesialisasi keperawatan, dan kemudian digabungkan dengan model Warisan Budaya (Heritage model). Ada lima aspek budaya berdasarkan Teori Keperawatan Transkultural Giger dan Davidhizar yang cocok diterapkan di Indonesia, yaitu ruang, waktu, kontrol lingkungan, organisasi sosial, dan variasi biologis.

Teori Keperawatan Transkultural Giger dan Davidhizar sangat relevan untuk diterapkan di Indonesia, mengingat keragaman budaya yang kaya.Penerapan teori ini berfokus pada lima aspek budaya—ruang, waktu, kontrol lingkungan, organisasi sosial, dan variasi biologis—yang penting untuk memahami serta merespons kebutuhan pasien dari berbagai latar belakang etnis.Dengan mengintegrasikan pemahaman budaya ke dalam kurikulum pendidikan perawat, diharapkan asuhan keperawatan dapat diberikan secara lebih optimal, mengurangi gegar budaya, dan mendukung upaya penyembuhan pasien secara efektif melalui adaptasi, negosiasi, atau restrukturisasi budaya.

Penelitian ini telah berhasil mendeskripsikan relevansi Teori Keperawatan Transkultural Giger dan Davidhizar untuk konteks Indonesia yang multikultural, memberikan landasan penting bagi perawat. Namun, ada beberapa arah penelitian lanjutan yang dapat memperkaya pemahaman dan aplikasi teori ini di lapangan. Pertama, akan sangat bermanfaat untuk melakukan studi evaluasi empiris guna mengukur secara langsung efektivitas penerapan model ini di berbagai fasilitas kesehatan di Indonesia. Misalnya, melalui penelitian yang membandingkan hasil perawatan dan tingkat kepuasan pasien antara kelompok yang menerima asuhan keperawatan transkultural dengan kelompok kontrol, kita dapat memahami dampak nyata model ini terhadap kualitas pelayanan dan pengalaman pasien, termasuk sejauh mana gegar budaya dapat diminimalkan. Kedua, mengingat perlunya integrasi elemen budaya ke dalam kurikulum pendidikan perawat, penelitian dapat berfokus pada pengembangan dan validasi instrumen penilaian budaya yang spesifik dan mudah digunakan oleh perawat di Indonesia. Instrumen ini harus mampu menangkap nuansa kelima fenomena budaya yang diuraikan (ruang, waktu, kontrol lingkungan, organisasi sosial, dan variasi biologis) dari berbagai suku bangsa. Selain itu, penelitian dapat mengeksplorasi metode terbaik untuk mengintegrasikan pendidikan transkultural ke dalam kurikulum, memastikan perawat memiliki kompetensi yang memadai. Ketiga, untuk mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam, studi komparatif atau etnografi yang fokus pada praktik keperawatan transkultural di komunitas etnis tertentu akan sangat berharga. Penelitian semacam ini dapat mengungkap praktik-praktik budaya lokal yang mungkin belum tercakup sepenuhnya, serta tantangan unik yang dihadapi perawat saat berinteraksi dengan pasien dari latar belakang budaya yang sangat berbeda, memungkinkan pengembangan strategi adaptasi yang lebih efektif dan personal.

  1. #faktor budaya lokal#faktor budaya lokal
  2. #keberagaman budaya#keberagaman budaya
Read online
File size707.57 KB
Pages9
Short Linkhttps://juris.id/p-20n
Lookup LinksGoogle ScholarGoogle Scholar, Semantic ScholarSemantic Scholar, CORE.ac.ukCORE.ac.uk, WorldcatWorldcat, ZenodoZenodo, Research GateResearch Gate, Academia.eduAcademia.edu, OpenAlexOpenAlex, Hollis HarvardHollis Harvard
DMCAReport

Related /

ads-block-test