IAISUMBARIAISUMBAR

International Journal of ResearchInternational Journal of Research

Pemikiran hadis Mawardi Muhammad dalam kitabnya Hidayah al-Bahits fi Mushthalah al-Hadits menarik untuk dikaji. Hal itu karena kitab yang ditulis dalam bahasa Arab tersebut mendapat sambutan positif dari peminat kajian hadis dan ulumul hadis di Nusantara. Padahal Mawardi Muhammad sendiri adalah ulama non Arab dan tidak pernah studi di Timur Tengah yang notabene pusat kajian hadis dan ulumul hadis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pemikiran hadis Mawardi Muhammad dalam masterpiece-nya, kitab Hidayah al-Bahits fi Mushthalah al-Hadits. Adapun metode penelitian yang digunakan dalam tulisan ini adalah metode penelitian kualitatif dengan jenis penelitian library research. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa di antara pemikiran hadis Mawardi Muhammad dalam kitab Hidayah al-Bahits fi Mushthalah al-Hadits adalah pemikirannya perihal klasifikasi hadis, batasan minimal jumlah perawi hadis mutawatir, dan definisi hadis dhaif serta hukum mengamalkannya. Perihal klasifikasi hadis, Mawardi Muhammad meletakkan jenis hadis masyhur, aziz, shahih, hasan, dan dhaif dalam satu pengklasifikasian. Perihal batasan minimal jumlah perawi hadis mutawatir, Mawardi Muhammad berpendapat tidak ada batasan yang jelas dalam hal tersebut sembari mengkritik pendapat yang menyebut angka-angka tertentu untuk batasan minimal jumlah perawi hadis mutawatir tersebut. Kemudian dalam hal hadis dhaif, Mawardi Muhammad termasuk ulama yang ber-manhaj mutawasith, yakni terbuka bagi pengamalan hadis dhaif dengan syarat-syarat tertentu.

Mawardi Muhammad meninggalkan karya berharga dalam bidang ulumul hadith, yaitu kitab Hidayah al-Bahits fi Mushthalah al-Hadits, yang awalnya sebagai bahan ajar bagi mahasiswanya namun kemudian menjadi referensi luas di Nusantara.Pemikirannya dalam kitab tersebut meliputi klasifikasi hadis yang menggabungkan jenis masyhur, aziz, shahih, hasan, dan dhaif dalam satu kategori hadis ahad, serta penolakannya terhadap batasan angka pasti jumlah perawi hadis mutawatir karena dianggap tidak memiliki dasar kuat.Ia juga menganut manhaj mutawasith dalam mengamalkan hadis dhaif, yang memperbolehkannya dalam konteks fadhail al-amal dengan syarat-syarat tertentu.

Pertama, perlu diteliti bagaimana pemikiran Mawardi Muhammad tentang klasifikasi hadis ahad diterima dan diaplikasikan oleh generasi ulama Nusantara setelahnya, terutama dalam konteks pendidikan pesantren modern, mengingat keunikannya dalam menggabungkan klasifikasi berdasarkan kuantitas dan kualitas perawi. Kedua, penting untuk dikaji secara mendalam alasan teologis dan metodologis di balik penolakan Mawardi terhadap batas angka pasti dalam hadis mutawatir, serta bagaimana pendekatan ini dibandingkan dengan ulama lain dari Minangkabau atau Nusantara yang juga tidak belajar di Timur Tengah. Ketiga, layak dikembangkan penelitian tentang pengaruh lingkungan keilmuan Thawalib Padang Panjang terhadap sikap moderat (manhaj mutawasith) Mawardi dalam mengamalkan hadis dhaif, mengingat institusi tersebut beraliran modernis yang umumnya cenderung ketat terhadap hadis dhaif, sehingga ketegangan antara lingkungan dan pemikiran pribadi ini perlu diungkap lebih jauh sebagai bagian dari otonomi intelektual ulama Nusantara.

Read online
File size473.35 KB
Pages17
DMCAReport

Related /

ads-block-test