UNIBAUNIBA

IDENTIFIKASIIDENTIFIKASI

Perubahan iklim membawa tantangan besar bagi kelancaran operasional bandar udara seiring dengan meningkatnya kejadian cuaca ekstrem seperti banjir bandang, gelombang panas, dan kabut asap. Prosedur tanggap darurat (Emergency Response Plan/ERP) yang selama ini dirancang hanya mengandalkan pola kejadian masa lalu dinilai tidak lagi cukup tangguh untuk menghadapi ancaman iklim yang kini semakin kompleks dan sulit diprediksi. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi sejauh mana dampak iklim telah diintegrasikan ke dalam protokol darurat bandara serta menilai kesiapan infrastruktur dan kelembagaannya. Menggunakan metode tinjauan literatur sistematis berkerangka PRISMA, studi ini menelaah 68 dokumen terpilih dari 312 literatur yang bersumber dari basis data akademik terkemuka dan laporan lembaga penerbangan internasional pada periode 2015–2025. Berdasarkan analisis ditemukan empat isu utama, yakni rentannya fisik dan operasi bandara terhadap anomali cuaca, keterbatasan sistem ERP yang ada saat ini, kebutuhan akan kerangka manajemen krisis yang adaptif, serta berbagai hambatan di lapangan yang meliputi masalah regulasi, pendanaan, kapasitas sumber daya manusia, dan minimnya data cuaca beresolusi tinggi. Kajian ini juga menyoroti adanya pergeseran cara pandang dalam literatur, dari penanganan darurat yang sekadar reaktif menjadi tata kelola kedaruratan yang proaktif, berfokus pada peringatan dini, dan tangguh terhadap perubahan iklim. Pada akhirnya, studi ini menyimpulkan bahwa prosedur darurat bandara wajib diperbarui secara rutin dengan berpijak pada proyeksi iklim masa depan. Sebagai tindak lanjut, direkomendasikan perlunya penyusunan pedoman teknis berskala nasional, pemanfaatan teknologi digital untuk simulasi bencana, serta penyediaan skema pendanaan adaptasi yang pencairannya diikat langsung dengan pencapaian indikator kesiapsiagaan bandara.

Perubahan iklim telah mengubah sifat ancaman terhadap bandar udara dari kejadian langka berbasis historis menjadi risiko sistemik yang bersifat dinamis, majemuk, dan semakin sering terjadi.Prosedur tanggap darurat konvensional yang bersifat reaktif, terfragmentasi, dan berbasis skenario statis tidak lagi memadai untuk menjamin keselamatan operasional dan ketahanan infrastruktur.Sintesis literatur menunjukkan pergeseran paradigma menuju climate-resilient emergency management yang mengintegrasikan penilaian risiko proaktif, sistem peringatan dini terpadu, latihan skenario iklim masa depan, serta desain infrastruktur adaptif.Keberhasilan transisi ini sangat bergantung pada sinergi kebijakan, ketersediaan data resolusi tinggi, kapasitas kelembagaan, dan komitmen pendanaan jangka panjang.

1. Pengembangan kerangka climate stress-testing untuk menguji ketahanan ERP terhadap skenario kejadian majemuk. 2. Penelitian tentang pemanfaatan AI dan digital twin untuk pengambilan keputusan darurat real-time. 3. Penyusunan kerangka evaluasi kinerja ketahanan bandara yang terstandarisasi dan dapat dibandingkan secara internasional. Penelitian ini perlu menggabungkan analisis longitudinal efektivitas prosedur darurat berbasis iklim di berbagai konteks geografis, serta mengeksplorasi inovasi dalam pengelolaan risiko iklim melalui pendekatan berbasis data dan teknologi digital.

  1. Pertanggungjawaban BMKG atas Kesalahan Prakiraan Cuaca Ekstrem dalam Keselamatan Penerbangan | Journal... doi.org/10.47134/jcl.v1i3.3080Pertanggungjawaban BMKG atas Kesalahan Prakiraan Cuaca Ekstrem dalam Keselamatan Penerbangan Journal doi 10 47134 jcl v1i3 3080
  2. Impact of airport infrastructure investment on the growth of the Angolan economy: An Auto-Regressive... doi.org/10.3926/jairm.356Impact of airport infrastructure investment on the growth of the Angolan economy An Auto Regressive doi 10 3926 jairm 356
Read online
File size349.97 KB
Pages9
DMCAReport

Related /

ads-block-test