PUSDIKRA PUBLISHINGPUSDIKRA PUBLISHING

Khazanah : Journal of Islamic StudiesKhazanah : Journal of Islamic Studies

Integrasi kurikulum agama dan umum di pesantren modern sering kali memicu problem kepadatan beban akademis yang berdampak pada penurunan efisiensi belajar santri. Di sisi lain, arus digitalisasi menuntut pesantren untuk adaptif tanpa mendegradasi nilai spiritualitas aslinya. Model pembelajaran hibrida (hybrid learning) hadir sebagai jembatan metodologis yang potensial, namun evaluasi sistemik mengenai efektivitasnya di lembaga asrama religius masih terbatas. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi pustaka (library research). Data sekunder diperoleh melalui penelusuran pangkalan data ilmiah dari rentang tahun 2021–2026 yang mengkaji digitalisasi kurikulum pesantren. Data dianalisis menggunakan metode analisis isi (content analysis) dan analisis tematik melalui tahapan kondensasi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa formula ideal hybrid learning di pesantren modern menerapkan proporsi 70% sinkron fisik untuk kurikulum keagamaan dan pembiasaan akhlak, serta 30% asinkron digital untuk kurikulum sains-umum berbasis Learning Management System (LMS). Model ini efektif mengoptimalkan alokasi waktu sehingga mereduksi kepadatan jadwal santri, serta insentif melalui konstruktif budaya ketaatan memodifikasi elemen terhadap kiai. Model pembelajaran hybrid berbasis tata kelola internal efektif menjadi resolusi struktural yang mampu menyeimbangkan fleksibilitas luhur kepesantrenan tanpa memicu sekularisasi digital.

Model pembelajaran hybrid di pesantren modern berhasil mempertahankan keseimbangan identitas melalui pembagian ruang instruksional yang jelas.Formula ideal menunjukkan porsi 70% sinkron fisik dialokasikan khusus untuk kurikulum keagamaan esensial, kajian kitab kuning, dan pembentukan akhlak asrama.Sementara itu, 30% asinkron digital dimanfaatkan untuk efisiensi transfer kognitif kurikulum sains dan materi umum berbasis LMS.Hibridisasi kurikulum terbukti efektif secara sistemik berdasarkan kerangka Teori QAIT Robert Slavin, dengan peningkatan kualitas, personalisasi materi, dan pengurangan kepadatan jadwal.Model hibrida internal (berbasis intranet atau LMS pesantren terpusat) terbukti mampu menangkal dampak negatif disrupsi internet, memperluas kehadiran pengaruh kiai ke dalam ruang siber pesantren tanpa mendegradasi kedudukan spiritual kiai.

1. Penelitian lanjutan perlu mengkaji dampak infrastruktur digital terhadap efektivitas model pembelajaran hybrid di pesantren dengan berbagai tingkat ketersediaan teknologi. 2. Studi tentang mekanisme resistensi budaya terhadap integrasi teknologi di pesantren dapat menghasilkan strategi adaptasi yang lebih inklusif dan berbasis nilai. 3. Penelitian perlu mengembangkan indikator kinerja jangka panjang untuk mengevaluasi dampak model hybrid learning terhadap perkembangan keterampilan kritis dan kesehatan mental santri dalam lingkungan pesantren.

  1. HYBRID LEARNING MODEL IN MA’HAD ‘ALY UIN MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG | Taufiqurrochman |... doi.org/10.18860/abj.v9i1.26173HYBRID LEARNING MODEL IN MAAoHAD AoALY UIN MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG Taufiqurrochman doi 10 18860 abj v9i1 26173
Read online
File size288.43 KB
Pages12
DMCAReport

Related /

ads-block-test