ISI SURAKARTAISI SURAKARTA

OrnamenOrnamen

Celengan tanah liat merupakan salah satu wujud kerajinan tradisional yang masih banyak diminati di era modern ini. Celengan tanah liat menjadi salah satu bentuk gerabah yang tidak hanya memiliki nilai fungsional, tetapi juga memiliki nilai estetika dan simbolik. Penelitian ini bertujuan menganalisis estetika celengan tanah liat sebagai wujud kreativitas perajin Mayong Lor dalam konservasi kearifan lokal Jepara. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif jenis studi kasus yang meliputi observasi, wawancara, dan dokumentasi visual. Pengumpulan data dianalisis melalui model Miles & Huberman yang meliputi reduksi, penyajian, dan verifikasi. Berdasarkan hasil observasi menunjukkan perajin mengintegrasikan bentuk fauna berupa ayam dan kura-kura dengan menggunakan bahan dasar berupa tanah liat, serta melestarikan teknik cetak manual dan pembakaran tradisional. Estetika pada bentuk ayam terlihat pada tubuh, cengger ayam, dan ekor. Sedangkan, pada bentuk kura-kura terlihat pada tempurung, kepala dan leher, serta dua anak yang ada di atas punggung induknya. Kreativitas ini tidak hanya mempertahankan identitas budaya agraris, tetapi juga menciptakan produk edukatif dan marketable yang menjembatani generasi muda dengan warisan lokal di tengah maraknya globalisasi.

Estetika celengan tanah liat dari perajin Mayong Lor menunjukkan kreativitas inovatif dalam mengintegrasikan bentuk fauna seperti ayam dan kura-kura, yang secara efektif mempertahankan identitas budaya Jepara.Proses produksinya yang masih menggunakan teknik tradisional seperti cetak manual dan pembakaran tungku kayu tidak hanya melestarikan warisan material, tetapi juga menciptakan produk yang bernilai jual di tengah globalisasi.Dengan demikian, celengan tanah liat ini berfungsi sebagai media penting untuk konservasi kearifan lokal, edukasi generasi muda, serta menunjukkan adaptasi perajin yang relevan secara ekonomi dan budaya.

Meskipun penelitian ini telah berhasil mengidentifikasi estetika, kreativitas perajin, dan kontribusi celengan tanah liat dalam konservasi kearifan lokal Jepara, masih terdapat beberapa celah yang menarik untuk diteliti lebih lanjut demi keberlanjutan dan pengembangan kerajinan ini. Pertama, perlu adanya studi yang lebih mendalam mengenai bagaimana kerajinan celengan tanah liat Mayong Lor dapat memperluas jangkauan pasarnya secara efektif, baik melalui platform digital maupun kolaborasi dengan sektor lain, tanpa mengorbankan nilai estetika dan simbolik yang menjadi kekhasannya di tengah persaingan pasar global. Pertanyaan penelitian dapat diarahkan untuk menganalisis strategi pemasaran dan distribusi yang paling optimal agar produk ini tidak hanya dikenal secara lokal, tetapi juga mampu bersaing di tingkat nasional maupun internasional. Kedua, mengingat peran penting generasi muda dalam pelestarian warisan budaya, penelitian lanjutan dapat fokus pada identifikasi faktor-faktor pendorong dan penghambat minat generasi muda di Jepara untuk secara aktif terlibat dalam proses produksi kerajinan celengan, bukan hanya sebagai pengguna. Hal ini dapat mencakup analisis efektivitas program edukasi yang ada dan perumusan model pelatihan yang menarik bagi mereka di tengah gempuran industri modern, sehingga memastikan adanya regenerasi perajin. Ketiga, sebagai pengembangan dari kreativitas perajin yang sudah ada, studi di masa depan dapat mengeksplorasi potensi inovasi bentuk dan fungsi celengan tanah liat yang lebih luas, misalnya dengan memperkenalkan variasi material atau teknik finishing yang berbeda, seperti penggunaan glasir modern, sambil tetap mempertahankan esensi kearifan lokal Jepara. Ide ini dapat menyelidiki bagaimana celengan dapat diadaptasi untuk fungsi lain selain tempat menabung, atau bagaimana material lain dapat diintegrasikan secara harmonis tanpa menghilangkan karakter tradisionalnya.

Read online
File size556.25 KB
Pages13
DMCAReport

Related /

ads-block-test