UKINSTITUTEUKINSTITUTE

Nusantara Journal of Behavioral and Social ScienceNusantara Journal of Behavioral and Social Science

Perkembangan pesat media sosial, khususnya TikTok, telah meningkatkan kecenderungan perbandingan sosial pada dewasa awal. Konten berbasis algoritma sering menampilkan gambaran yang telah dikurasi mengenai kesuksesan, gaya hidup ideal, dan penampilan, yang dapat memengaruhi evaluasi diri pengguna. Pada masa dewasa awal, yang ditandai dengan eksplorasi identitas dan ketidakstabilan, paparan tersebut dapat berkontribusi pada tekanan psikologis, termasuk quarter-life crisis. Penelitian ini bertujuan untuk menguji perbandingan sosial sebagai predictor quarter-life crisis pada pengguna TikTok. Pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional digunakan pada 116 dewasa awal di Kota Bekasi yang dipilih melalui purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan skala perbandingan sosial dan quarter-life crisis yang memiliki kualitas psikometrik yang memadai. Analisis data dilakukan dengan regresi linear sederhana. Hasil menunjukkan bahwa perbandingan sosial berpengaruh signifikan terhadap quarter-life crisis (p < 0,001), dengan nilai R² sebesar 0,651, yang berarti 65,1% variasi quarter-life crisis dijelaskan oleh perbandingan sosial. Temuan ini menegaskan pentingnya literasi media dan regulasi diri untuk mengurangi dampak psikologis negatif.

Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa perbandingan sosial adalah predictor yang signifikan dari quarter-life crisis di kalangan pengguna TikTok dewasa awal.Analisis regresi menunjukkan bahwa perbandingan sosial menjelaskan 65,1% variasi dalam quarter-life crisis, yang menunjukkan peran pentingnya dalam membentuk pengalaman psikologis selama masa dewasa awal.Selain itu, hasil deskriptif menunjukkan bahwa baik perbandingan sosial maupun quarter-life crisis dikategorikan sebagai tinggi di antara peserta.Temuan ini menyarankan bahwa dewasa awal yang sering terlibat dalam perbandingan sosial cenderung mengalami tingkat yang lebih tinggi dari ketidakpastian, ketidakpuasan, dan tekanan psikologis terkait masa depan dan arah hidup mereka.Penelitian ini juga mendukung perspektif orientasi perbandingan sosial yang diusulkan oleh Gibbons dan Buunk (1999), yang menjelaskan bahwa individu berbeda dalam kecenderungan mereka untuk membandingkan diri dengan orang lain saat mengevaluasi kemampuan, prestasi, dan kemajuan pribadi mereka.Individu dengan orientasi perbandingan sosial yang lebih tinggi cenderung menggunakan informasi tentang orang lain sebagai referensi untuk mengevaluasi diri.Dalam lingkungan media sosial, kecenderungan perbandingan ini mungkin menjadi lebih sering terjadi karena platform media sosial secara terus-menerus menampilkan gambaran yang telah dikurasi tentang kesuksesan dan prestasi.Ketika individu melihat kesenjangan antara keadaan mereka saat ini dan standar yang ditampilkan secara sosial, mereka mungkin mengalami perasaan tidak cukup, ketidakpuasan, dan ketidakpastian tentang arah masa depan mereka.Temuan ini juga mendukung perspektif perkembangan yang diusulkan oleh Robbins dan Wilner (2001), yang menyatakan bahwa quarter-life crisis sering muncul ketika dewasa awal mulai mempertanyakan identitas, prestasi, arah karir, dan kesiapan mereka untuk tanggung jawab dewasa.Selama masa dewasa awal, individu umumnya mengalami tekanan perkembangan terkait pendidikan, pekerjaan, stabilitas finansial, dan hubungan interpersonal.Perbandingan sosial yang sering, terutama perbandingan ke atas, mungkin semakin memperburuk tekanan ini, terutama ketika individu merasa kurang sukses atau tertinggal dibandingkan dengan orang-orang yang ditampilkan di media sosial.Akibatnya, perbandingan sosial mungkin berfungsi sebagai mekanisme psikologis penting yang berkontribusi terhadap quarter-life crisis selama transisi menuju kedewasaan.

Berdasarkan hasil penelitian ini, ada beberapa saran penelitian lanjutan yang dapat dipertimbangkan. Pertama, penelitian dapat dilakukan untuk menyelidiki bentuk-bentuk perbandingan sosial yang berbeda, seperti perbandingan ke atas dan ke bawah, serta bagaimana bentuk-bentuk ini mempengaruhi quarter-life crisis. Kedua, penelitian longitudinal dapat dilakukan untuk memahami perkembangan quarter-life crisis secara lebih mendalam dan bagaimana perbandingan sosial berperan dalam perubahan ini. Ketiga, penelitian dapat berfokus pada strategi intervensi yang dapat membantu individu mengelola perbandingan sosial secara lebih sehat dan mengurangi dampak psikologis negatifnya. Penelitian ini dapat mengeksplorasi teknik-teknik seperti literasi media, regulasi diri, dan pengembangan pola pikir yang lebih realistis terhadap konten media sosial. Dengan demikian, penelitian lanjutan dapat memberikan wawasan lebih lanjut tentang bagaimana perbandingan sosial dapat dikelola dan dikurangi dampaknya pada quarter-life crisis di kalangan dewasa awal.

  1. Social Comparison and Quarter-Life Crisis in Generation Z: A Study of Instagram Users | Developmental... doi.org/10.15294/dcp.v6i1.31974Social Comparison and Quarter Life Crisis in Generation Z A Study of Instagram Users Developmental doi 10 15294 dcp v6i1 31974
  2. 0. 0 doi.org/10.1037/0022-3514.76.1.1290 0 doi 10 1037 0022 3514 76 1 129
  3. Quarter-Life Crisis in Generation Z Adults | Proceedings of International Conference on Psychology, Mental... proceedings.uinsa.ac.id/index.php/PMHRS/article/view/1135Quarter Life Crisis in Generation Z Adults Proceedings of International Conference on Psychology Mental proceedings uinsa ac index php PMHRS article view 1135
Read online
File size252.61 KB
Pages8
DMCAReport

Related /

ads-block-test