UIN SGDUIN SGD

Religious: Jurnal Studi Agama-Agama dan Lintas BudayaReligious: Jurnal Studi Agama-Agama dan Lintas Budaya

Kerusakan lingkungan alam merupakan cerminan dari terganggunya paru-paru bumi (Hutan) akibat dari sikap antroposentrik manusia yang mengeksploitasi secara berlebihan. Untuk menyeimbangkan lingkungan alam agar tidak semakin rusak yaitu menumbuhkan kembali perilaku atau etika manusia yang peduli terhadap lingkungan. Etika ini telah lama diterapkan di Kampung Naga yang mempunyai pandangan hidup secara alternatif mengenai hubungan manusia dengan lingkungan alam yang dianggap sakral. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran secara umum mengenai etika lingkungan di Kampung Naga dalam menjaga lingkungan alam. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif dengan pendekatan antropologis dan fenomenologis. Hasil dari penelitian ini yaitu masyarakat Kampung Naga memiliki etika lingkungan yang cukup intens dengan berpedoman pada nilai-nilai yang dirumuskan secara sistematis berdasarkan pada warisan nenek moyang (leluhur) yaitu warisan yang tampak dan warisan yang tidak tampak. Hal ini berdampak pada mitigasi (upaya mengurangi resiko) bencana di Kampung Naga seperti mencegah longsor dan banjir, terjaganya keutuhan sumber daya alam, terjaganya fungsi hutan yang merupakan paru-paru kehidupan, serta semua makhluk ekologis di wilayah adat tersebut telah sama-sama menaati etika yang disuguhkan oleh ekosentrisme atau deep ecology. Sehingga etika lingkungan di Kampung Naga mencerminkan hubungan ekologis yang seimbang.

Masyarakat Kampung Naga memiliki pemahaman etika lingkungan yang cukup intens dalam pemeliharaan lingkungan alam.Pemahaman etika lingkungan Masyarakat Kampung Naga berpacu pada nilai-nilai yang dirumuskan secara sistematis berdasarkan pada warisan nenek moyang mereka.Warisan nenek moyang tersebut digolongkan menjadi dua bagian, yaitu warisan yang tampak (tangible) dan warisan yang tidak tampak (intangible).Hakikatnya, pemeliharaan alam di Kampung Naga yang berdasarkan etika lingkungan yang khas tersebut mencerminkan hubungan ekologis yang seimbang.Implementasi dari hubungan ekologis tersebut berbuah manis dalam menjaga keseimbangan lingkungan alam.Dimana mitigasi (upaya mengurangi resiko) telah diterapkan pada kawasan bencana Kampung Naga seperti mencegah longsor dan banjir, terjaganya keutuhan sumber daya alam, terjaganya fungsi hutan yang merupakan paru-paru kehidupan, serta semua makhluk ekologis di wilayah adat tersebut telah sama-sama menaati etika yang disuguhkan oleh ekosentrisme atau deep ecology.

Berdasarkan hasil penelitian ini, beberapa saran penelitian lanjutan yang dapat dilakukan adalah: Pertama, penelitian lebih mendalam mengenai bagaimana masyarakat Kampung Naga menerapkan etika lingkungan dalam kehidupan sehari-hari dan bagaimana etika tersebut mempengaruhi perilaku mereka terhadap lingkungan. Kedua, penelitian tentang bagaimana masyarakat Kampung Naga mempertahankan dan melestarikan etika lingkungan mereka di tengah perubahan zaman dan pengaruh modernisasi. Ketiga, penelitian tentang bagaimana etika lingkungan Kampung Naga dapat diterapkan dan diadaptasi oleh masyarakat modern untuk menjaga lingkungan alam secara berkelanjutan.

Read online
File size313.62 KB
Pages13
DMCAReport

Related /

ads-block-test