UKIMUKIM

PATITA: Jurnal Teologi dan Pendidikan KristianiPATITA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani

Identitas melekat pada subjek, sehingga identifikasi publik terhadap individu atau kelompok dalam masyarakat akan selalu terjalin dengan identitas: dari mana asalnya? Apa agamanya, sukunya, dan jenis kelaminnya? Agama sebagai elemen identitas menjadi penting, terutama di Indonesia, mengakui Tuhan Yang Maha Esa sebagai dasar pertama Pancasila. Artikel ini bermaksud untuk menguraikan pembentukan identitas Kristen kontemporer yang berafiliasi dengan GPM sepanjang era kolonial dan pascakolonial di Maluku. Dengan demikian, penelitian ini memakai konsep hibriditas dari teori pascakolonial sebagai alat analisisnya. Metode genealogi digunakan dalam artikel ini untuk mengeksplorasi data historis-tekstual tentang GPM di era kolonial dan pascakolonial. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa identitas Kristen bersifat dialektis sesuai dengan dinamika konteks sosial, sehingga identitas tidak pernah membeku atau ditinggalkan.

Melalui pemaparan analitis terhadap perjalanan historis Gereja Protestan Maluku, hal yang dapat disimpulkan yakni identitas Kristen GPM alias Kristianitas GPM merupakan hasil negosiasi.Negosiasi yang dimaksud bukan dalam pengertian yang asimilasi-pasif saja, melainkan terakomodir di dalamnya juga asimilasi-aktif.Negosiasi identitas tidak hanya berkaitan dengan ancaman yang datang dari pihak luar (liyan), tetapi berkaitan juga dengan kehendak untuk berubah.Kehendak untuk berubah sangat penting karena dengan begitu negosiasi identitas tidak bersumber dari represi.Akan tetapi, negosiasi identitas yang dilakukan bersumber dari kebutuhan untuk mengidentifikasikan serta merepresentasikan diri secara terus-menerus dalam menyikapi proses perubahan sosial, budaya, dan politik di tengah masyarakat.Sedari awal artikel ini orang sudah pasti menerawang bahwa Kristianitas GPM tidak murni.Kristianitas GPM tidak hanya soal identitas religius.Kristianitas GPM juga adalah identitas politik, identitas kultural, dan identitas sosial, yang masing-masing dapat teridentifikasi berdasarkan segmen-segmen (konteks) historis tertentu.Dengan demikian, konstruksi Kristianitas GPM kontemporer ialah hibrid yakni Kristianitas yang seharusnya terbuka menerjang potensi-potensi perubahan masyarakat ke depannya tanpa mengabaikan esensi dari Kekristenan itu sendiri.Sama seperti kerelaan masyarakat pribumi Maluku memilih untuk menjadi Kristen karena ekaristi dianggap sejajar dengan tradisi secara esensial, perubahan atau negosiasi yang bersifat asimilatif-aktif juga sebaiknya jangan mengabaikan esensialitas secara subjektif pada diri kita sendiri.

Saran penelitian lanjutan yang baru adalah: . . 1. Menganalisis bagaimana identitas Kristen GPM terbentuk dan berubah dalam konteks sosial, budaya, dan politik yang dinamis di Maluku, dengan mempertimbangkan pengaruh-pengaruh kolonial dan pascakolonial.. . 2. Meneliti bagaimana identitas Kristen GPM mempengaruhi dan dipengaruhi oleh interaksi dengan kelompok-kelompok agama lain di Maluku, serta bagaimana identitas tersebut berperan dalam upaya-upaya perdamaian dan rekonsiliasi pasca-konflik.. . 3. Melakukan studi komparatif antara identitas Kristen GPM dengan identitas Kristen di daerah-daerah lain di Indonesia, untuk memahami karakteristik unik dan kesamaan-kesamaan yang mungkin ada, serta bagaimana identitas tersebut dibentuk oleh konteks lokal dan nasional.

Read online
File size813.57 KB
Pages12
DMCAReport

Related /

ads-block-test