DELIHUSADADELIHUSADA

Jurnal Penelitian KesmasyJurnal Penelitian Kesmasy

Tuberkulosis (TB) masih menjadi masalah kesehatan global yang signifikan dengan beban penyakit tinggi, terutama di negara berkembang seperti Indonesia. Kompleksitas pengelolaan TB memerlukan data yang akurat dan komprehensif untuk mendukung pengambilan keputusan klinis. Rekam medis dan sistem informasi kesehatan memiliki peran penting dalam menyediakan data pasien, namun pemanfaatannya sering tidak optimal karena masalah kualitas data, integrasi sistem, dan interoperabilitas terbatas. Studi ini menganalisis optimalisasi data rekam medis dalam mendukung pengambilan keputusan klinis untuk pasien TB melalui pendekatan literature review. Hasil menunjukkan bahwa rekam medis elektronik (EMR) dan sistem informasi kesehatan terintegrasi berkontribusi signifikan dalam meningkatkan akurasi diagnosis, pemantauan pengobatan, dan pengambilan keputusan klinis. Penggunaan teknologi seperti sistem pendukung keputusan klinis (CDSS), big data, dan kecerdasan buatan meningkatkan pemanfaatan data dan mendukung praktik klinis berbasis bukti. Namun, tantangan seperti data tidak lengkap, dokumentasi inkonsisten, dan keterbatasan interoperabilitas sistem masih ada. Implementasi sistem seperti Sistem Informasi Tuberkulosis (SITB) telah meningkatkan pelaporan dan manajemen kasus, meskipun integrasinya dengan EMR masih terbatas. Kesimpulan: optimalisasi data rekam medis penting untuk meningkatkan pengambilan keputusan klinis dalam pengelolaan TB. Penguatan kualitas data, peningkatan interoperabilitas sistem, dan pemanfaatan teknologi digital diperlukan untuk mendukung layanan kesehatan yang lebih efektif dan berbasis bukti, terutama di daerah dengan beban TB tinggi.

Pemanfaatan data rekam medis yang dioptimalkan memiliki peran penting dalam mendukung pengambilan keputusan klinis pada pasien tuberkulosis.Rekam medis elektronik dan sistem informasi kesehatan dapat menyediakan data yang lebih lengkap, akurat, dan terintegrasi, sehingga meningkatkan ketepatan diagnosis, pemantauan terapi, dan evaluasi hasil pengobatan.Namun, implementasi optimalisasi data rekam medis masih menghadapi tantangan seperti kualitas data yang tidak konsisten, fragmentasi sistem, dan keterbatasan sumber daya manusia serta infrastruktur teknologi.Di Indonesia, meskipun telah ada upaya pengembangan sistem seperti Sistem Informasi Tuberkulosis (SITB), pemanfaatannya belum optimal karena kendala teknis dan perbedaan kapasitas fasilitas pelayanan kesehatan.Diperlukan upaya strategis untuk meningkatkan kualitas dan pemanfaatan data rekam medis melalui integrasi sistem informasi kesehatan, peningkatan kapasitas tenaga kesehatan dalam pengelolaan data, serta pemanfaatan teknologi digital secara optimal agar sistem informasi kesehatan dapat berfungsi maksimal dalam mendukung pengambilan keputusan klinis berbasis bukti dan berkontribusi pada peningkatan kualitas pelayanan serta pengendalian tuberkulosis secara efektif.

Penelitian lanjutan dapat fokus pada pengembangan alat bantu kecerdasan buatan berbasis data rekam medis untuk meningkatkan akurasi diagnosis dini tuberkulosis. Selain itu, perlu dilakukan studi tentang standarisasi format data antar sistem informasi kesehatan guna mempercepat integrasi dan mengurangi duplikasi data. Penelitian lain bisa mengeksplorasi dampak literasi digital terhadap efektivitas pemanfaatan sistem informasi kesehatan di daerah dengan sumber daya terbatas, terutama di Indonesia. Ketiga saran ini bertujuan untuk mengatasi tantangan utama seperti kualitas data, interoperabilitas sistem, dan keterbatasan sumber daya yang disebutkan dalam artikel, sekaligus memperluas penerapan teknologi digital dalam pengendalian tuberkulosis.

Read online
File size232.91 KB
Pages7
DMCAReport

Related /

ads-block-test