STIKESMEDISTRA INDONESIASTIKESMEDISTRA INDONESIA

Jurnal Ayurveda Medistra: Jurnal Ilmiah KesehatanJurnal Ayurveda Medistra: Jurnal Ilmiah Kesehatan

Tanaman obat telah lama dimanfaatkan masyarakat Indonesia secara turun temurun dalam berbagai bentuk sediaan tradisional. Daun merupakan salah satu bagian tanaman yang paling banyak digunakan sebagai bahan baku obat herbal karena kaya akan senyawa metabolit sekunder seperti flavonoid, alkaloid, tanin, dan saponin. Untuk menjamin kualitas, keamanan, dan khasiat bahan baku obat tradisional, diperlukan proses standarisasi yang mengacu pada Farmakope Herbal Indonesia (FHI) dan Materia Medika Indonesia (MMI) melalui pengujian parameter spesifik dan non-spesifik. Tinjauan pustaka ini bertujuan untuk membandingkan dan menganalisis hasil uji parameter spesifik dan non-spesifik dari sepuluh jenis simplisia maupun ekstrak daun tanaman obat, yaitu Daun Kersen (Muntingia calabura L.), Daun Kawau (Millettia sericea), Daun Alpukat (Persea americana Mill.), Daun Kelor (Moringa oleifera), Daun Teratai (Nelumbium nelumbo D.), Daun Senggani (Melastoma malabathricum L.), Daun Matoa (Pometia pinnata JR & G.Forst), Daun Bidara (Ziziphus nummularia), Daun Gatal (Laportea decumana (Roxb.) Wedd), dan Daun Dandang Gendis (Clinacanthus nutans). Pencarian literatur dilakukan melalui database Google Scholar menggunakan kata kunci Ekstrak Daun, Spesifik, dan Non Spesifik, dengan kriteria jurnal yang diterbitkan antara tahun 2018 hingga 2025. Hasil review menunjukkan bahwa sebagian besar parameter spesifik yang meliputi organoleptik, skrining fitokimia, serta kadar sari larut air dan etanol telah memenuhi standar yang ditetapkan. Sementara itu, pada parameter non-spesifik yang mencakup kadar udara, susut pengeringan, kadar abu total, kadar abu tidak larut asam, cemaran logam berat, dan cemaran mikroba, sebagian besar hasil memenuhi persyaratan meskipun beberapa parameter pada tanaman tertentu masih melebihi batas yang dipersyaratkan. Tinjauan ini memberikan gambaran komprehensif mengenai rentang nilai standar mutu tanaman obat sekaligus menjadi acuan dalam pengembangan obat herbal terstandar di Indonesia.

Berdasarkan tinjauan literatur terhadap sepuluh jurnal yang mengkaji standarisasi mutu simplisia daun tanaman obat, diperoleh temuan sebagai berikut.Pertama, seluruh simplisia daun yang dikaji (Daun Kersen, Kawau, Alpukat, Kelor, Teratai, Senggani, Matoa, Bidara, Gatal, dan Dandang Gendis) teridentifikasi mengandung metabolit sekunder utama berupa flavonoid, saponin, dan tanin yang berpotensi memberikan aktivitas farmakologis sebagai antioksidan, antibakteri, dan antiinflamasi.Kedua, parameter spesifik berupa organoleptik pada seluruh simplisia menunjukkan ciri khas masing-masing tanaman, dengan bentuk ekstrak umumnya kental, warna bervariasi dari hijau hingga cokelat kehitaman, serta rasa pahit dan aroma khas yang dapat menjadi penanda identitas bahan baku.Ketiga, sebagian besar nilai parameter non-spesifik, meliputi kadar air, kadar abu total, kadar abu tidak larut asam, bobot jenis, cemaran logam berat, dan cemaran mikroba, telah memenuhi persyaratan yang ditetapkan oleh Farmakope Herbal Indonesia (FHI) dan Departemen Kesehatan RI.Keempat, ditemukan beberapa ketidaksesuaian, yaitu kadar abu total Daun Gatal sebesar 36,84% yang melampaui batas standar, susut pengeringan Daun Dandang Gendis sebesar 29,105% yang sangat tinggi, serta kadar air Daun Dandang Gendis sebesar 14,915% yang melebihi batas maksimal 10%, menyebabkan perlunya perbaikan pada proses pengolahan dan pengeringan simplisia.Kelima, metode ekstraksi maserasi dengan etanol terbukti paling banyak digunakan dan efektif dalam menghasilkan rendemen yang memadai serta mempertahankan kestabilan senyawa aktif.

Untuk penelitian lanjutan, disarankan melakukan standarisasi secara lebih lengkap dan seragam dengan mengacu pada seluruh parameter yang tercantum dalam Farmakope Herbal Indonesia (FHI), termasuk uji cemaran logam berat dan cemaran mikroba yang belum dilakukan secara menyeluruh pada semua tanaman yang dikaji. Selain itu, perlu dilakukan kajian pengaruh metode pengeringan dan ekstraksi terhadap nilai parameter mutu secara sistematis, mengingat variasi metode yang digunakan antarpeneliti cukup besar. Pengembangan studi juga direkomendasikan untuk menghubungkan hasil standarisasi simplisia daun dengan aktivitas biologis spesifik masing-masing tanaman, sehingga standarisasi data dapat langsung dimanfaatkan sebagai acuan dalam pengembangan Obat Herbal Terstandar (OHT) maupun fitofarmaka.

  1. Pengukuran Parameter Spesifik Dan Non Spesifik Ekstrak Etanol Daun Matoa (Pometia pinnata J.R & G.Forst)... jurnal-pharmaconmw.com/jmpi/index.php/jmpi/article/view/39Pengukuran Parameter Spesifik Dan Non Spesifik Ekstrak Etanol Daun Matoa Pometia pinnata J R G Forst jurnal pharmaconmw jmpi index php jmpi article view 39
  2. Uji Standarisasi Parameter Spesifik dan Nonspesifik serta Penetapan Kadar Total Fenolik Ekstrak Daun... doi.org/10.46799/JSA.V6I1.1622Uji Standarisasi Parameter Spesifik dan Nonspesifik serta Penetapan Kadar Total Fenolik Ekstrak Daun doi 10 46799 JSA V6I1 1622
Read online
File size246.78 KB
Pages8
DMCAReport

Related /

ads-block-test