ULUMUNAULUMUNA

UlumunaUlumuna

Proliferasi dawah di televisi swasta pasca-Suharto dianggap sebagai bagian dari komodifikasi Islam yang semakin meningkat, dengan sasaran kelas menengah Muslim sebagai pasar untuk keuntungan ekonomi. Kehadiran para pendakwah ini telah membentuk otoritas agama alternatif yang menantang dan bersaing dengan otoritas konvensional dari organisasi Islam seperti Nahdlatul Ulama atau Muhammadiyah dan lembaga pendidikan Islam seperti pesantren atau universitas Islam. Sejak tahun 2010, gerakan dawah Salafi telah menantang dominasi ini dengan menyediakan konten dawah yang berfokus pada pendidikan umat Muslim untuk menjadi lebih taat. Artikel ini berusaha menjawab bagaimana gerakan dawah Salafi berusaha mendominasi ruang publik Islam di negara ini dan menghadapi persaingan dengan otoritas agama lainnya melalui program dawah di televisi. Disimpulkan bahwa munculnya otoritas Salafi melalui program dawah di televisi telah menantang dominasi dawah arus utama Nahdlatul Ulama atau Muhammadiyah di ruang publik Indonesia.

Penampilan program dawah Salafi di stasiun televisi swasta merupakan hal baru, mengingat Salafisme umumnya menghindari platform media komersial.Para pengikut Salafi lebih suka mengatur media sendiri untuk dawah, seperti media cetak, radio, dan saluran televisi komunitas.Mereka menganggap media komersial dapat merusak dawah dan mencampuradukkannya dengan tujuan materi.Rodja TV, salah satu stasiun televisi komunitas Salafi di Indonesia, melihatnya secara berbeda.Pendiri Rodja TV melihat stasiun televisi swasta nasional sebagai peluang untuk dawah mereka dan untuk menghapus praktik Islam yang menyesatkan.Mereka membawa program mereka ke stasiun televisi swasta nasional, Trans7 dan TransTV, di mana mereka mengoreksi sebagian besar ritual Muslim yang dipraktikkan oleh pengikut Nahdlatul Ulama.Mereka juga menyebarkan pesan anti-Syiah melalui televisi.Akibatnya, konflik antara produser atau pendakwah program dawah Salafi di Trans7 dan TransTV dengan Nahdlatul Ulama dan pemimpin Syiah tidak dapat dihindari.Konflik ini menunjukkan kontestasi otoritas agama di antara mereka untuk memperoleh legitimasi dan mewakili Islam yang setia.Nahdlatul Ulama dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) melihat kehadiran Salafisme di Trans7 sebagai tidak dapat diterima karena ideologi dan agenda mereka bertentangan dengan ideologi negara Indonesia.Dawah Salafi di televisi menjadikan agenda mereka sebagai diskursus utama di televisi swasta, sejalan dengan peningkatan dawah mereka di masyarakat.Rodja TV menarik perhatian produser program di Trans7, yang kemudian menjadi pintu masuk bagi pendakwah Salafi untuk mendominasi produksi program dawah di Trans7.

Saran penelitian lanjutan yang diusulkan adalah: (1) Menganalisis lebih lanjut bagaimana Salafi menggunakan media televisi untuk menyebarkan ideologi dan agendanya, serta dampak sosial dan budaya dari strategi ini. (2) Meneliti peran dan pengaruh produser program televisi dalam memfasilitasi kehadiran Salafi di televisi nasional, serta implikasi etis dan sosial dari keputusan mereka. (3) Memeriksa bagaimana konflik antara Salafi dan organisasi Islam lainnya, seperti Nahdlatul Ulama dan Syiah, mempengaruhi pemahaman umat Islam tentang agama dan identitas mereka sendiri. Penelitian ini dapat memberikan wawasan tentang bagaimana media televisi membentuk diskursus agama dan kontestasi otoritas di Indonesia.

Read online
File size867.51 KB
Pages29
DMCAReport

Related /

ads-block-test