UBUB

Studi Budaya NusantaraStudi Budaya Nusantara

Populernya tren fahion Berkain Bersama di masyarakat yang dipelopori oleh Swara Gembira membawa tantangan tersendiri bagi terjadinya komodifikasi wastra batik. Berkain merupakan penggunaan balutan wastra nusantara seperti batik dalam kreasi busana modern. Penelitian ini akan membahas mengenai KCBI Cabang Bandung sebagai komunitas berkain yang tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk melihat praktik berkain dan respons komunitas terhadap berbagai bentuk komodifikasi seiring berkembangnya tren Berkain Bersama. Menggunakan metode kualitatif pendekatan studi kasus, data diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif dan digital, serta dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktik berkain komunitas adalah menggunakan batik sebagai bawahan pengganti celana maupun rok dengan berpegang teguh pada tiga pakem tradisional berkain batik yang telah ada secara turun temurun. Pakem difungsikan sebagai strategi pertahanan untuk menjaga orisinalitas batik dari komodifikasi. Bentuk komodifikasi batik dalam tren Berkain Bersama terlihat dari penggunaan batik printing yang ditolak penggunaannya di dalam komunitas. Begitu pula dengan bentuk komodifikasi lainnya, yakni modifikasi wastra batik menjadi empat model bergaya kalcer yang urung diadopsi, karena pertimbangan usia dan komitmen teguh pada pakem.

Praktik berkain yang dijalankan oleh KCBI Cabang Bandung memiliki ciri khas yang konsisten, yaitu menjadikan wastra batik hanya sebagai bawahan pengganti rok maupun celana.Praktik berkain dijalankan berdasarkan tiga pakem tradisional yang dipegang teguh oleh seluruh anggota, yakni wastra batik dililit tanpa dipotong atau dijahit, arah lilitan dari kiri menuju kanan, dan wiru berjumlah ganjil.Pakem-pakem tersebut bukan hanya sekedar aturan berkain, tetapi juga difungsikan sebagai benteng pertahanan komunitas terhadap tantangan komodifikasi yang terus berkembang seiring berkembangnya tren Berkain Bersama.Bentuk-bentuk komodifikasi dalam tren Berkain dapat dilihat dari penggunaan batik printing serta modifikasi wastra batik agar sesuai dengan identitas pemakainya.KCBI Cabang Bandung memilih untuk tidak mengikuti gaya kalcer tersebut karena memodifikasi cara berkain berarti melanggar pakem yang selama ini dijaga.Bagi komunitas, tujuan berkain murni berakar pada apresiasi terhadap batik sebagai karya seni leluhur dan penghargaan terhadap para pengrajin lokal, bukan karena gaya hidup, penanda status sosial, ataupun dorongan tren.

Penelitian lanjutan dapat mengeksplorasi dampak media sosial terhadap perubahan praktik berkain tradisional, terutama dalam konteks generasi muda. Selanjutnya, studi bisa membandingkan pendekatan komunitas lain dalam menjaga orisinalitas wastra batik di tengah tren komodifikasi. Terakhir, penelitian bisa menggali perbedaan antara nilai budaya tradisional dan kebutuhan estetika modern dalam konteks adaptasi wastra batik untuk keperluan fashion kontemporer.

  1. Tren Fashion Berkain Bersama, Tantangan Komodifikasi Wastra Batik: Studi pada KCBI Cabang Bandung | Studi... doi.org/10.21776/ub.sbn.2026.010.01.05Tren Fashion Berkain Bersama Tantangan Komodifikasi Wastra Batik Studi pada KCBI Cabang Bandung Studi doi 10 21776 ub sbn 2026 010 01 05
  2. Padu Padan Wastra Indonesia Pada Kreativitas Gen Z | CandraRupa : Journal of Art, Design, and Media.... doi.org/10.37802/candrarupa.v2i1.324Padu Padan Wastra Indonesia Pada Kreativitas Gen Z CandraRupa Journal of Art Design and Media doi 10 37802 candrarupa v2i1 324
  3. Commodification of Betawi culture of Palang Pintu festival | Informasi. betawi culture palang pintu festival... doi.org/10.21831/informasi.v52i1.48825Commodification of Betawi culture of Palang Pintu festival Informasi betawi culture palang pintu festival doi 10 21831 informasi v52i1 48825
Read online
File size403.64 KB
Pages15
DMCAReport

Related /

ads-block-test