PURIFIKASIPURIFIKASI

Jurnal PurifikasiJurnal Purifikasi

Kualitas udara dalam ruangan penting karena berkaitan dengan kesehatan manusia. Salah satu faktor yang dapat memengaruhi kualitas udara dalam ruangan adalah ventilasi dan aktivitas penghuni. Kualitas udara yang buruk dapat menyebabkan masalah pernapasan dan sindrom bangunan sakit. Salah satu polutan berbahaya yang memengaruhi kesehatan manusia adalah PM2.5. Studi ini bertujuan untuk mengevaluasi kualitas PM2.5 dalam udara dalam ruangan terhadap standar kualitas dan menentukan ventilasi serta aktivitas penghuni yang memengaruhi konsentrasi PM2.5. Data primer diperoleh melalui pengukuran dan kuesioner. Sebelas rumah (11) diambil sampel pada 2 hari kerja dan 1 akhir pekan. Pengukuran konsentrasi PM2.5 dilakukan di dalam dan di luar ruangan. Hasil kemudian dianalisis menggunakan analisis regresi linear berganda melalui SPSS. Konsentrasi PM2.5 di dalam dan di luar ruangan memiliki korelasi sedang hingga kuat karena aktivitas pembukaan jendela. Waktu penggunaan kipas berpengaruh signifikan terhadap penurunan konsentrasi partikel halus. Jumlah furnitur juga merupakan salah satu faktor yang meningkatkan konsentrasi partikel halus. Aktivitas pembukaan jendela memiliki dua efek, dapat meningkatkan atau menurunkan konsentrasi. Penelitian lanjutan diperlukan untuk mengamati pembukaan jendela untuk memastikan hasil studi ini.

Artikel ini membahas faktor ventilasi dan aktivitas penghuni yang dapat memengaruhi konsentrasi PM2.5 di dalam ruangan di area industri dan tepi jalan.Studi ini menunjukkan bahwa terdapat korelasi antara konsentrasi dalam ruangan dan luar ruangan yang disebabkan oleh aktivitas pembukaan jendela.Konsentrasi polutan tinggi dari luar dapat masuk ke dalam ruangan melalui celah atau retak bangunan yang merupakan faktor penyebab peningkatan konsentrasi udara dalam ruangan.Hasil model regresi membuktikan bahwa aktivitas manusia adalah faktor penyebab peningkatan polutan dalam ruangan.Dapat disimpulkan bahwa kelembapan, suhu, jumlah kipas, penggunaan kipas, dan jumlah furnitur secara signifikan memengaruhi konsentrasi PM2.Efek variabel jumlah AC, penggunaan kipas ekhaustor, frekuensi pembersihan rumah, dan bahan bakar memasak ditemukan di rumah-rumah yang berada di area industri.Sementara jumlah kamar dan persentase pembukaan jendela memengaruhi konsentrasi PM2.5 di rumah-rumah di area tepi jalan.Kami juga menemukan bahwa variabel pembukaan jendela, penggunaan AC, aktivitas memasak, dan aktivitas merokok di rumah-rumah yang tinggal di dua area memiliki efek invers.

Penelitian lanjutan dapat fokus pada pengaruh jangka panjang strategi ventilasi berbeda terhadap konsentrasi PM2.5 di rumah-rumah perkotaan. Selain itu, studi tentang peran teknologi rumah pintar dalam memantau dan mengoptimalkan kualitas udara dalam ruangan juga relevan, terutama dengan penggunaan sensor IoT untuk mengotomatisasi sistem ventilasi berdasarkan tingkat polusi. Terakhir, penelitian dapat mengeksplorasi dampak program edukasi komunitas terhadap perubahan perilaku penghuni dalam mengurangi paparan PM2.5 melalui praktik seperti penggunaan peralatan memasak berbasis LPG dan pengelolaan kebersihan rutin. Ketiga arah penelitian ini dapat mengembangkan solusi berbasis teknologi dan pendidikan untuk meningkatkan kualitas udara dalam ruangan secara berkelanjutan.

Read online
File size231.82 KB
Pages9
DMCAReport

Related /

ads-block-test