PPICURUGPPICURUG

Langit Biru: Jurnal Ilmiah AviasiLangit Biru: Jurnal Ilmiah Aviasi

Komunikasi antara petugas lalu lintas udara (ATC) dan pilot sangat penting untuk keselamatan penerbangan dan efisiensi operasional. Sistem komunikasi Very High Frequency (VHF) mendukung komunikasi udara-ke-bumi, dengan modul Interface and Management Card (IMC) mengelola peralihan otomatis antara pemancar utama dan cadangan. Studi ini menganalisis kinerja modul IMC dalam sistem radio VHF OTE DT100 berdasarkan standar Kinerja Komunikasi yang Diperlukan (RCP) 60, dengan fokus pada kontinuitas dan ketersediaan. Pendekatan campuran digunakan, menggabungkan observasi lapangan selama pelatihan di tempat kerja (OJT) di Bandara Internasional Minangkabau, wawancara dengan teknisi komunikasi, dan analisis log kerusakan serta catatan downtime. Kontinuitas dinilai berdasarkan interupsi komunikasi tak terduga, sedangkan ketersediaan dihitung dari waktu operasional sistem relatif terhadap waktu operasional total. Hasil menunjukkan bahwa kerusakan IMC mengurangi ketersediaan sistem di bawah persyaratan minimum RCP 60 dan meningkatkan interupsi kontinuitas selama peralihan pemancar, yang berpotensi merusak kinerja komunikasi operasional.

Studi kasus ini mengevaluasi dampak kinerja modul Interface and Management Card (IMC) dalam sistem komunikasi aeronautika VHF berdasarkan harapan standar Kinerja Komunikasi yang Diperlukan (RCP) 60.Analisis menunjukkan bahwa kegagalan mekanisme peralihan otomatis dapat sementara mengurangi ketersediaan dan kontinuitas sistem di bawah ambang batas normatif RCP 60.Meskipun ATC dapat mempertahankan operasi melalui mitigasi manual menggunakan radio portabel, ketiadaan redundansi otomatis menyebabkan interupsi tak terjadwal yang meningkatkan beban kerja pengendali dan potensi keterlambatan komunikasi.Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan yang harus dikenali.Analisis dibatasi pada satu fasilitas bandara dan satu konfigurasi sistem VHF, yang membatasi generalisasi temuan.Selain itu, wawancara kualitatif didasarkan pada jumlah teknisi terbatas, dan penilaian kinerja bergantung pada catatan kerusakan dan downtime historis, bukan pengujian eksperimental terkontrol atau pemantauan jangka panjang.Penelitian masa depan sebaiknya memperluas cakupan investigasi dengan memasukkan beberapa fasilitas bandara, produsen sistem VHF berbeda, dan periode observasi yang diperpanjang untuk memungkinkan analisis perbandingan dan longitudinal.Studi lanjutan juga mungkin mengintegrasikan pemodelan keandalan kuantitatif, simulasi kinerja redundansi, atau pemantauan real-time parameter RCP untuk lebih akurat menggambarkan kinerja komunikasi di bawah kondisi operasional dan lingkungan yang bervariasi.

Penelitian lanjutan dapat mengeksplorasi dampak kinerja modul IMC di berbagai bandara dengan kondisi lingkungan dan beban operasional yang berbeda, serta menguji efektivitas pendekatan pemeliharaan preventif terhadap kerusakan akibat penuaan perangkat. Selain itu, studi tentang integrasi teknologi pengelolaan redundansi otomatis yang lebih canggih, seperti sistem pemantauan real-time atau algoritma prediktif, dapat membantu meningkatkan kontinuitas dan ketersediaan komunikasi udara-ke-bumi. Terakhir, penelitian kualitatif lebih mendalam tentang pengalaman teknisi dalam menangani kerusakan IMC di berbagai lokasi dapat memberikan wawasan tentang tantangan operasional dan solusi yang relevan dengan kebutuhan industri.

Read online
File size478.52 KB
Pages8
DMCAReport

Related /

ads-block-test