IAILMIAILM

Mutawasith: Jurnal Hukum IslamMutawasith: Jurnal Hukum Islam

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan membandingkan kinerja keuangan antara perbankan syariah (BUS) dan perbankan konvensional (BUK) di Indonesia periode 2018–2023, dengan fokus pada profitabilitas, efisiensi operasional, manajemen risiko kredit, kecukupan modal, dan likuiditas. Penelitian menggunakan metode kuantitatif komparatif dengan analisis data sekunder yang bersumber dari Statistik Perbankan Syariah (SPS) dan Statistik Perbankan Indonesia (SPI) OJK berbagai edisi serta literatur akademik terkait. Sampel terdiri dari 10 Bank Umum Syariah dan 10 Bank Umum Konvensional dengan aset tertinggi yang dipilih melalui purposive sampling. Data dianalisis menggunakan statistik deskriptif dan analisis komparatif berdasarkan rasio-rasio keuangan utama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbankan konvensional lebih unggul dari perbankan syariah pada seluruh dimensi yang dianalisis secara rata-rata periode 2018–2023: ROA 2,20% berbanding 1,69%, BOPO 79,82% berbanding 83,64%, NPL/NPF 2,73% berbanding 2,92%, dan CAR 24,84% berbanding 21,67%. Namun, temuan penting adalah adanya tren perbaikan signifikan pada perbankan syariah pasca merger pembentukan Bank Syariah Indonesia (BSI) tahun 2021, di mana pada sub-periode 2022–2023 perbankan syariah berhasil mencatat NPF (2,27%–2,42%) yang lebih rendah dari NPL perbankan konvensional (2,49%–2,78%), serta mencapai BOPO terbaik sepanjang sejarah sebesar 77,28% pada 2022 yang melampaui efisiensi perbankan konvensional.

Berdasarkan analisis komparatif kinerja keuangan perbankan syariah dan konvensional di Indonesia periode 2018–2023 menggunakan data OJK, hasil penelitian menunjukkan bahwa perbankan konvensional (BUK) secara rata-rata lebih unggul pada seluruh dimensi yang dianalisis.Namun demikian, temuan penting yang perlu dicatat adalah adanya tren perbaikan yang sangat signifikan pada BUS pasca merger Bank Syariah Indonesia (BSI) tahun 2021, di mana pada sub-periode 2022–2023 BUS berhasil mencatat NPF (2,27%–2,42%) yang lebih rendah dari NPL BUK (2,49%–2,78%), BOPO 2022 (77,28%) yang lebih efisien dari BUK (76,91%), dan ROA 2022 (2,05%) yang mendekati ROA BUK (2,32%).Perbedaan kinerja ini dipengaruhi oleh faktor skala ekonomi, beban dual regulation, keterbatasan diversifikasi produk, dan rendahnya literasi keuangan syariah.Ke depan, akselerasi digitalisasi, penguatan konsolidasi industri, dan pengembangan SDM menjadi prioritas utama agar BUS dapat mempertahankan tren positifnya dan bersaing lebih kompetitif dengan BUK dalam menciptakan sistem keuangan yang inklusif dan berkelanjutan di Indonesia.

Penelitian lanjutan dapat fokus pada dampak jangka panjang dari merger Bank Syariah Indonesia (BSI) terhadap inovasi produk dan kepuasan nasabah. Selain itu, studi tentang peran teknologi digital dalam meningkatkan efisiensi operasional perbankan syariah perlu dikembangkan, mengingat potensi pertumbuhan sektor ini. Terakhir, penelitian komparatif antara perbankan syariah di Indonesia dengan negara lain yang memiliki regulasi serupa bisa memberikan wawasan baru tentang adaptasi global dan tantangan spesifik Indonesia.

  1. Welcome. welcome loading e-journal.trisakti.ac.id/index.php/jet/article/view/17944Welcome welcome loading e journal trisakti ac index php jet article view 17944
  2. ANALISIS PERBANDINGAN KINERJA KEUANGAN BANK SYARIAH DENGAN BANK KONVENSIONAL YANG TERDAFTAR DI BURSA... doi.org/10.30996/jem17.v5i2.4610ANALISIS PERBANDINGAN KINERJA KEUANGAN BANK SYARIAH DENGAN BANK KONVENSIONAL YANG TERDAFTAR DI BURSA doi 10 30996 jem17 v5i2 4610
Read online
File size287.29 KB
Pages14
DMCAReport

Related /

ads-block-test